Nyanyian adalah bahasa kasih.

Salwa tertunduk dalam. Bincang-bincang selepas makan malam, “Bagaimana kesannya tadi naik perahu, lalu bermain di pantai dan laut?” Gadis tunanetra usia limabelas tahun itu tidak mampu mengucapkan bahkan untuk sepatah kata pun. Malu, di depan sekitar tiga puluh peserta TunanetraBerwisata, sembilan di antaranya tunanetra, total maupun low vision. Atau mungkin luapan emosi bahagia, setelah tadi sore berenang dan bermain air laut di pantai pasir putih Pulau Semak Daun, Kepulauan Seribu, mengunci rapat-rapat mulutnya.

Tapi tunggu, lihatlah, ketika dia diminta bernyanyi. Salwa spontan berdiri. Dinding keraguan seketika runtuh. Suara adalah sahabat abadinya, dan nyanyian adalah teman setianya. Bernyanyi adalah zona nyamannya, ekspresi eksistensinya, panggung dirinya. Maka pejamkanlah matamu, dengarlah suaranya. Nada-nada bening mengalun, berayun perlahan, tenang bersama riak ombak malam, menembus udara lembab tak berangin, di pinggir laut Pulau Pramuka. Memerdukan telinga, menghujam dada, membasahi mata.

“Mencintaimu
Seumur hidupku
Selamanya
Setia menanti…”


Sentuhan adalah jembatan kasih.

Sejak awal, di titik keberangkatan di Marina Ancol, Sabtu pagi 19 Juli 2025, masing-masing tunanetra telah bergandengan dengan pendampingnya, ketika berjalan menaiki kapal. Baru saling mengenal, tetapi sentuhan di tangan, lengan dan bahu pertama telah menyatukan kami semua. Berjalan bergandengan di dermaga dan gang-gang padat pemukiman di pulau, berjalan bergandengan tanpa alas kaki menyusur pantai, berenang dan snorkeling bersama berteman ayunan ombak kecil ke kiri ke kanan, duduk berdampingan di atas pasir halus menikmati debur ombak ramah yang datang dan pergi.

Sentuhan yang sejak awal terus menerus melahirkan kenyamanan dan keceriaan, untuk tunanetra dan pendampingnya. Dua dunia lebur menjadi satu, saling melengkapi dan mengisi. Sentuhan melengkapi tunanetra untuk mampu “melihat” sekelilingnya, dan sebaliknya sentuhan “mengisi” rongga-rongga kosong dalam dada para pendamping. Sentuhan menjelma menjadi jembatan yang menghubungkan dua dunia. Dunia tanpa warna dan dunia penuh warna, dunia kabur dan dunia awas. Hingga akhirnya, besoknya di tempat yang sama, kami semua harus melepaskan gandengan itu, kembali ke dunia kami masing-masing.


Alam adalah cerita kasih.

Alam menunjukkan kasihnya. Perjalanan laut diantar kapal dengan gelombang bersahabat. Baik saat menuju Pulau Pramuka, tempat kami bermarkas dan menginap, maupun saat naik kapal kecil, 3 kapal masing-masing sekitar 10 orang per rombongan, menuju Pulau Semak Daun. Matahari siang sama sekali tidak terik dan menyengat ketika kami mulai bermain di pasir, berenang, snorkeling, dan duduk-duduk di pantai, dua jam lebih, hingga sore. Malam cerah berlalu penuh keceriaan, bernyanyi ditemani petikan gitar salah satu peserta tunanetra, Pak Tarub, yang berprofesi sebagai seorang kepala sekolah.

Mendung di Minggu pagi, seperti ramalan cuaca, ternyata tidak sampai hati menumpahkan hujannya. Langit kembali teduh dan cerah. Menemani rombongan menyusuri pulau, melewati rumah-rumah penduduk, menuju taman nasional. Menanam 100 pohon mangrove pada dua lubang di atas pasir gembur berair yang sudah disiapkan. (Berharap 20 tahun lagi 100 pohon itu akan berdiri kokoh.) Mengunjungi bak-bak besar berisi penyu-penyu sisik dewasa yang sedang ditangkar, dan anak-anak penyu yang tengah menunggu waktunya untuk dilepaskan ke lautan. (Berharap 20 tahun lagi penyu-penyu itu -dengan kemampuan navigasinya yang luar biasa, pun setelah menjelajah samudra jauh- akan kembali ke pantai tempat mereka dilahirkan, dan bertelur.) Dan sekali lagi alam menunjukkan kasihnya.

TunanetraBerwisata, 19-20 Juli 2025

NH

Nicky Hogan's avatar
Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

2 replies on “KASIH

  1. luar biasa Nicky…tulisannya❤️

    Ga bisa berkata2 hanya berkaca2

    sehat2 selalu, jangan lupa ajak2 kl naik kereta api, ke gunung n ke laut

    Salam

    Like

Leave a reply to Nicky Hogan Cancel reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.