Dari dunia pasar modal, istilah bandar saham dan saham gorengan sering kali terucap, padahal bukan merupakan kata-kata yang nyaman untuk didengar. Karena memberikan persepsi sangat negatif terhadap dunia satu itu dari kacamata awam. Pengertian kata “bandar”, lebih banyak buruknya dibanding baiknya. (Ingat, bandar narkoba, bandar judi, bahkan mungkin bandar beras sekalipun). Sedangkan kata “gorengan” tidak kalah jeleknya, menunjuk saham yang bisa dipermainkan seenaknya, semaunya para penggoreng. Dan kalau saya awam, alih-alih tertarik dengan dunia yang kemilau mentereng ini, saya lebih baik dan benar menghindar, menaruh saja uang saya di tempat lain. Aman, tidur nyenyak, tidak risiko salah terbeli saham gorengan dan dimangsa bandar. Stigma buruk yang telah menyebabkan pasar modal terus-terusan kerdil, sulit bertumbuh. Sebagian dari kita tetap menyukai pemakaian kedua istilah itu; mungkin agar terlihat dan terdengar ahli, jago, pakar. Bahkan malah menambahkan, -menganggap dan menuduh- bahwa tidak ada satupun saham luput.

Benarkah ada sosok yang namanya bandar saham? Ada, mereka yang mempermainkan saham dengan cara memanipulasi harga dan/atau informasi. Benarkah ada saham gorengan? Ada, obyek yang dipermainkan para bandar tersebut. Apakah semua saham bisa digoreng? Bisa saja, kalau sekadar bisa, apa sih yang tidak bisa di dunia ini, apalagi di dunia kapitalis? Bisakah semua orang menjadi bandar? Bisa saja, kalau punya keahlian, punya jaringan, punya uang, punya kepintaran (walaupun kepintaran yang mal-guna). Kalau begitu, memang pasar saham sangat layak untuk dihindari, tampaknya.

Dengar, ada perusahaan-perusahaan yang sejak awal go-public, memang sudah bertujuan jahat. Tidak bersungguh penuh untuk tujuan mulia menjadi perusahaan terbuka, tetapi sudah berpikir jorok dari sananya, menjadikan sahamnya komoditi, barang dagangan dan mata dadu permainan, untuk meraup untung dengan jalan tidak pantas. Ataupun ada perusahaan yang awalnya bertujuan benar, namun dalam perjalanan waktu “diakuisisi” oleh bandar untuk menjadi saham gorengan, dengan atau tanpa persetujuan dan keikutsertaan pemilik saham mayoritas.

Namun, sungguh tidak kalah banyak juga perusahaan yang mencatatkan sahamnya di bursa memang dengan tujuan mendapatkan sumber pendanaan baru, meningkatkan tata kelola perusahaan, menaikkan kredibilitas kepercayaan, dan tujuan-tujuan benar lainnya. Sekali lagi, banyak perusahaan tbk yang demikian, dan mereka tetap setia menjaga martabatnya, yang pemiliknya sukses dan kaya bukan karena dikenal sebagai bandar (dan komplotannya), tetapi memang sebagai pengusaha. Yang lebih fokus menjalankan bisnis real-nya secara halal, ketimbang mengeruk uang haram dari pasar saham. Begitu mudah, kita, orang awam sekalipun, mengidentifikasi perusahaan-perusahaan demikian, dan jumlahnya banyak, sekali lagi.

Begini, untuk menjadi seorang bandar saham, anda harus menguasai sebagian besar saham di pasar (Kita mengerti sekarang kenapa sedikit sekali mendapatkan jatah saat beli saham perdana), atau juga “mengunci” saham-saham pemilik lain untuk tidak mengacaukan skenario permainan anda (Kita mengerti sekarang kenapa ada saham yang di-“lock up” untuk periode waktu tertentu). Anda mungkin bisa menguasai saham-saham receh, hanya butuh puluhan ratusan milyar saja (Kita mengerti sekarang kenapa kadang dapat tawaran bunga ekstra tinggi dari repo/gadai saham receh), tetapi untuk menguasai saham blue chips, butuh uang trilyun-trilyunan, anda punya? Anda bersikeras, ada kok, bandar kelas kakap dengan modal besar, menggoreng saham blue chips. (Sebagian analis, atau yang mengaku dirinya analis-pengamat-pengajar-pengais pengikut-pencari nafkah, yang kesulitan membedakan antara fakta dan fantasi, percaya sosok hantu itu hadir mencengkeramkan kukunya di setiap dan di seluruh saham yang ada; dengan menutup mata terhadap pergerakan saham yang mungkin saja fluktuatif, termasuk di masa krisis hari-hari ini, saat banyak pelaku yang bertransaksi sangat sangat singkat.)

“Jangan katakan kita telah melihat segala sesuatu yang dapat dilihat, hanya karena kita punya mata.
Jangan katakan kita telah mendengar segala sesuatu yang dapat didengar, hanya karena kita punya telinga.”

Baiklah, kalau anda tetap ngeyel, percaya segala sesuatu melulu konspirasi; percaya Elvis Presley masih hidup dan tetanggaan dengan Michael Jackson di salah satu pulau kecil di Pasifik, percaya permukaan bulan masih perawan tingting dari jejak langkah kecil Neil Armstrong, percaya JFK dibunuh komplotan CIA-KGB-Kuba-mafia dengan dukungan alien. Sebagai bandar anda akan dan harus menjungkirbalikkan teori ekonomi demand-supply yang sudah baku, karena kalau tidak, gorengan anda tidak renyah, tidak menarik, tidak laku. Padahal pasar di sebagian besar waktu selalu bergerak rasional (hanya sewaktu-waktu saja kepanikan terjadi, itupun dalam rentang yang sangat singkat), karenanya nyaris mustahil menggoreng saham “beneran” macam blue chips. Hukum permintaan dan penawaran berjalan sempurna di sana. Ada harga ada barang, harga pasar merefleksikan kinerja dan ekspektasi akan perusahaan, dan hanya bereaksi terhadap indikator-indikator ekonomi yang sahih, plus pelakunya adalah orang-orang pintar nan smart. Gorenglah saham blue chips auto reject bawah, dan lihatlah pasar akan antusias bersukaria menyambutnya; gorenglah saham blue chips auto reject atas, dan saksikan pasar akan saling berebut melepasnya. Gorenglah saham kacangan, dan para fund manager dan investor sejati akan bergeming, tidak peduli, karena tidak masuk dalam radar investasi mereka. Lantas, siapa yang akan peduli? Hanya individu (dan institusi korup) yang kemampuan berpikirnya pendek-pendek saja, dan mereka-mereka yang senang berfantasi. Memang merekalah target yang selalu diincar dan disukai para bandar. Siapa lagi.

NH

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.