Bapak Presiden, saham itu bukan judi. Percayakah?
Saham adalah bukti kepemilikan atas sebuah perusahaan. Saat membeli saham, kita menyertakan uang kita untuk digunakan perusahaan (entah saat perusahaan itu baru go-public atau saat sahamnya sudah diperdagangkan dan kita membelinya dari investor lain, sama saja), untuk menggerakkan roda perusahaan, yang pada muaranya turut menggerakkan roda perekonomian negara, seberapa kecil pun peran si perusahaan. Alangkah mulianya para investor saham, tidak peduli seberapa kecilnya dia, mahasiswa-ibu rumah tangga-buruh dan pegawai-pengusaha mikro, telah turut memberikan kontribusi pada semesta perekonomian nasional.
Saham bisa dijudikan? Tentu saja bisa, tidak diragukan lagi. (Seperti banyak hal lainnya di sekitar kita, mudah saja untuk kita judikan; motor di depan kita akan berbelok ke kiri atau ke kanan pun bisa kita judikan). Tetapi layak diyakini, bahwa tidak semuanya atau tidak separuhnya atau bahkan mungkin hanya sebagian kecil saja yang mempertaruhkannya, menjudikannya. Dan yang salah bukan sahamnya (bukan si pengendara motornya), melainkan kita-kita ini yang salah, yang menjadikannya judi. Kita-kita ini yang harus sejak awal diajarkan dan selalu diingatkan, bahwa saham itu bukan judi. Saham adalah harapan kita mendapatkan pembagian keuntungan atau dividen dari modal yang kita tanamkan di perusahaan. Saham adalah harapan kita mendapatkan keuntungan karena nilai perusahaan yang kita miliki dari tahun ke tahun terus meningkat. Saham adalah harapan kita menyiapkan tabungan masa depan dan hari tua agar tidak membebani keluarga, sesama dan negara.
Bapak Presiden, saham itu bukan judi. Percayalah.
Nicky Hogan
CEO emitennews.com
Direktur Bursa Efek Indonesia 2015-2018
Mantabbb pak Nicky 👍
LikeLike
Salam Pak John 🙏
LikeLike