“Masih ingat saya, Om?”
Aku belum sempat menjawab, sudah langsung dijawab sendiri. Syukurlah.
“Lombok Bangkit. Saya yang fisio Om, Om galak banget waktu itu, saya dimarahin…”

Semesta seketika melemparkan kami, dari Lombok Tengah ke Lombok Utara. Jarum jam berputar mundur, ke lebih dari 3 tahun lalu, event-charity-run untuk Lombok Utara, setelah luluh lantak akibat gempa bumi 3 tahun sebelumnya.

Tita dan aku lalu bernostalgia, mereka-reka kembali apa yang terjadi saat itu di KM43, atau tepatnya, ada apa di balik kejadian itu.

“… Terbaring lemas dengan otot-otot seluruh kaki kaku dan kencang, bergetar dan mengunci. Kedua kaki, dari ujung paha hingga telapak kaki. Diam sakit, digerakkan tidak lebih baik. Tanganku menekan keras kiri kanan besi pinggiran velbed, menahan sakit…” (Tulisan: “Lombok Bangkit”)

Aku menyebut kata “sapuq”, “Ya, Om jadi sosok yang berbeda saat memakai sapuq.” Duduk di atas velbed, aku lalu mengeluarkan HP, mencari-cari tulisan tentang event itu, dan mulai bercerita.

“… Aku berdiri diam, menunggunya menengok ke belakang, ke arahku. Sekadar melambai. Aku ingin memandangnya sekali lagi. Sebentar saja. Tapi dia berbelok dari jalan aspal, ke kiri ke pekarangan kantor kecamatan itu, berbaur dengan rombongan yang telah siap menyambutnya. Perlahan aku menurunkan tanganku, menyimpan lambaianku. Berbalik arah. Menutup wajahku. Terisak.

Aku berjalan kembali ke arah sekolahku. Jauh di depan sana. Aku akan kembali ke ruang praktikum biologi, ruangan yang paling kucintai, ruangan yang membuatku selalu bahagia ketika melihat reaksi murid-murid yang antusias setiap kali praktek. Ruangan yang roboh saat gempa besar dua tahun lalu. Ruangan tempat mereka menemukan jasadku…” (Tulisan: “Sapuq”).

Tita berteriak, melompat berlari menjauh.

Untuk mengobati rasa bersalahku, atas kegalakanku dulu itu (“ekspresif banget”, istilah Tita waktu itu), aku “mengizinkannya” memegang betis kananku yang sekeras batu saat ini, untuk di-fisioterapi. Di check point 3, KM 75 di Praya, Lombok Tengah, event Jelajah Timur 2024.

“Tadi sepanjang 3 kilometer pertama, aku start dan berlari sambil memakai selendang tenun Lombok, melingkari leher. Entah kenapa tenggorokanku terasa kering sekali…”

Tita kembali berteriak, melompat berlari menjauh.

*

Selendang tenun khas suku Sasak itu dikalungkan ke leherku saat rombongan pelari tiba di Dusun Kelotok, Desa Wakan, Lombok Timur, Kamis, tanggal 24 Oktober 2024. Bagian daripada run-down acara, sebelum besoknya memulai charity-run, pelari berkunjung ke dusun penerima bantuan akses air bersih, disambut keriuhan musik dan tarian tradisional, mendengarkan anak-anak perempuan membaca puisi di atas panggung, menikmati makanan tradisional, dan melongok ke sumur-sumur sangat-dalam dengan sedikit genangan air-dangkal, yang “diperebutkan” -sungguh tidak mencukupi warga-, yang dialirkan ke permukaan saat tengah malam, untuk diambil dan dibagikan, yang hanya dalam hitungan satu-dua jam kembali “kering”, yang airnya kadang terasa asin…

Aku melepas selendang itu dari leher, setelah berlari tiga kilometer dari garis start di Hotel Nusantara, Sembalun, pukul 15:02 WITA tadi, Jumat, 25 Oktober 2024. Memindahkannya ke genggaman tangan kanan. Kaki melangkah, namun kepala mengira-ngira. Menuju Pusuk, KM 10, di ketinggian 1.559 mdpl. Jalanan terus menanjak, yang akan membawa ke titik tertinggi dari keseluruhan rute lari ini, untuk menyelesaikan total 100K dengan cut-off-time 20 jam, dan finish di garis pantai di Kuta Mandalika.

Bersemangat, terutama saat memandang keramaian di depan mata, rombongan anak-anak yang tak berhenti melambai, dalam balutan pakaian adat dominan hitam, yang berbaris-berderet-panjang, di kiri dan kanan pinggir jalan aspal lengang. Pelari melintas, juga berbagi ke kiri dan kanan, bersorak bersama mereka, menepuk -sebisa mungkin semua- tangan-tangan yang terulur, lelaki dan perempuan.

(Repi, anak perempuan cantik berkerudung hitam menyelesaikan pembacaan puisinya. Aku dipanggil untuk maju ke depan, naik ke atas panggung menghampirinya, menerima kertas berisi puisi yang tadi dibaca Repi. Lembaran putih berkop surat Plan International, dan slogan “Sampai Semua Setara”. Ada gambar bunga, daun, dan rumput. Ada tulisan “I Love You” dan gambar hati merah. Ada gambar pelangi dan awan. Dan yang seperti tertulis dan dibacanya tadi, yang sangat dirindukan Repi dan seluruh warga Dusun Kelotok, ada gambar hujan…)

Titik-titik air menetes. Awalnya aku berpikir ini mungkin hanya air yang dibawa kabut sore, di kaki Gunung Rinjani yang berdiri megah, yang perlahan kami tinggalkan. Nyatanya tidak. Hujan!

(Aku teringat Repi, dan suara lembutnya, “Semoga air hujan cepat-cepat turun…” Sayangnya, ini bukan di tempat tinggal kamu, Repi. Sabar ya Nak, keran rumahmu akan dialiri air setelah event lari ini…)

Hujan, tidak lama, hanya sekitar 12 menit, persis di antara KM8 dan KM9, persis saat tanjakan tajam, saat jalan terbungkuk-bungkuk, saat tarikan napas pendek satu-dua. Yang lalu ketika berhenti, meninggalkan pelari dengan tubuh dan sepatu basahnya. Meninggalkan pohon dan aspal yang basah. Dan kabut, eh atau uap, entahlah.

Hujan yang menyebabkan munculnya uap akibat aspal panas sebelumnya.
(Uap, itu versi teman lari gua, yang mungkin sering nonton dangdutan.)
Hujan yang meninggalkan tirai kabut tipis mengambang rendah di atas aspal basah, seolah terbangun dari tidur lelapnya.
(Kabut, ini versi gua, yang merasa si paling pujanggaan.)

*

“Teruslah menulis, dan posting. Karena kita tidak pernah tahu, seseorang entah di belahan dunia yang mana, selalu menantikan tulisan kita.”

Aku pernah membaca pesan itu, dan kalau benar demikian adanya, “Dear Seseorang, siapapun kamu, di manapun kamu berada”, baiklah, aku akan terus menulis. Ternyata, oh ternyata, ada lho seseorang itu. Namanya Widya. Tidak di belahan dunia yang jauh-jauh amat, hanya selemparan batu, di Semarang, mengaku ternyata pernah membaca tulisanku. (Mungkin bukan “menantikan”, maaf ralat, mungkin hanya kebetulan saja membaca.) Ceritanya, kumpulan tulisan-tulisan itu, dan terutama tulisan tentang lari-donasi untuk anak-anak thalasemia, di Aceh, awal tahun 2023 lalu.

“Aku ingat kalimat ini, Om. Mereka tidak punya pilihan, sedangkan kita punya banyak pilihan. Kalau kita bisa memilih berlari sekaligus mencari donasi, lalu kenapa tidak kita lakukan? Karenanya, aku mulai ikut charity-run…”

Aspal basah -kadang licin- dan jalanan menurun -kadang tajam- tidak mengurangi sedikitpun keraguan kami berdua untuk berlari bersama, melaju turun dengan power, stability dan variasi langkah menyesuaikan kecuraman. Diselingi sesekali berjalan, sambil terus berbincang, dari satu water station ke water station berikutnya yang berjarak 5K; yang para petugasnya selalu sigap, ramah, dan helpful, dengan aneka minuman, semangka-nanas dan snack lengkap, sepanjang rute.

Langit sore yang matang sebentar lagi berganti gelap, azan maghrib mulai berkumandang dari bangunan-bangunan masjid dengan kubah dan menara terang berwarna-warni indah. Aku berlari sendiri, me-time, menikmati perjalanan senja menuju malam, menikmati kesendirian keheningan keindahan keagungan kedamaian. Mencoba berusaha mencapai check point pertama, KM25 di Suwela, Lombok Timur, sebelum malam jatuh. Meleset, sedikit. Tidak apa-apa. Karena ada kaus kering menanti di drop-bag, ada nasi putih disiram bakso kuah, ada setangkup roti tawar berselai kacang dan susu kental, ada teh manis hangat.

*

Dua puluh lima kilometer kedua, antara check point pertama ke check point kedua di Terara, Lombok Timur, bagiku, adalah penggal 25K terberat. Dibekap udara super-lembab, mengarungi jalan raya sarat motor-mobil dan kendaraan besar, pada Jumat malam yang ramai. Hanya dalam hitungan menit, kaus kering telah basah kuyup kembali. Keringat mengucur deras, mengalir turun hingga membasahi sepatu yang belum sempat kering akibat hujan tadi sore. Berlari dan berjalan, sambil menyisihkan tenaga membalas sapaan tak henti dari warga, ucapan terima kasih-siap-semangat, atau senyuman, lambaian dan kepalan tangan ke udara.

“Mau kemana, Pak?”
Kuta, Mandalika.
“Wah, masih jauh sekali…”
(Kejujuran kadang menyakitkan. Terima kasih, Abang.)

Akhirnya toh, hanya kedalaman malam yang sanggup membantu. Semakin larut, udara sudah lebih bersahabat, walaupun lembab masih terasa, tetapi lalu lintas mulai sepi. Terima kasih kepada hampir semua pengendara kendaraan di Lombok yang berbaik hati, “menghormati” kami pelari dan pejalan kaki, tidak merepotkan kami untuk mendadak berhenti atau terpaksa melipir melompat ke bibir jalan. Terima kasih juga, tentunya, kepada para marshall-motor yang setia menjaga pelari, bolak-balik tanpa lelah, dari awal hingga akhir. Sekitar empat jam menjalani etape kedua ini, rasa-rasanya lebih banyak berjalan ketimbang berlari, mengandalkan power-walk, yang kebetulan memang bisa diandalkan, syukurlah.

Hingga mencapai check point kedua, separuh perjalanan! Makan setangkup roti berselai strawberry, tidak selahap sebelumnya karena sudah tengah malam (katanya kalau makan kemaleman cepat gendut!), teh manis dan seduhan jahe hangat, mengganti kaus kering dan kaus kaki. Lanjut, kembali merambah ruang waktu, merambah gelap, merambah jarak, 25K menuju check point ketiga. Berjalan di beberapa kilometer pertama, tidak diniatkan berlari, ingin menikmati udara tengah malam pulau Lombok, menembus perbatasan timur dan tengahnya. Dan terutama -sungguh- sangat ingin menikmati kaos kering, agar tak cepat basah. Eman-eman. Sebuah bentuk kemewahan, saat berlari ultra, yang berjam-jam-jam-jam itu.

*

Sebelum meninggalkan check point ketiga menuju garis finish, Tita memberikan nasihat, “Jangan menolak untuk di-fisio, Om. Sakit di lengan-bahu itu tidak terasa, karena ada 2 kemungkinan. Pertama, mind-set berhasil meng-kamuflase rasa sakit itu, atau kedua, reda sementara karena tidak ter-trigger.” (Tulisan: “Pain”.)

Aku menyimak patuh, sungguh-sungguh. Walaupun tidak nyaman dengan kedua kemungkinan itu. Tetapi kalaulah harus mengiyakan, aku lebih memilih kemungkinan pertama. Mind-set. Pola-pikir, yang selama ini telah membawaku mampu berlari jauh, long-distance, dengan segala keterbatasan kemampuan, waktu dan latihan, dengan pengabaian asupan-nutrisi-suplemen, serta, ya, fisioterapi tadi.

I’m not talented, I’m not the best. I just do not give up. Sometimes I know I am tired. Sometimes I know I am physically and emotionally drained. But I have to keep going. All I know is, ultra running is like normal running, but longer, slower, more sad and lonely.

Sabtu, 26 Oktober 2024
Pukul 10:00 pagi
Aku finish.

NH

Nicky Hogan's avatar
Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

4 replies on “SEMOGA AIR HUJAN CEPAT-CEPAT TURUN…

  1. Entah apa yang mengantarkanku ke Blog om Nicky Pagi ini, and taraaaa akhirnya aku yang mendapat sebuah kejutan. Me First om Nicky yayyy (semoga). tulisan NH yang selalu aku nanti-nantikan akhirnya rilis. Terima kasih om Nicky – Widya

    Like

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.