Ribuan pelari full marathon MayBank Marathon Bali 2019, yang memulai pelariannya tepat pukul 04:30, memadati satu jalur jalan By Pass dengan hanya dua lajur kendaraan yang tersedia, bukanlah urusan mudah. Mesti menjaga pace, agar tak terdesak dan terdorong untuk yang pelan, juga perlu zigzag kiri kanan untuk yang hendak ngebut. Sampai dengan lima kilometer pertama, barulah mulai sedikit terurai. Tantangan lainnya adalah sepanjang 10K pertama pelari melangkah dalam gelap, mempercayakan sepenuhnya pijakan kaki ke permukaan aspal yang -untungnya- rata. (Walaupun tidak boleh terlalu mengandalkan Untung, karena ada kalanya dia kalah dari Donald.) Sinar redup dari glow stick yang diletakkan di beberapa bagian sisi jalan hanya sedikit membantu. (Tapi lumayan untuk hiburan, warna-warni syantik.) Berlari dalam pasrah. Sepenuhnya pasrah.

Klop, pasrah. Sejak awal, saya memang berniat pasrah. Menyalakan AppleWatch saat start dan selanjutnya sama sekali tidak mau meliriknya. (AppleWatch, selama lari saya di bawah 6 jam, saya yakin masih “on”, saya pakai karena suka dengan awards-nya, ada target bulanan dan beberapa target achievement lainnya, plus beberapa limited edition awards yang pernah saya kumpulkan, National Parks Challenge, Earth Day Challenge, International Women’s Day Challenge. Luculucuan.) Tapi, tadi, tidak saya lirik, ya pacenya, ya jaraknya, ya waktunya, ya heart ratenya. Gak ada urusan. Saya mau lari happy, enak seenak-enaknya, nyaman senyaman-nyamannya. No technology. No target. (Langsung ingat teriakan Mel ‘Brave Heart’ Gibson, “Freedom!”) Gak mau diganggu.

Walaupun gak mau diganggu, tetapi urusan diganggu yang ini-ini tidak boleh tidak diladeni. Bertegur sapa dengan sesama pelari, sempat nebeng teman lari yang ngevlog, dan terutama ini, anak-anak yang antusias cheering. Anak-anak yang berbaris di pinggir jalan, dalam pakaian bebas, seragam sekolah, pramuka, dan pakaian adat Bali (laki perempuan dandan lengkap) berjejer. Itu selepas 10K, ketika langit perlahan mulai terang, jalur By Pass telah selesai dan jalur lari telah memasuki daerah pemukiman. “Wooiii…” adalah andalan teriakan saya (balasannya jauh lebih meriah) sambil merentangkan kiri kanan tangan menggapai tangan-tangan mungil yang terjulur, (ada juga tangan-tangan buguru; kalau pakguru kurang saya perhatikan.), sambil berlari. Dan saya terus berlari. Saya butuh pisang.

Pisang bukan andalan saya di water station, sedikit bosan. Biasanya saya akan memilih semangka, kalau ada. (Atau durian, misalnya.) Tetapi sekali ini saya tidak berpilihan, tidak boleh berpilihan juga. Salah dan konyolnya saya, belum sarapan. (“Don’t try this at your race!”) Di pinggang saya hanya terselip HP dan uang kertas. Kilometer 22, water station, setelah 2 jam lebih, akhirnya ketemu juga pisang. Satu buah, tiga empat gigitan, tuntas, persediaan energi lebih dari cukup. Siap untuk menyentuh titik elevasi tertinggi, 129 mdpl, jalanan masih dan terus menanjak.

Selama ini saya suka jalanan menanjak, sebuah pembenaran dan pembohongan ke diri sendiri bahwa saya diperkenankan untuk berjalan. Tapi tumben kali ini saya memaksakan untuk tidak berjalan. (Pasrah di awal yang berefek positif, pasrah yang sepenuhnya menyerahkan ke kaki, bukan ke kepala. “I know my body can do it. I just hope my head can.”) Terus berlari mencapai titik tertinggi itu, persis di KM 26, tempat bercokol Monster Hit The Wall. Sedikit waswas kalau-kalau monster itu melompat keluar dan menghadang, eh, ternyata dia nyenyak entah dimana. Syukurlah. Mungkin sorak dan lambaian anak-anak menakutkannya. Mungkin juga tiga orang pelari yang beriringan dengan saya mengalihkannya. Tiga pelari, dua dengan seragam smp dan satu dengan seragam sd, lengkap dengan topi dan dasinya, selalu mengundang senyum warga. Kostum Captain America saya kalah menarik akhirnya, hiks. (Harusnya saya berkostum Gundala, mungkin.) Tetapi tidak sepenuhnya gatot, gagal total, ternyata. Captain tetap Captain.

Kostum Captain yang sama yang saya pakai di Bukit Tinggi (“Minang GeoPark Run 2018”) mengundang sapaan seorang pelari dari Padang yang mengenalinya. (Ah, top juga nih si Captain; bukan saya, karena dia tidak tahu nama saya.) Jadilah kami berlari bersama, sejak KM 30an kecil. Ternyata FM pertamanya, virgin. (Enam tahun lalu saya diperawani di sini juga, Bali.) Drama dimulai, KM 34. Tenaga pisang habis, butuh pisang berikutnya. (Sebuah kami bagi berdua, mulai mesra.) Kedutkedutan nyutnyut otototot pahapaha. (Saling nular antar paha kami, “Inikah rasanya cinta? Oh inikah cinta?”) Mata berbinar-binar melihat tumpukan sponge pink basah dingin. (Laksana Kapten Haddock melihat oase!) Tawaran CocaCola cumacuma di pinggir jalan. (Mak! “Here’s Coke… The Pause That Refreshes”). Jadilah ada pause, ada walk. (Gak papa, masih konsisten kok pasrahnya.) AppleWatch baru mulai dilirik (jangan marah ya), menengok perkiraan waktu finish. Argh, cakep kok waktunya.

Waktu. Tampaknya menjadi segala-galanya untuk sebagian (besar) pelari. Dewa Waktu menjadi pujaan. (Seperti juga Dewa Major.) Apa mau dikata. Medali dan kaos finisher saja tidak cukup nyatanya. Pengalaman lari berjam-jam seolah tidak ada artinya dibanding hanya deretan pendek beberapa angka penunjuk waktu itu. Lemparanbunga tarian sapaan sorakan lambaian ulurantangan (“anakanak yang berharap tangannya ditepok”, “jam berapa tadi kamu bangun, Nak? sudah berapa jam kamu berdiri, Nak?”) senyum tawa canda sepanjang jalan berlalu begitu saja, tanpa sedikitpun digubris. Atas nama Sang Waktu. Ralat. Atas nama sang waktu. Mungkin kita tidak peduli.

Andai saya Kenyan, saya tidak akan peduli, karena saya profesional, karena lari adalah profesi saya, karena lari adalah urusan dapur saya, karena lari menghidupi keluarga di kampung saya, karena setelah ini saya akan pindah berlari di negara lain, karena Bali bukan bagian dari saya, karena ini bukan negara saya. Tetapi saya bukan Kenyan.

*Catatan MMB2019

NH

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

4 replies on “SAYA BUKAN KENYAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.