Sang Waktu adalah ibu dari kesabaran, yang dititipkannya pada sapa ramah warga dan klakson para pengendara, pada teriak semangat anak-anak dan lolong anjing tengah malam, pada debu kemarau kering dan bunga merah cerah pohon sepe, pada bulan yang setia dan terik sinar matahari, pada malam yang gerah dan siang laksana neraka, pada aspal panas jalan dan guyuran air es dingin, pada kucuran keringat lelah dan jeritan otot-otot kaki, pada titik nadir putus asa dan tetes air mata tabah.
(“Apa Yang Diajarkan Lari Kepadamu?”)
Anne menangis. Gluteus, panggul dan pinggul, yang sakit memaksa pelari yang biasanya ceria itu tidak bisa berlari, atau bahkan untuk sekadar berjalan cepat (power walk). Hanya mampu berjalan. Masih sekitar 30 kilometer dari total 108K, dari Soe sampai Kupang, Nusa Tenggara Timur, Jelajah Timur 2023, charity-run untuk penyediaan fasilitas air bersih, yang harus ditempuh. Bersama terik matahari pagi-siang bulan Oktober, bersama lintasan datar-naik-turun, bersama jalanan aspal dan beton yang memanggang. Bersama lelah dan kantuk sejak start sore sebelumnya. Bersama air mata tabah…
“Hati adalah emas”.
Tujuh belas Januari 2025. Pagi pukul enam. Menempuh jalanan rusak berbatu dan tanah-lumpur, naik turun, dan longsor parah yang memaksa melanjutkan dengan berjalan kaki, dari Desa Naileu, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT, ke Desa Boti, untuk sebuah kunjungan singkat. Perbincangan ringan bersama Raja Boti di desanya yang terpencil namun terawat rapih, rindang dan asri, di kediamannya di “Boti Dalam”. Desa yang konsisten menjaga kepercayaan dan ketuhanannya. (Cerita: Kalaulah ada pencuri -setandan pisang misalnya- di desa ini, maka Raja akan memanggil seluruh warga, dan warga akan bersama-sama mengumpulkan pisang dan hasil-hasil kebun lain untuk diberikan kepada sang pencuri, yang diyakini melakukan tindakannya karena berkekurangan.)
“Tuhan ada di dalam hati”.
“Tuhan telah mendengar dan mengabulkan doa kita…”, suara bapak kepala sekolah merangkap guru itu tercekat. Lalu terisak. Air mata mengalir dari balik kacamatanya. Lelaki paruh baya itu mengerti persis bahwa mulai hari itu, anak-anak didiknya -terutama anak-anak perempuan- tidak perlu lagi pagi-pagi buta berjalan sekian kilometer, lalu menuruni jurang terjal -dengan kemiringan enam puluh derajat- ke sumber mata air untuk mengambil air bersih di wadah jerigen, di kedua tangan mungil dan di atas kepala. Siang itu, tanggal 17 Januari 2025, Desa Naileu telah resmi memiliki fasilitas air bersih -untuk mandi, cuci dan minum- yang mengalir dari sumber mata air ke pemukiman warga.
Demikian juga di Desa Besnam. Desa yang harus ditempuh sekitar dua jam dari jalan mulus lintas provinsi melalui jalan berbatu yang terus menerus mengguncang isi perut dan membenturkan kepala ke jendela mobil, warganya berkumpul bersuka cita, dan menari tebe, sore-malam itu. “Kearifan lokal” menggali “kubangan” -yang juga umumnya dilakukan oleh anak-anak perempuan- di pinggir sungai -yang jaraknya dalam hitungan kilometer dari pemukiman- lantas masih harus menunggu sekitar tiga puluh menit untuk mendapatkan “air bersih” telah “digantikan”. Di hari yang sama, telah “diresmikan dan diberkati” fasilitas air bersih, dengan dibuatkannya sumur sadapan, “kolam reservoir besar”, yang akan terus menerus mengalirkan air ke pemukiman warga.
Seorang lelaki tua menyeruak kerumunan, di depan bak penampungan air, sesaat setelah peresmian di Desa Naileu. Dia membuka keran air, mendekatkan mulutnya ke air yang keluar, meminumnya. Lalu mencium lama keran air itu. Tubuhnya yang berperawakan kecil mulai bergetar. Pak Maxi, lelaki berumur enam puluh sembilan tahun itu, menangis. Tersedu-sedu…
Hari itu, air mata Anne telah dijawab oleh air mata Pak Maxi. Perfectly.
NH