Terima kasih
Sudah lari jauh buat kita
🩷
Dewi
Dewi,
Aku adalah pelari beruntung yang menerima suratmu di garis finish. Run Against Cancer 2025, Sabtu 8 Februari. Kita tidak sempat bertemu, aku hanya menerima suratmu yang dititipkan melalui panitia. Maafkan.
Awalnya, aku menargetkan bisa masuk finish sebelum pukul 11 pagi, dari batas waktu yang diperbolehkan oleh panitia hingga pukul 3 siang, istilahnya para pelari, “cut-off-time”. Berharap bisa berjumpa denganmu atau teman-temanmu, di Awann Costa, Semarang, setelah berlari dari Kantor Desa Genting, Jambu.
Tapi aku terlambat, setengah jam.
Dewi,
Aku adalah pelari 55K, K untuk kilometer, yang start sejak pukul 3 subuh tadi. Kamu mungkin masih tertidur lelap, sama seperti para warga yang kami lewati pemukimannya. Jalanan masih sepi dan gelap, hanya diterangi cahaya dari senter kepala pelari, atau sesekali dari lampu jalanan desa. Dalam gelap, apa yang kita dapatkan? Hanya nyanyian serangga malam, bunyi kerikil terinjak, alunan derap kaki, suara desah napas. Argh, itu bukan sekadar “hanya”, itu adalah simfoni indah, yang bisa kita nikmati saat dunia sekitar kita gelap. Bukan begitu?
Perlahan langit berangsur terang. Mobil-mobil pengangkut sayur memacu kencang melewati pelari, di jalanan lengang desa, mengejar waktu, menuju pasar, menjemput rezeki. Juga di sepotong jalur Pantura yang ramai itu, lalu lalang tiada henti truk-bis-mobil-motor. Keringatku, bercampur debu, sudah mengucur deras sejak tadi. Dari balik topiku, membasahi wajah, dari kaus dan celana lariku, mengalir membasahi kaus kaki dan sepatuku. Dan mulai melukai jari dan telapak kakiku. (Seorang warga menyapa, “Habis mandi ya, Mas?” Aku tersenyum, keringat menyelimuti seluruh tubuhku, keringat “jubah kemewahanku”.)
Menjelang pukul 10 pagi, menjelang memasuki kota Semarang, aku serasa dipanggang, di jalanan beton keras dan trotoar yang naik-turun. Matahari sudah tinggi. Terik, menyengat dan melelahkan. Memaksaku menunduk, dan sesekali membungkuk. Seorang pemuda, di depan rumahnya, berdiri menyodorkan sebotol air mineral, yang diambil dari kotak minuman, yang tampaknya memang disiapkannya untuk para pelari yang melintas. (“Terima kasih, Mas!”) Aku meneguk setengahnya, sisanya aku siramkan di kepala dan pundak yang terbakar. Saat itu, aku tahu aku tak akan bertemu denganmu.
Dewi,
Aku sebelumnya diberi tahu, pukul 11 adalah batas waktu kamu atau teman-temanmu menunggu dan menyambut para pelari tiba. Ya ya, pulang dan istirahatlah, matahari sudah terlalu panas dan kalian pastinya sudah lelah, menunggu sejak pagi.
Kita memang akhirnya tidak sempat bertemu. Tapi aku telah menerima suratmu. Coretan tangan mungilmu. Pesan terima kasihmu. Terimalah juga ceritaku ini, simpan untuk teman tidurmu, dan hari-hari ke depanmu.
🩷
Nicky