Seminggu sebelum dimulainya NusantaRun Chapter 3, ribuan kilometer dari tempat start nantinya di Balai Kota Bandung, dalam perjalanan darat 8 jam dari Medan ke Lhokseumawe, ingin rasanya menulis sesuatu. Mungkin karena nervous, atau juga gemetar, 135K dalam hitungan hari tapi kok rasanya persiapan gini banget ya. Masih ada kota Bireun, Banda Aceh, Jakarta, Semarang, Padang yang harus dikunjungi sebelum hari H itu. Dan, astaga!, benar-benar tidak ada waktu untuk bisa berlatih lari di antara hari-hari itu dan kota-kota itu. Tidak bahkan untuk semenitpun…

Tahun ini saya telah 3 kali DNS (do not start) untuk event lari yang sudah didaftar. Samosir, Jakarta Marathon, dan BromoTenggerSemeru. Tapi untuk yang satu ini, NusantaRun (NR), jauh-jauh hari saya sudah bertekad untuk tidak boleh DNS, bagaimanapun ketatnya jadwal kantor (maklumlah supir AKAP), dan katanya kan pekerjaan gak boleh ganggu lelarian, eh. Dengan persiapan seperti ini, saya sangat maklum kalau ada beberapa teman mengingatkan dan memperingatkan (karena sayang sih pastinya) untuk tidak dan jangan ngoyo, Nick. Bahkan ada pesan “Jangan sampe mati ya…” pun saya terima dengan lapang dada. (Iyung anjriittt!!!)

Para donatur telah menjalankan kewajiban mereka, sekarang giliran para pelari untuk menjalankan kewajibannya! Sekitar pukul setengah sebelas malam, Jumat 18 Desember 2015, kalimat itu diucapkan oleh para Penggawa NR, Topher dan Rian. Di bawah langit Bandung yang cerah dan di antara keriuhan dan keramaian menjelang sirine dimulainya lari, saya menyimak. Dan kalimat itu menakutkan, Kawan! I really mean it.

Tapi baiklah, ratusan ribu ayunan langkah ke depan toh harus dimulai dengan satu ayunan langkah kecil, here we go…

Selepas dilepas Kang Walikota Ridwan Kamil di Balai Kota, tujuan pertama adalah pom bensin Jl Soekarno Hatta, 12K. Sekitar lima puluh pelari akan menuaikan kewajibannya (argh!) hingga Cirebon, dan lima puluh lainnya sampai di Sumedang, untuk nantinya relay dengan pelari berikutnya yang akan melanjutkan ke Cirebon. Nyaman sekali rute ini, dengan kawalan ketat banyak marshal sepeda (hatur nuhun pisan euy!), menutup setiap persimpangan dan jalan. Rute ini sepenuhnya clear dan steril milik NusantaRun. Top dah! Menembus Kota Bandung di tengah malam, melintasi Trans Studio, tukang duren (hm… ingetnya tukang ini aja), dan orang-orang sepanjang jalan lengkap dengan pandangan bingungnya.

Minum sejenak di pos SPBU, lanjut lagi lari menghabiskan Jl Soekarno Hatta yang panjang itu. Di ujungnya, mulailah memasuki Jl Cibiru, Jl Cinunuk, Jl Cileunyi dan kawasan Jatinangor. Pos berikutnya di KM 25, pom bensin Al Masoem. Lintasan kendaraan yang luar biasa, dan pastinya bukan lintasan lari yang ideal. Jalan berkelak kelok dan menanjak, tanpa trotoar (ya iyalah, Nick), dengan sedikit bonus aspal di samping garis bahu jalan. Sedikit sekali tapinya. Kendaraannya? Benarlah cerita yang saya dapatkan sebelumnya untuk jalur ini. Dari mobil pribadi kecil dan besar, truk sekelas truk pasir hingga yang sebesar Transformer berbagai bentuk, plus bis AKAP. Komplet! Saya dan Ina (Si Ratu Trail Indonesia itu tea, kami lari berdua) harus ekstra hati-hati, atau malah super ekstra hati-hati. Jarak ayunan lengan kanan kami mungkin kurang dari 1 meter dari kendaraan-kendaraan itu. Begitu mendengar dengusan truk bis di samping, kalau menoleh yang terlihat hanya ban besarnya yang sedang berputar. Karena sama-sama terengah-engah menanjak, antara pelari dan truk bis itu, coba siapa yang lebih pantas mengalah kasih jalan? Hiks, wong cilik selalu terpinggirkan…

Sampai di Check Point (CP) 2, langsung lemas. Mungkin banyak menghirup asap knalpot Transformer, uhuk uhuk. Minum, ngemil ubi Cilembu, mulai ngantuk, dingin akibat kaos basah, terlentang di aspal sebelah mesin pompa bensin, mandangin langit hitam. Nelongso…, sudah 25K, baru 25K, sudah 25K, baru 25K! Ada pasangan ideallucu NovnovDanbul yang nemenin dan mBak Icha yang merawat pelari kesayangannya, MasRahmat. Dingin dan NovnovDanbul nawarin pinjaman kaos ganti, tapi kaos berkerah. Masa’ lari pake kaos berkerah sih? Tidaakkk…

Ya sudah lari lagi deh daripada tambah dingin. Beberapa puluh meter, masih dingin, pengen juga sebenarnya nanya NovnovDanbul, tawarannya masih berlaku gak? Hehehe… Sebagai ganti kaos yang batal dipinjam, NovnovDanbul mulai mengawal kami, setiap beberapa ratus meter mobilnya berhenti menunggu. Terharu banget, asli! (peluk Danbul cium Novnov). Tapi urusan dengan Transformer belum selesai nih, huh! Tigabelas kilometer ke depan adalah jalan praktis menurun, dan biasanya itu menyenangkan. Kalau buat pelari dan supir truk bis, jalan turun sama-sama menyenangkan, lalu siapa yang harus mengalah (lagi)? Hayo coba tebak siapa? Siapaahhh? Begini gambarannya, setiap kali melihat kendaraan dari depan, saya akan menengok ke belakang. Melihat ke Ina dan kemungkinan adanya Transformer dari belakang. Kalau ada bis atau truk, saya memilih waras. Berhenti berlari, berjalan atau berdiri. Kadang malah harus melompat keluar dari jalanan aspal ke jalanan batutanahrumput yang tingginya beberapa puluh senti di samping kiri jalan. Supir-supir eduunnn! (Kang Otjie bilang : “Hahahaaaaa…. Truk-truk juga bilang, anjritt ini orang-orang pada ngapaiiin lelarian jam segini”). Entahlah siapa yang waras, siapa yang gila, jalanan masih gelap.

Sampai di CP 3 KM 38 di RM & TahuTanjung Rasa Resto, langit mulai terang. Ada tikar, rebahannya lebih nikmat. Ada jajanan lontong dan tahu dari Novnov. Tentunya dari teman-teman komunitas lari juga lengkap suguhannya. (Teman-teman komunitas lari yang luar biasa, di setiap CP, total 9, pagi siang sore malam, beberapa bahkan dengan mobil berjalan. Ucapan terima kasih berkali-kali pun rasanya tidak cukup untuk mereka. Tanpa mereka, apalah artinya kami para pelari. Seperti pebalap F1 tanpa pit stop, seperti pengelana tanpa rumah singgah.) Sepotong lontong dan tahu saja yang saya lahap. Tidak nafsu makan. Atau mungkin energi dari masakan ayam obat dan traktiran makan malam Lily (Hatur nuhun, Ly!) masih berasa.

Sebelum matahari naik lebih tinggi, Ina dan saya lanjut, 20K di depan untuk sampai ke kota Sumedang. Kali ini, NovnovDanbul berpikiran brilliant! Mereka mengawal persis di belakang kami, lengkap dengan lampu hazard dan sekali-kali terdengar raungan sirinenya. Jadilah Transformer lebih sopan sekarang, melaju sedikit ke tengah, gak mepet-mepet ke kami wong cilik. Weekkk… Lega. Plus muncul mobil Billy dan Mo. (Menemani sekitar 100K sampai Cirebon. Terima kasih luar biasa ya Bil. Mo jangan kapok ya, please…) Dan mobil Vera Jeco dan Heri Halidi. (Terima kasih spesial untuk Heri yang terbang khusus dari Pontianak untuk ikut menemani.) Belakangan trio MEGA Runners (Dedy Hasan HaiSan, Hallo Broer! Thanks Guys!). Lega dan aman sekarang. Pikirin lari dan lari aja.

Sabtu, 19 Desember, jam belum menunjukkan pukul 9 pagi, kami mencapai CP 4 KM 58 di Kantor Kades Paseh Kidul, Sumedang. Finish pertama untuk Ina dan saya. Disambut anak-anak sekolah berbaris bersorak ramai dan melambai-lambai. Disambut sepasang putra putri anak negeri, yang menyerahkan harapannya dalam gulungan kertas. (Kami cinta kalian, Nak. Karena itulah kami berlari sejauh ini. Karena itulah kami harus melawan lelah kantuk dingin panas. Karena itulah kami harus bertarung dengan bis dan truk. Karena itulah berbulan-bulan kami harus berlatih dulu. Karena itulah berbulan-bulan dengan segala cara kami lakukan untuk mendapatkan donasi. Karena itulah berbulan-bulan kami harus meminta-minta donasi. Karena itulah berbulan-bulan kami bahkan harus mengemis-ngemis. Karena kami cinta kalian, Nak…)

CP ini sangat ramai karena merupakan tempat teman-teman relay bertukar tempat. Bisa istirahat lebih lama, makan pagi atau siang dengan benar. Ganti pakaian atas bawah yang sudah basah sejak malam tadi dan saya tidur sejenak di mesjid. Tidak terlalu lelap. Padahal nasi ayam tersedia, tapi milih makan mie instan plus nasi putih (ini maksudnya makan benar?). Rindu Indomie.

Sekitar pukul 1 siang lebih, kami beranjak. Oh ya, cuacana benar-benar bersahabat. Matahari tidak terik, cenderung berawan. Separuh kedua perjalanan hampir seluruhnya jalan rata, terbentang 77K ke Cirebon, hampir 2 kali lipat ukuran marathon.
CP 5 adalah KM 75 di RM Padang. Berlari bagian 17K ini lutut kiri terasa sakit. (Sebenarnya sebelum Sumedang tadi, sudah mulai terasa juga. Mencoba mengabaikan saja dengan harapan tidak bertambah rasa sakitnya. John Rambo pernah bilang sakit hanya ada di pikiran, bener gak sih John?) Plus kantuk mulai menyerang. Begitu mencapai CP ini, langsung menuju ke dokter fisio untuk minta terapi. Setelah dipijat dan kaki ditekuk-tekuk, mBak dokter melakukan beberapa tes posisi berdiri, jongkok, berjalan, melompat, sampai keluar hasil rekomendasinya “Ok, boleh lanjut!”. (Cihui, makasih Dok, ups, lupa namanya. Maafkan ya Dok.) Sekarang soal kantuk. Ya tidur toh, masa perlu minta rekomendasi mBak dokter juga. Rebah dan tidur…

“Sampai dilalerin gitu!” teriakan Adit sontak membuat bangun. Tidur gak seberapa tapi kagetnya itu. (Soal dilalerin agak sensitif untuk orang-orang berumur, terkesan dekat dengan “itu”. Perlu ditegaskan ya, itu untuk mereka, orang-orang berumur, bukan untuk saya. Saya harap kita semua sangat paham soal yang satu ini.) Rombongan tambahan JRR bergabung, Adit Negong Widuri. Adit Si Manusia Seterika lengkap dengan sepedanya, siap menemani. Negong yang baru beli sepedanya (Baru dalam pengertian yang sebenar-benarnya, karena baru beli di Kadipaten, gak jauh dari CP 5 ini. Luar biasa kan niatnya… Thanks ya Dit, Gong, Wied.)

Sebelum gelap, kami mulai berlari lagi, 13K menuju CP 6, SPBU lagi. Kali ini ada Adit dengan sepedanya, tetapi jalanan tetap masih lengkap dengan segala jenis kendaraan yang berseliweran. Hanya saja kantuk benar-benar sudah menggantung di kelopak mata. Berlari atau berjalan butuh konsentrasi dan kesadaran penuh, atau minimal setengahnya. Takut sempoyongan dan limbung sedikit ke tengah jalan, dan wuuzzz, selesai perjalanan. Begitu mencapai CP di KM 88 itu, langsung ganti kaos dan tidur. Menghampar di teras, entah bangunan apa di pompa bensin itu (namanya juga ngantuk berat). Entah berapa jam atau berapa menit tertidur, terbangun dan membayangkan masih ada 1 marathon lagi yang harus ditempuh, dengan berat, kembali berkemas untuk lanjut. Ina siap? Ok, lanjut kita.

Sekitar 9K menuju CP 7 di Klinik Dokter Umum, Dedy menemani kami berdua menembus malam dan kantuk Malam Minggu. Berlari dan berjalan, berlari lagi dan berjalan lagi, dan tidak banyak yang saya ingat. Malam gelap. Seperti juga ingatan saya. Termasuk penggal kilometer berikutnya menuju CP 8 di Kantor Kuwu Desa Kedung, di mana Hasan aplusan dengan Dedy. (Mungkin Dedy kesal, kok jalan lari jalan lari, hehehe, sorry ya Ded, cape…) Di dua CP itu saya sempat istirahat dan tidur sekenanya, di balai dan di bilik. Plus Indomie lagi, cinta selera Nusantara. Selebihnya, sekelebat hanya mengingat warung-warung malam yang mulai membenahi dagangannya, anak-anak muda yang masih nongkrong begadang, lengking nyanyian malam mengalun dari rumah penduduk, dan entah apa lagi.

Tengah malam, di jalan yang senyap dan gelap, antara sadar dan setengah sadar. Sebuah titik di alam semesta terus bergerak, secercah terang kecil terus berusaha menembus gelap. Saya terlalu mengantuk, dan terlalu lelah sudah…

“Nobody is forcing me to do it, or asking me to. Nobody else cares if I run or not. But I always go. Something makes me do it. Running itself has its own raison d’être.” Adharanand Finn

Matahari pagi Pantai Utara mulai keluar. Teman-teman, Heri, Negong, Widuri, Novnov dalam pakaian larinya mulai lari bersama kami, ditemani Adit dengan sepedanya. Singgah sejenak di CP terakhir di Pasar Batik Trusmi, mengganti kaos kesekian yang telah basah. Bersama dengan aktivitas Minggu pagi di Cirebon yang mulai ramai, sekitar pukul 08:30 Ina dan saya mengakhiri perjalanan 135K, memasuki Balai Kota Cirebon, melintas garis finish.

“The more I thought about it, the more I began to realize that we run to connect with something in ourselves, something buried deep down beneath all the worldly layers of identity and responsibility.” Adharanand Finn

Saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada Topher Jurian Rian Riefa dan Panitia Besar NusantaRun 3 (jerih payahnya terbayar sudah, NR3 sukses banget, well done guys!), beserta Para Medis dan Photographer. Kepada Komunitas Pelari di setiap CP dan yang tersebar di sepanjang jalan (Apalah kami ini…). Kepada Para Pelari, para malaikat bersepatu kets. Kepada Para Donatur, nama kalian ada di belakang No BIB saya, di dekat dada saya sepanjang 135K. Malaikat membisikkan lembut nama kalian di mimpi indah anak-anak itu. (Kepada YouKnowWho yang telah merubah setiap keping “likes”, what can I say?) Kepada Ina (bangga bisa bersanding dengan Sang Ratu berpuluh-puluh jam). Kepada Willy & Mo (repost : jangan kapok ya, please…), Heri Halidi (mari jelajah Nusantara!), Novnov & Danbul (cium & peluk lagi), mBak Icha (salute!), Trio Dedy Hasan HaiSan (keluarga MEGA kami!), Trio Adit Negong Widuri (toss toss peluk). Kepada teman-teman JRR, MEGA Runners dan MEGA. Kepada Teman-teman. Love you all…

NH

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.