We are just visitors to this time, this place. We are just passing through. Our purpose here is to observe, to learn, to grow and to love… and then we return home. ~ Australian Aboriginal Proverb

Kita hanya tamu. Kita hanya pengelana. Ketika hadir dalam bentuk bayi kecil, kita mendengar bisikan sayang ayah ibu, mengamati wajah bahagia mereka. Tamu baru di keluarga mereka, yang diajar dan belajar, yang tumbuh bertumbuh, membentuk fisik dan akhlak. Kita hanya tamu di kehidupan ayah, tamu di kehidupan ibu, tamu di kehidupan kakak-adik. Pengelana yang pada satu masa akan meninggalkan mereka.

Kita hanya tamu. Kita hanya pengelana. Menjejak lingkungan sekitar kita, bermain sendiri, belajar berteman, memilih-milih sahabat, mencoba melirik lawan jenis. Bersekolah, beradaptasi, bertualang, berkembang, membentuk seorang manusia setengah dewasa. Perpisahan sekolah, wisuda kuliah, melambaikan tangan, setelah singgah menggores catatan di sudut hati. Tamu yang pamit. Pengelana mengembara.

Kita hanya tamu. Kita hanya pengelana. Menerima upah pertama, bekerja pagi hingga malam, rapat dan nongkrong dengan rekan sekantor. Bertemu orang-orang baru, membangun menara mimpi, meniti satu demi satu. Singgah dari satu ruang ke ruang lain, satu bangunan ke bangunan lain. Merekam jejak, karya, prestasi, sebelum kemudian berkemas saatnya undur diri, meninggalkan tempat kerja, dan kembali berkelana.

Kita hanya tamu. Kita hanya pengelana.
Jatuh cinta kepada tuan rumah pemilik hati, menjaga sikap, merawat perasaan, mengorbankan kesenangan. Tak ada yang namanya satu dan menyatu, masing-masing adalah tamu sekaligus pengembara. Waktu berlalu, menjalani tertatih peran tetap sebagai tamu, hingga saatnya tiba, entah tuan rumah entah tamu menyerah pergi, entah karena tiada lagi rasa entah tiada lagi nyawa.

Kita hanya tamu. Kita hanya pengelana.
Berapa lama sudah kita mengamati?
Berapa cukup sudah kita pelajari?
Berapa dewasa sudah kita bertumbuh?
Berapa cinta sudah kita letakkan?
Berapa terhormat kita menjadi tamu?
Berapa lelah kita sudah embara?
Berapa rindu kita ingin kembali ke rumah?

The traveler awaits the morning tide
He doesn’t know what’s on the other side
But something deep inside of him
Keeps telling him to go
He hasn’t found a reason to say no

The traveler is only passing through
He cannot understand your point of view
Abandoning reality, unsure of what he’ll find
The traveler in me is close behind

~ The Alan Parsons Project

NH

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

5 replies on “DAYS ARE NUMBERS

  1. Tiap ada tulisan baru dari mas Nicky rasanya senang. Senang karena di dalam tulisannya aku bisa bertualang sampai dapat pengalaman baca yang baik 😊. Semoga sehat selalu, mas Nicky.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.