BABAK PERTEMANAN 1.1

Aku masih mengunyah mie instant goreng di lounge bandara Soetta (di lounge kok sarapannya mie instant, heh!) ketika Altri menelepon, mengabarkan skedul terbangnya geser ke siang, karena ada urusan kantor mendadak. Dan usai makan malam jamuan untuk para pelari dari Pak Walikota, ketika aku telah selesai check in hotel, teman bakal sekamar ini baru berkabar lagi, sudah mendarat di bandara Minangkabau, sedang on the way ke Payakumbuh, sekitar empat jam perjalanan dengan mobil, diantar teman-teman terbaek yang selalu helpful setiap kali dia berkunjung ke Padang. (Padahal pelari ultra satu ini juga putera daerah. Manja!)

Jadilah sebentar-bentar merem, sebentar-bentar melek, takut-takut dia mendadak menggedor-gedor pintu kamar atau telepon atau kirim WA. Menunggu sambil “tidur” yang tidak nyenyak, lampu kamar dibiarkan terang benderang. Tuh pan, benar saja, lima belas menit menjelang midnite, pesannya masuk, sudah tiba di “The City of Randang” itu, tapi izin mau makan dulu. Walau di antara dunia nyata dan dunia mimpi, aku anaknya sigap melihat celah sempit. Titip makanan! Sate, sate Padang (lha iyalah, masa’ sate Madura), plus bandrek (yang ini katanya sudah dibayar tapi lupa dibawanya, bandrek rasa halu!). Asupan selepas tengah malam yang sangat bermanfaat untuk bekal nanti (bukan lagi besok), beberapa jam saja sebelum start Minang GeoPark Run 2021, pukul 06:15, tanggal 20 November.

BABAK KELAPARAN 2.1

Mari bersyukur dengan 7 (atau 10, lupa, maklumi, tengah malam) tusuk sate dengan lontong dengan kuah kentalnya itu, “light-supper” ideal. Pun dengan kompensasi pengurangan jam tidur menjelang ultra run. Sebenarnya, nyatanya, nantinya, aku (akan) lebih butuh “late-carbo-satay-loading” itu dibanding jam tidur. (Ketidaknyamanan, atau kegagalan, atau kesedihan, atau apapun namanya itu, yang kita alami, sehari-hari, selalu ada hal setimpal yang baik dan positif di waktu dan di tempat yang lain, dengan atau tanpa kita sadari, dengan atau tanpa kita setujui. Semesta selalu punya caranya sendiri, misterinya sendiri, dan kita terlalu kerdil untuk memahaminya. Memangnya, who do we think we are?) Jadi terimalah, nikmatilah. Lupakan sejenak kantukmu. Satenya memang enak. Begini ceritanya.

Alarm 04:30 berbunyi, buru-buru dimatikan, dan disetel ulang, 04:45. (Mata yang masih mengantuk sangat berterimakasih untuk limabelas menit tambahan itu, Kak.) Bersiap-siap, berdandan-dandan kostum lengkap lari, sambil mengunyah sebutir talua rebus yang sudah dikupas karyawan hotel (rajin benar mereka, pagi-pagi buta, berapa puluh telur rebus harus dikupas untuk para pelari luar kota yang malam itu sebagian besar menginap di sana.) Ada sisa ropang nanas, raih sepotong, hap! Plus secangkir teh manis hangat, teguk, glek! Dapat info harus check out mendadak pagi itu juga, hadeuh!

BABAK KEINDAHAN 3.1

Berangkat, diantar mini bus, ke lokasi start, samping sungai yang dibuat nyaman oleh Pak Wali. (Andai lebih banyak pemimpin daerah menyulap setiap bantaran sungai menjadi jogging-track macam itu, plus aliran bersih air sungainya yang bisa direnangi anak-anak, dan dimandiin ibu-ibunya. Andai, oh andai, kita akan lebih rajin-rajin lagi berlari, di bantaran sungai, sambil memandang anak-anak, dan ibu-ibunya.)

Berlari jarak ultra, khususnya yang sifatnya “menjelajah”, bertualang, runventure, apalagi yang ber-genre geopark begini, adalah melulu cerita tentang keindahan. Tidak sampai hitungan 5 kilometer, langkah kaki sudah terhenti. Pandangan bebas lepas tiga ratus enam puluh derajat, sawah yang menghampar hijau dan kuning, rapih berundak-undak, dengan latar bukit dan gunung, dan kabut tipis pagi yang masih menggenangi kaki-kakinya. Matahari yang ramah bersembunyi malu di balik gulungan awan putih. Kukeluarkan HP, jepret!

Kontur naik turun jalan aspal yang harus ditempuh, tetap menyajikan keindahan wajah meringis pelari ketika mendakinya, disusul keindahan wajah sumringahnya ketika jalan menurun. Keindahan tanpa perlu tanda kutip. Keindahan yang terus menerus dicari oleh para pelari ultra, tidak pernah ada puas-puasnya, tidak pernah ada kapok-kapoknya.

Keindahan pandangan dan senyuman yang dilemparkan para warga, keindahan sapaan ramah ibu-ibu di depan teras rumah.

BABAK PERTEMANAN 1.2

Pada setiap event lari, akan selalu ketemu dengan banyak pelari (yaiyalah), entah yang sudah kita kenal sebelumnya, atau yang baru berkenalan. Ada beberapa pelari dari Jakarta dan pelari perantauan yang sekalian pulang kampuang, ada pelari “tetangga dekat” dari Pekanbaru, dan tentu saja pelari-pelari Sumatera Barat sendiri; Padang Trail Runners, Semen Padang Runners, Karambia Runners, dan sang tuan rumah, Payakumbuh Runners.

“Running isn’t only about where it takes you, but who you meet along the way.”

Sejak bendera start dikibarkan, rombongan dadakan tanpa pakai janjian, rombongan kecil kami yang hanya berlima, Altri-Dadang-Iwa-Salmon-NH, selalu berlari bersama. Juga berjalan bersama, singgah di check point bersama, mampir di warung bersama (untuk es kopi instant dan es jeruk peras instant yang diblender, duhduh nikmatnya), berfoto berfoto berfoto bersama. (Ada Uda Erison cs yang sewaktu-waktu muncul mengejutkan di mana saja, menjepret kami. Hati-hati dengan jalanmu dan sungutmu, ketangkap kamera nanti.) Dengan sesekali bergabung satu atau dua pelari lain yang menyusul ataupun yang tersusul, dan yang kemudian berpisah kembali.

BABAK KEINDAHAN 3.2

Rangkaian keindahan juga dihiasi rombongan malaikat-malaikat cilik, puluhan anak-anak TK dengan pakaian lengkap olah raganya, putra dan putri, dipandu dua BuGuru, riang berjalan beriringan. Sebuah momen pemandangan untuk diabadikan, tidak hanya di kamera HP, namun juga di kepala. (Satu dua di antara anak-anak itu mungkin juga ketika pulang sekolah bercerita ke orang tuanya, lantas malamnya bermimpi suatu hari nanti berlari seperti mamak-mamak ini.)

Dan keindahan-keindahan lainnya yang terus mengalir, seperti layar tancap; pemukiman warga, ladang jagung, bunga dataran tinggi warna-warni, anjing-anjing tinggi besar yang lelah setelah malam usai berburu, jalan raya ramai. Bukit, ngarai, lembah. Dan akhirnya, Kelok Sembilan!

“There was a time some time ago
When every sunrise meant a sunny day, oh a sunny day
But now when the morning light shines in
It only disturbs the dreamland where I lay, oh where I lay
I used to thank the lord when I’d wake
For life and love and the golden sky above me

We climb and climb and at the top we fly
Let the world go on below us
We are lost in time” ~ REO Speedwagon

Garis-garis lengkung berwarna merah menyala mencolok menghiasi lekuk-lekuk penanda sisi pinggir jalan, bertingkat-tingkat. Di antara dinding-dinding batu kokoh pahatan alam, tampak tiang-tiang beton raksasa ciptaan manusia, menjulang tinggi ke langit. Paduan kontras antara kemegahan alam dan kepintaran umat manusia.

Kami mendaki, dan terus mendaki. Dan ketika tiba di ruas jalan tertinggi, di titik tertinggi, we fly.

BABAK KELAPARAN 2.2

Slurp!, aku menyedot habis juice alpukat, seharga sepuluh ribu rupiah, membelinya dari warung yang banyak betebaran di pinggir jalan, di sini, di Kelok Sembilan, check point ketiga, KM 42. Asupan terberat yang masuk ke tubuhku sejauh ini, nyaris setelah tujuh jam dari garis start.

Sejak awal, memperhitungkan akan ada 3 check point, masing-masing di KM 13, KM 30, dan KM 42. Berharap akan ada makanan ringan di masing-masing CP, dan ada makanan berat di salah satunya. Ternyata tidak. Beruntung -dan bersyukur mengingat kembali- ada energi dari sate lontong tengah malam tadi dan telur rebus subuh tadi. Yang masih mampu membawaku ke check point terakhir ini, yang perlahan telah memuai habis dalam bentuk keringat yang jatuh ke aspal dan energi kinetik yang menguap ke udara.

Sepanjang jalan, tubuh hanya diisi dengan cairan-cairan; air mineral, hydrococo, cocacola, es teh manis, es kopi instant, es jeruk peras instant, plus potongan-potongan semangka. Dan ketika hendak menyelesaikan etape terakhir, menuju finish di KM 65, ke Lembah Harau, hanya menggenggam sebotol air mineral. Semacam sebuah pertaruhan. (Walaupun tidak diniatkan demikian.)

BABAK KELAPARAN 2.3

Memutari jalur yang sebelumnya tadi terengah-engah didaki, menuruni Kelok Sembilan, masih mampu melaju, bercampur jalan saat mendatar, hingga melewati papan petunjuk KM 50. Lantas berbelok ke kanan dari jalan utama Trans-Sumatera yang ramai itu, mulai memasuki kawasan lembah. Sunyi, sepi. Berlari perlahan dan berjalan menyusur pinggiran dasar lembah yang berkelok-kelok. Dengan sebotol air. Dan lapar yang merambat cepat, mencapai puncaknya.

Tidak ada warung untuk disinggahi. Menelan seteguk demi seteguk air, mencoba mengelabui rasa lapar. Rumah-rumah warga yang terpisah jauh satu ke yang lainnya, tampak sepi. (Aku berniat mampir meminta teh manis hangat, sejujurnya, kalau saja tampak ada penghuninya.) Kembali meneguk air, dua tiga tegukan. Seorang bapak tengah mengambil air yang memancur dari pipa di bawah tebing, sementara kedua anaknya bermain riang di genangannya yang bersih. Hanya ada air, dan tidak tampak ada yang kubutuhkan yang bisa kuminta. Rasa lapar kali ini sama sekali tidak membangkitkan rasa marah (hmm, lumayan beda dengan biasa-biasanya), sebaliknya malah memunculkan rasa takut. Bakalan jatuhkah? Pingsankah? Ataukah sebaiknya menunggu marshall motor yang akan lewat saja, menumpang ke finish? Keraguan menari-nari, pikiran berputar-putar, tetapi bagusnya kepala belum, masih aman. Kaki tetap melangkah. Kembali meneguk air. Tawar. Hampa. Mual.

Mata terus-menerus awas, layaknya bersiap memangsa, memperhatikan teras dan pintu rumah warga, satu demi satu. Dari sela-sela pohon, di sisi kiri tampak sebuah rumah, berwarna-warni. Sebuah firasat bagus. Keluar dari jalan aspal, sedikit berbelok kiri, jalanan semen, sebuah rumah, sebuah warung!

Dua potong kue bolu bungkusan, dan sebotol teh manis dingin, di KM 57. Aku tahu, lebih dari cukup untuk mengantarku ke garis finish. (Dan membuatku untuk sementara waktu memusuhi air mineral, air putih. Mual yang masih tersisa. Dua puluh empat jam ke depan, aku menghindar berurusan dengan air putih.)

BABAK KEINDAHAN 3.3

Back on the track, tebing-tebing granit berdiri kokoh di depan mata, di sisi kanan jalan, beberapa di antaranya sedikit menjorok ke jalan. Nun jauh di sana, sekali lagi, pemandangan lepas yang indah, matahari sore tertutup arakan awan putih menyala pada langit biru, barisan bukit dengan beberapa bagian tampak berhias garis air, air terjun tinggi.

Keindahan dari hiburan marshall yang berjaga, “ini tanjakan terakhir”, walaupun ternyata tidak benar. Hanya saja dalam kondisi begini, aku tidak terlalu keberatan dibohongi kok, masih jauh lebih merdu dibanding mendengar kalimat “wah, masih jauh, masih naik turun”.

Keindahan umbul-umbul yang berbaris, dan suara MC sayup-sayup terdengar. Keindahan jepretan kamera, dan gerbang gapura balon. Keindahan senyum menyambut, jabatan tangan, dan pelukan hangat. Keindahan akhir sebuah perjalanan panjang. Keindahan yang hanya bisa dirasakan, keindahan yang kata-kata punya keterbatasan untuk mampu utuh mengungkapkannya. (Kata-kata diciptakan oleh manusia, sementara rasa diciptakan oleh semesta, manalah mungkin sebanding.)

BABAK PERTEMANAN 1.3

“In races of marathon distance or less, 9 out of 10 runners tend to be competitive, and they are out to do anything in their power to beat you. In races longer than a marathon, 9 out of 10 runners tend to value camaraderie and seeing others succeed and in most cases will do anything in their power to make sure both of you make it to the finish line.”

Kami menyelesaikan 65K itu, 10 jam lebih, lebih cepat dari total 12 jam waktu yang disediakan (cut-off-time). Ada yang melintas finish line lebih dahulu, mengamankan “virgin-ultra”-nya, menikmati sensasinya, jenis kebahagiaan yang tidak didapatkan di dunia yang lain; sebagian lain sedikit di belakang, merampungkan tugas “mengantar”, sekaligus menyelesaikan “perjalanan suci” ke sekiannya.

Berlari jarak ultra memang tidak melulu “race”, pertandingan. Selama mampu menuntaskan (bukan menaklukkan, apaan sih takluk-taklukan) jarak, yang diberkahi kekayaan dan kemewahan segala bentuk pengalaman sepanjang jalan, lalu mampu melintas pita finish dengan tetap gagah dan bahagia, dan kalau bisa bersama-sama, itu adalah segala-galanya. Apa lagi yang tersisa? Memangnya apalagi yang dicari?

NH

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.