Anakku,

You don’t choose your passion, it chooses you. ~ Carmine Gallo

Kamu pasti penasaran, antusias membaca suratku ini. Apa lagi sih yang mau ditulis orang tua ini setelah pensiun “tidak bekerja” 3 bulan, masa’ itu-itu lagi?

Begini dongengnya, Nak. Pada mulanya adalah simbol-simbol dan gambar-gambar, yang dipahat dan dilukis di dinding-dinding gua purba. Itulah sarana bercerita. Manusia belum mengenal huruf, kata, dan tulisan. Dan hingga kini kita masih mewarisi manusia purba generasi yang itu, lebih suka gambar daripada tulisan…

Waktu kecil, sekolah dasar, Aku mencintai pelajaran menggambar. Ada dua gambar karyaku yang kusuka, karenanya aku mendapat nilai tinggi, tertinggi di kelas. Gambar pertama adalah tebing karang pinggir laut di sisi kanan, dengan jalan setapak di bibirnya, dan satu atau dua batu pijakan yang menonjol. Selebihnya adalah hamparan laut lepas. Senja dengan matahari yang bersiap tenggelam, dalam warna keemasannya. Yang kedua berupa air terjun di tengah gambar. Sisi kiri agak ke bawah, terdapat sebuah rumah kampung sederhana, dan undakan tangga berbatu turun menuju ke kolam yang terbentuk dari air terjun. Aku lebih suka gambar kedua. Peaceful. Dan rasanya Aku sudah mengalami keduanya. Dalam realita.

Bakat menggambarku tidak berlanjut. Lagipula tidak ada yang mengatakan aku berbakat juga sih. Dan Aku mulai menyukai membaca, apa saja. Belum ada media elektronik saat itu, jadi tidak terlalu kewalahan. Koran dan majalah, ingin dilahap seluruh isinya, setiap lembar setiap sudut setiap berita. Juga buku-buku. Tetapi tidak dengan novel. Fiksi apalagi. Entah kenapa, rasanya tidak cukup telaten membaca dari awal hingga akhir. Bahkan hingga kini. Terhitung jari rasanya novel fiksi yang pernah dibaca. Novel pertama yang kubaca berjudul “Aku Takkan Menangis Lagi”. Tokohnya Nicky Cruz (Nicky? Hmm, mengingatkan kepada nama seseorang, kan? Itu sejarah, Nak.)

Ketika sekolah, SMA, pernah ditugaskan membuat cerpen, cerita pendek. Pas masa orientasi, gak tahu kenapa tuh senior suruh bikin cerpen, sepuluh sekaligus. Ya, sepuluh! Entah bagaimana nasib cerita-cerita itu sekarang, entah dimana. (Sayang juga waktu itu tidak terpikir mengirimnya ke majalah Anita Cemerlang. Kamu tahu majalah apa itu? Googling aja ya, Nak. Panjang ceritanya.) Dan juga pernah membuat beberapa puisi. Yang ini bukan ditugaskan, tetapi lebih karena terpaksa. Terpaksa? Dipaksa. Dipaksa? Ya, dipaksa. Dipaksa hati.

Oktober/Di satu hari/Di satu tempat/Segenggam cinta pernah begitu mekar

(Gak usah cerita ke Ibumu ya, Nak. Kami belum bertemu saat itu.)

Di luar novel, Aku menyukai banyak ragam buku bacaan, kecuali buku memasak. Coba cek di lemari, ada bukubuku kumpulan cerita pendek domestik dan asing (pendek, sekali baca selesai, tetapi bukan cerita macam yang di Anita itu), bukubuku filsafat bukanteori, bukubuku psikologi ringan, menyebut beberapa di antaranya. Kamu lihat, ada Tolstoy, Gibran, Machiavelli, De Mello, Ajahn Chah, Thich Nhat Hanh. Dan sejak berkecimpung di dunia pasar modal, mulai mengkoleksi buku-buku mengenai investasi.

Anakku,

Mendapatkan cetakan emboss “National Best Seller” di cover buku “Yuk Nabung Saham – Selamat Datang Investor Indonesia!” tentu saja luar biasa, tidak pernah terpikirkan, tidak pernah dibayangkan. September ini tepat setahun setelah diluncurkan, Aku mau memperingatinya dan sekalian mengajakmu flashback mengenai sejarah buku ini. Karena kadang di luar sana masih ada orang yang bertanya-tanya mengenai “ketulusan” buku ini. Nanti Kamu bantu jelaskan ya, Nak.

Agustus 2015, adalah awal mula tulisanku di koran. Seorang teman di media minta dibuatkan artikel untuk dimuat setiap hari Senin, di pojok bawah halaman pertama korannya. Hingga total 13 kali penerbitan sesuai rencana awal (termasuk artikel berjudul Yuk, Nabung Saham di akhir bulan Agustus itu). Setelahnya, Aku “menyerah”. Terlalu berat sudah hidup, masih dikejar deadline dan mencari tema. Tetapi terimakasih juga kepada temanku itu, Si Hantu Baik Hati. Aku percaya, inilah triggernya. Writing mode is on now.

Aku jadi suka menulis. Tanpa deadline, mengalir saja, berserah kepada mood. Dan bersyukur dimuat media-media cetak lain. Tentang pengalaman perjalanan dan berinteraksi, tentang capaian kerja. Beyond that, sebenarnya tentang seharusnya, tentang awareness, tentang semangat, tentang berpikir positif, tentang optimisme. Nyaris selama dua tahun. Tanpa terpikir sedikitpun untuk lebih dari itu, atau menjadi sebuah buku. Komersial apalagi. Nol. Nihil. Sama seperti harga tulisan-tulisan itu di media.

Lalu kemudian ada penerbit yang menilai artikel-artikel itu layak menjadi sebuah buku. Ragu dan terkejut. Tetapi kenapa tidak? Anggaplah, mengkliping tulisan-tulisan itu. Dan kalau sekarang, setahun kemudian, lebih dari 6.500 buku terjual, semoga buku itu memang digemari. Dan semoga bermanfaat untuk pembacanya. Ayahmu kebetulan hanya suka menulis saja. Me-time banget. Selain lari. Jadi keterusan, sampai sekarang, menulis perjalanan lelarian, menulis otobiografi, menulis cerpen, menulis puisi. Dan tetap menulis soal investasi. Sekali-kali.

Anakku,

Mulailah menulis. Atau minimal membaca. Jangan hanya terpaku dengan gambar. Itu terlalu purba. Benar sih, picture speaks thousand words, tetapi words inspire, words destroy, words change the world.

Salam pena,

Ayah

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

One thought on “SURAT UNTUK ANAKKU (5)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.