SURAT UNTUK ANAKKU (15)

Hidup adalah soal urutan. Aku terlahir di urutan kelima dalam keluargaku, bukan anak pertama ketiga atau ketujuh. Urutan yang membawaku ke diriku sekarang ini, bukan seseorang yang lain. Aku seolah “diurutkan” untuk menjabat direktur bursa pada periode 2015-2018, bukan pada dua periode sebelumnya, dimana Aku gagal pada saat pemilihan. Bayangkan kalau terjadi “salah urutan” di dua hal itu saja, tidak akan pernah ada nama “Nicky”, tidak di lingkungan yang membesarkanku, tidak menangani pengembangan bursa, tidak pernah ada tulisan ini, dan tulisan-tulisan lainnya. (Aku bahkan tengah membayangkan urutan penciptaan, kalau saja Eva hadir terlebih dahulu -dan kitalah, lelaki, tulang rusuknya- entah bagaimana nasib Adam, dan nasib kita saat ini.)

Read More

SURAT UNTUK ANAKKU (13)

Sekali lagi Nak, kematian memang gelap dan kelam. Misterius. Rahasia semesta. Bisa terjadi kapan saja dimana saja siapa saja. Ayahmu ini -yang beberapa pesan masuk tadi mengingatkan sudah tidak muda lagi- tampaknya masih akan tetap terus berlari. Seperti pernah kukutip di sebuah tulisanku: “I know only two things. One, I will be dead someday; two, I am not dead now. The only question is what I shall do between those points.” I will keep on running. Aku akan terus berlari. Sebisaku. Semampuku. Sesukaku.

Read More

Surat Untuk Anakku (12)

Kalau sebuah keteledoran kecil, sebuah ketidakpedulian kecil, sebuah keegoisan kecil, dapat membawa efek berantai demikian buruk dan besar, tidakkah sebuah senyum kecil, sebuah keramahan kecil, sebuah kemurahanhati kecil, juga seharusnya dapat membawa efek berantai baik dan besar?

Read More

Surat Untuk Anakku (11)

People should train their minds so that they would not disturbed by whatever kinds of words they might hear, whatever kinds of acts they might see. They should train their minds and keep them broad as the earth, unlimited as the sky, deep as a big river and soft as a well-tanned leather.

Read More