Anakku,

Janjiku kali ini isi suratku bukan mengenai investasi dan saham. Kamu pasti sudah mulai bosan ya. Akupun. Sedikit. Dahulu dan kadang aku sempat berpikir, berapa banyak sih tulisan – versiku – bisa dihasilkan dari hal yang namanya investasi dan saham. Wong simple gitu. Namun kadang ada saja hal yang tampaknya bisa (dan perlu) ditulis, dan aku “terpaksa” menulis lagi. Dan lagi. Dan lagi. Tetapi tidak untuk kali ini. Ini kan sedang musim liburan. Jadi akan soal liburan saja ya. Liburan kita.

Yup, kamu sudah bisa menerka. Soal keputusan kita, persis di ketinggian 3000 mdpl, sekitar 3 jam menuju Mahameru. Kegagalan kita mencapai puncak Semeru. (Oh ya bukan menaklukkan gunung, kamu setuju kan? Gunung itu sahabat, dan bukan untuk ditaklukkan.) Dalam gelap, aku tak bisa melihat jelas wajahmu, tetapi aku tahu, aku merasakannya. Kecewamu. Walaupun saat itu pukul 3 subuh hitam pekat di lautan pasir itu. Hanya senter-senter kepala kita saja yang bercahaya, menerangi pasir-pasir kasar bercampur halus. Tanjakan 45 derajat, pijakan pasir yang berulang kali memundurkan langkah dan pijakan kita, dengan jurang menganga di kiri kanannya. Plus batu dari atas sana yang setiap saat bisa terguling ke bawah, menghantam kita. Dan pagi itu, kabut memang terlalu tebal menghalangi pandangan kita, ditambah titik-titik air yang semakin deras mendera, berkilat terkena sinar senter. Membuat basah kita dan hampir seluruh pakaian kita yang sudah berlapis-lapis. Angin? Masih ingat malam ketika kita bersiap tidur dan mendengar gemuruhnya yang menakutkan? Dan terus bergemuruh sepanjang malam, mengusik tidur kita yang tak terlalu nyenyak. Menggesek ujung-ujung pohon-pohon cemara yang mengeluarkan bunyi wuz wuz wuuzzz. Membawa titik-titik air yang kadang terdengar deras di atas tenda kita. Sungguh menciutkan nyali.

Keputusan terbaik adalah memang turun, membatalkan summit attack. Entah ada badai atau tidak di ketinggian 3.676 mdpl di atas sana, Mahameru. Yang pasti hari itu memang bukan milik kita. Paling tidak, hari itu Mahameru belum berkenan untuk kita. Dia menyukai kita, dan menunggu kita datang berkunjung lagi. Tampaknya.

“This is the song for lonely people
Who try and do not win
Who cry and there’s no time
This is the song for unknown hero”

Lagunya Michael Cretu, Nak. Aku lupa judulnya, dan ndak tahu nyambung gak dengan tulisan ini. Hahaha, aku suka saja lagu itu.

Anakku,

Terlepas Mahameru, kalaulah kita sebut itu suatu kegagalan, adakah hal lain yang sebenarnya kita dapatkan? Bukankah banyak? Sungguh banyak.

Ranu Kumbolo yang indah, dengan air danaunya yang tenang dan bersih. Langit malamnya yang bercahaya bertabur ribuan bintang, mungkin jutaan. Paginya yang menggigilkan, dengan kabutkabut tipis di permukaannya menari berputar-putar berkejaran ke arah matahari terbit. (Oh ya, dan kita makan siang di hamparan rumput di pinggirnya, di ketinggian 2400 mdpl, “mewah” bukan?)

Hamparan tanaman mirip lavender terbentang luas di Oro Oro Ombo. Nama kampungnya sekolaan, nama sekolahannya verbena braziliensis. (Bingung?) Tanaman yang kembangnya berwarna ungu cantik namun mematikan, rakus menyerap air, membunuh tanaman sekitarnya. (“Yang cantik biasanya mematikan, ya Yah?” Heh, kita bahas lain waktu ya, Nak.)

Kali Mati, pos terakhir tempat kita bermalam dan memandangi megahnya Mahameru, sebelum mendakinya tengah malam. Di sisi kiri tenda kita, sinar matahari paginya memberikan nuansa magis. Menakjubkan. Aku sering melihat semburat sinar matahari seperti itu di foto-foto, dan sekarang tersaji di depan mata telanjang kita.

Nak, dari awal, kamu membuatku bahagia, ketika mengatakan ingin mengisi liburanmu kali ini dengan naik gunung. Kegemaranku, yang mungkin kamu sukai juga sekarang, yang aku percaya membentuk karakterku, dan otot-ototku. Dan tentu saja akan berlaku untukmu juga, pada saatnya nanti. Kebersamaan, kita bersama menapak jalan setapak melintas ilalang liar dan hutan cemara, bersama nafas ngos-ngosan, kepanasan dan kedinginan, bersama menikmati pemandangan alam sepanjang lintasan punggungan bukit, bersama hening diam mendengarkan suara alam yang sunyi tak bersuara. Kita bersama-sama jajan semangka dan gorengan di pos-pos perhentian, bersama-sama menikmati senter light dinner di dalam tenda kecil kita. Ya, kebersamaan. Itulah arti liburan kita, setelah menjalani hari-hari padatmu danku. Mahameru adalah bonus, kalau kita dapatkan. Kalau tidak, seharusnya tidak (banyak) mengurangi kebahagiaan kita, kan?

Anakku,

Ketika berjalan menjauh meninggalkan Semeru, kamu memandang kembali Mahameru, yang tengah menyemburkan gas kelabunya, menyatu dengan awan putih dan langit biru di atas sana. Sorot matamu masih menyimpan sesuatu. Senyummu juga. Masih berat dengan kegagalan ini? Baiklah, setelah ini kamu bisa googling segala kalimat cantik mengenai “kegagalan”. Ratusan kalimat blablabla terkait kata itu mungkin akan membantu menghiburmu.

Aku titip satu kalimat yang ingin kusampaikan kepadamu, ingatlah selalu. “Aku bahagia selama ini mengajarimu arti kesuksesan, namun aku lebih bahagia hari ini ketika kamu belajar sendiri arti kegagalan.”

Jangan lupa ajak aku, saatnya kamu kembali mendaki Semeru,

Ayah

***

Catatan:

Satu hal lagi Nak, dan ini penting. Kamu lulus melahap Bukit Cinta, melewati kakakkakak dan masmas yang terengah-engah, tanpa berhenti dan tanpa menengok ke belakang. Jaminan jodoh masa depanmu aman, katanya. Kata mitos. Mari sekali-kali percaya mitos.

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.