Tubuh yang lelah, beristirahatlah sejenak.
Hai, jiwa yang lelah, apa yang akan kau lakukan?

“Paman, boleh tolong seberangkan saya?”

Aku belum mudeng. Nyeri atas tumit belakang mata kaki kiri yang mulai mengganggu sejak Ciawi bawah sana masih terasa. Sudah sekitar 10 kilometer menyeret langkah di jalanan Puncak yang menanjak, dan ramai padat kendaraan di kiri kanan jalan. Beberapa angkot, kendaraan pribadi, sepeda motor kadang masih tega mendesakku keluar bahu jalan. Asem! Masih lebih baik seorang kondektur bis antar kota yang berteriak menawarkan, “Naik bis aja Pak, dah lemes gitu…” Aku hanya tersenyum. Senyum sengit sih. “Ya Mas, mau istirahat di depan!” Ya, tujuanku adalah water station terdekat, mungkin sekitar 2 kilometer lagi. (Dan aku kehilangan orientasi, jam tanganku blank kehabisan baterai.) Sempat berhenti istirahat dan bimbang di pelataran salah satu factory outlet tadi. (Sempat ngejus avocado coffee juga, gak sedihsedih banget kok ceritanya.) Kenapa tidak lanjut saja, cari fisiotherapis di water station terdekat untuk memastikan kenapanapanya. Biar rela kalaupun harus dnf, do not finish. Akhirnya, berhasil juga mencapai WS, water station di depan, KM70. Yeaayyy…

Namun sayangnya, di WS ini tidak ada tenaga medisnya. Hiks! Akan ada di WS selanjutnya, 14 kilometer di atas sana. WS kedelapan merangkap CP, check point kedua, KM 84, dari total 170K yang harus dijalani. Argh!

Better an oops than a what if.

Mendapatkan semprotan obat penahan sakit, walaupun tidak banyak membantu. Plus pelukan hangat salah satu donatur setia setiap charity run-ku, aku memutuskan lanjut. Ada pertanyaan yang belum terjawab, ada lubang besar menganga di balik dada ini. Terus berjalan dan kadang memaksakan berlari ketika ketemu lintasan menurun. Tetap dalam nyeri. Cisarua.

“Paman, boleh tolong seberangkan saya?”

Gadis itu mengulangi kembali permintaannya, di tengah langkah lemahku. Aku memandangnya, mengangguk. Memandang ke kanan dan kiri, terutama mobil motor yang melaju dari arah bawah. Aku mengangkat tangan kanan tinggi-tinggi, “Yuk!”. Gadis berjilbab ungu itu memegang tas pundak lariku. Sekejap saja kami sudah di seberang, dan aku kembali menyeberang balik. Memandangnya masuk ke warung, aku meneruskan perjalanan. (Serasa dejavu ketika empat tahun lalu menyeberangkan seorang ibu di daerah Cianjur sana, dalam pelarian Bogor Bandung. What a life!)

*

Dua hal yang harus kulakukan di CP 2, persis tengah perjalanan, BNI Pusat Jakarta ke Kampus ITB Bandung. Mencari jawaban atas kaki ini. Dan tidur. (Sejak start 16 jam lalu, baru merem berapa lama ya? 15 menit atau 30 menit?) Makan? Gak urgen. mBak fisiotherapis memeriksa, memintaku melakukan satu dua gerakan. “Gak papa, hanya karena otot betis yang kencang, mungkin tadi ada beberapa gerakan spontan jongkok atau duduk yang membuat otot sekitar tumit jadi ketarik.” Aku suka dengan kalimat “gak papa”. Terimakasih, mBak. Berikutnya, tidur. Sejenak. Apa boleh buat, terlalu banyak sudah waktu yang terbuang untuk seretan kaki sepanjang Ciawi ke Kebun Teh Gunung Mas Puncak. Sekarang sudah lebih dari pukul 2 siang, tidak lebih dari satu jam lagi adalah cut off untuk check out dari check point ini. Pukul 03:00 siang batasnya. Check out or dnf. Bleg, zzz… hilang itu nyawa, entah melayang kemana.

Aku dibangunkan 15 menit sebelum pukul 3 itu. “Lanjut, Om?” Mencoba mengumpulkan kembali nyawa yang hilang tadi. Apa yang harus kulakukan? Lanjut? Dan tiba-tiba gerimis tipis mulai turun. Indah? Biasanya ya, sangat. Aku menyukai, mencintai dan menikmatinya, gerimis tipis di antara pohon-pohon cemara. Tetapi tidak kali ini. Alam seolah memberiku isyarat, waktunya untuk berhenti?

“Untuk segala sesuatu ada masanya. Untuk apapun di bawah langit ada waktunya.”

Baiklah. Namun ini belum waktuku. Kan? Sudah tidak sempat lagi makan. (Tetapi setelah ini, dalam perjalanan, aku sempat jajan bubur, plus teh susu pinggir jalan, nikmat. See, ceritanya gak melulu nestapa, kan?) Aku lanjut, 13K ke depan adalah dominan turunan. Kesukaanku. Dan mungkin untuk banyak pelari lain juga. Ke arah Cipanas, dan WS berikutnya di Sangga Buana, KM97. Masih dengan kaki kiri yang kadang tetap terasa nyeri, dan sedikit mulai membengkak.

Dalam guyuran gerimis. Aspal yang basah dan becek. Antrian mobil-mobil di sisi kanan jalan, yang supirnya memandang dari balik kaca. Mungkin bertanya-tanya. Mungkin menggeleng-gelengkan kepala. Apa yang kau cari? Tidakkah kau lelah?

Tubuh yang lelah, beristirahatlah sejenak.

Ya, ternyata aku lelah sudah. Di KM97, pukul 5 sore, masih ada 73K yang harus ditempuh, dalam waktu 15 jam ke depan. Dengan kondisi penyok – meminjam istilah seorang teman lari – masih lanjut, Nick? Aku melepaskan nomor dadaku, 1041, mengembalikan ke panitia. Aku butuh istirahat. Sejenak. Kali ini. Untuk lanjut kembali nanti, di lelarian lainnya.

Kawan, bagaimanapun aku menikmati banyak hal kali ini. Mungkin seolah hal-hal kecil. Aku senang menyeberangkan anak gadis tadi. Senang bisa bertemu teman-teman yang tidak disangka-sangka di beberapa WS. Senang diantar teman-teman di garis start, dan akan ditunggu di garis finish (yang tidak kejadian). Bahagia berlari untuk pembangunan rumah singgah (walaupun bangunannya tidak akan sempurna karena target donasi yang tak tercapai). Bahagia akhirnya semakin memahami karakter orang. Menyadari, sekali lagi, susahnya mencari donasi. Capeknya perasaan. Lelahnya jiwa. Jiwa yang lelah. Pun dengan orang-orang di sekitar kita. Dan aku bahagia pada akhirnya dapat mengambil keputusan kecil untuk itu.

Hai, jiwa yang lelah, apa yang akan kau lakukan?

NH

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.