Lima putaran, Bintaro Loop yang terkenal itu, total sejauh 60K telah ditempuh, 10 jam kurang lima setengah menit sejak start jam 2 siang tadi. Sabtu tengah malam, pukul 23 lewat 54 menit, 4 Mei 2024. Lega berhasil memenuhi target pribadi pertama. (Déjà vu, setelah enam tahun lalu menempuh rute dan jarak yang sama, berteman erangan kesakitan tak bersuara dari ujung kaki hingga kepala.) Hanya saja, kali ini masih tersedia 12 jam sampai Minggu besok tepat pukul 12 siang cut-off-time, masih tersisa lima putaran berikutnya yang sama, naik turun dua fly-over di ujung satu dan ujung lainnya yang sama, 60K yang sama yang masih harus dilalui.
Harus?

Ada keraguan soal kata “harus” itu. Ada terselip secuil penyesalan, kenapa sih tidak cukup daftar 60K saja. Ada suara kecil mengiba untuk sudahi saja, toh target (pertama) tadi sudah tercapai. Konon, “the voice in your head that says that you can’t do this is a liar”. Tengah malam di atas trotoar beton lebar Bintaro, lengang setelah ditinggalkan keramaian warga sore hingga malam tadi, di antara gundukan sunyi rumput subur jauh memanjang dan jalan aspal dengan sesekali lalu lalang kendaraan, berteman udara lembab gerah tak berangin dan kaus lari basah kuyup, kaus ketiga. Masih sanggup berlari sepotong-sepotong, disertai kombinasi “power-walk”. Sepi dan sendiri.
Sendiri?

I started talking to myself. Beneran, ngomong-sendiri. Kan sepi sendirian. Berbisik, pastinya tidak sampai berteriak, belum segila itu. (“There is something magical about running; after a certain distance, it transcends the body. Then a bit further, it transcends the mind. A bit further yet, and what you have before you, laid bare, is the soul.” ~ Kristin Armstrong). Kecuali, tentu saja, ketika melewati satu-dua pasangan yang masih belum selesai ber-Malam Minggu duduk-duduk di gundukan rumput dan di atas motor, atau kerumunan-kerumunan kecil anak-anak muda yang nongkrong di trotoar, aku membatin, “Lanjutin di depan aja nanti Nick, pas gak ada orang, tahan sedikit ketidakwarasannya”.
Ketidakwarasan?

Mungkin itu suatu kewarasan. Salah satu cara memotivasi diri, mencari kesibukan lain, menemani lelah dan menghindari kantuk. Mempertebal motivasi diri, setelah mendapat bonus suntikan semangat pesan-pesan “ganbate” di HP yang tadi sempat diintip saat mengganti kaus basah di race-centre. Lantas mengingat-ingat kembali kapan terakhir kali mengikuti race-ultra-marathon. Sebuah “kerinduan”, menjalani proses jatuh perlahan ke titik terendah fisik dan mental. (Dalam remang lampu jalan, satu dua daun rontok melayang gugur ke trotoar). Lalu bertahan, tetap bertahan, dan terus bertahan, hingga menyelesaikan sang perjalanan. Sebentuk “self-test” untuk paham, dengan berlalunya waktu, bertambahnya usia, apakah masih mampu.
Mampu?

Angka-angka bermain di kepala, menghitung waktu tersisa dan kecepatan laju kaki. Tidak banyak waktu untuk bersantai apalagi beristirahat, mengganti kaus basah sekali lagi pun dikalkulasi waktunya. Mampir di water station yang tersedia setiap 3K, plus beberapa tambahan water station volunteer, hanya sekejap untuk kembali melaju. Tetap menjaga kecepatan bergerak, berjalan dan berlari, sambil berharap paha dan betis yang mulai mengeras masih tetap bersahabat dengan tuannya. Mengingat Haruku Murakami, “Pain is inevitable. Suffering is optional”. Mengarungi trotoar, bahu jalan, persimpangan, dan fly-over. Melintasi tiang-tiang lampu jalanan, papan-papan reklame, resto dan kafe yang telah tutup. Membalas sapaan marshall penjaga yang setia luar biasa, membalas tawaran ramah teman-teman baik hati di water station dan race centre, membalas teriakan sambil melaju para pengendara motor, “Semangat!”.


Satu minggu sebelumnya…

Berlari turun dari “Kenteng Songo”, puncak Merbabu (3.142 mdpl), aku mengayun cepat langkah kaki, membentangkan lebar kedua tangan, melayang, inginnya terbang. “If you can’t fly, then run…”

Merbabu SkyRace, Minggu 28 April 2024 adalah lomba mendaki puncak gunung -jenis vertical trail run- yang sebenarnya bukanlah race favoritku. Karena kemampuan pas-pasan, rasanya tidak cukup waktu untuk menikmati gunung -pemandangannya, jalurnya, anginnya, kabutnya, dinginnya, atmosfernya, keheningannya- hanya mendaki-melintas, mengejar puncak untuk segera turun-melintas mengejar finish-line. Ada pemberontakan kecil di dada, apa boleh buat, jiwa pecinta alamnya masih terukir lekat.

Hanya saja, keseluruhan “perjalanan wisata” ini tampaknya menjanjikan keceriaan, dan kulineran. Bersama rombongan teman-teman pelari melakukan perjalanan darat dari Jakarta ke Ngablak, Magelang, seluruhnya dengan kategori yang sama, 20K. Baiknya lagi, saat lomba, pendakian tidak membuat “setengah-mati-ngosngosan” dan mampu “finish-masih-strong”, dengan waktu tempuh nyaman, setengah jam lebih di bawah cut-off-time 9 jam.

Kembali ke Jakarta, satu dua hari kemudian -belum fully recovery, pergelangan kaki masih sedikit bengkak- malah memberi dorongan untuk memutuskan -akhirnya, setelah minggu-minggu dan hari-hari sebelumnya sudah bertekad untuk absen, “manusia adalah makhluk plinplan!”- mendaftar 120K BinLoop. Tentunya berkat kebaikan hati Si-Empunya-Gawe Om Eka yang masih bersedia menerima, dan bantuan spontan Babab.

Que sera sera, whatever will be will be…


Aku menantikan matahari. Aku mengenalnya, seperti halnya dia mengenalku. Energinya yang telah mengalir selama belasan miliar tahun, energinya yang menggerakkan bumi dan seluruh alam semesta, energinya yang selalu menunggu kelahiranku demi kelahiranku, yang terus menyertaiku, pun selama lima puluh lima tahun terakhir hidupku saat ini. Dan ketika sinar pertamanya jatuh, aku hidup kembali.

Warga bercengkerama, berjalan dan berlari, di trotoar dan bahu jalan Binloop. Ritual Minggu pagi di bawah pandangan sang penguasa terbesar, tercerah, terpanas di semesta kita. Ketika pagi bergerak perlahan menuju siang, satu per satu mereka bubar. Sementara aku masih terus bergerak, berjalan dan berlari. Hingga akhirnya melintasi garis finish, BinLoop Ultra 120K. Tiga puluh dua menit menjelang matahari tepat di atas kepalaku.

Dan aku masih akan terus berlari dan berjalan. Bergerak. Bersama matahari.

BinLoop Ultra 120, 05052024

NH

Nicky Hogan's avatar
Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.