KALAU ALLAH ITU ADA, ADAKAH JALAN ALLAH?

Tiba-tiba saja teriakan terdengar begitu riuh. Pasukan huru-hara berlari mendekat, menembakkan gas air mata, menyerang massa pendemo yang lari tunggang langgang. Asap api dari mobil terbakar dan letusan gas air mata membumbung bercampur di udara. Sementara batu-batu besar dan kecil mulai beterbangan. Dipa merasakan matanya yang perih, kabur berair, berlari sebisa mungkin menyelamatkan diri. Beberapa orang saling bertabrakan, tersungkur dan terjatuh, atau karena terkena hujan batu. Dipa merasakan dia menginjak seseorang. Wanita. Ya, wanita pengendara mobil tadi. Sepintas, dia melihat wajahnya yang sesak kesakitan berlumur darah, dan Dipa merasa bekas jejak sepatunya ada di leher wanita malang itu, “Ya Allah…”

Read More

11 AGUSTUS

“Diri kita yang mengalami, jiwa kita yang mengalami, apa yang lebih luar biasa dari itu? Tidakkah itu jauh lebih penting dari sekadar ingatan kita, sisi diri kita yang selalu mengingat? Mengalami jauh lebih penting daripada mengingat, bukan? Apa yang kita ingat saat ini, mungkin akan terlupakan sepuluh tahun lagi, tetapi apa yang kita alami, akan tetap selalu ada. Selamanya.”

Read More

DEWANDARU

Raungan ambulance terdengar sayup ketika mobil kami mulai bergerak keluar dari area parkir. Berbelok kiri ke jalan raya, kendaraan kami merambat. Suara sirine telah hilang, tampak kerumunan di depan, dan sebuah mobil Innova ringsek yang terbalik. Aku merendahkan kaca, “Kecelakaan, Mas?” Seorang di atas motor berboncengan mengiyakan, “Kecelakaan tunggal, Mas, ngebut nabrak pohon, korban meninggal di tempat.” Aku menaikkan kembali jendela, memperhatikan pecahan kaca yang berkeping-keping, darah segar yang masih berceceran di aspal, dan sebuah topi yang tergeletak. Topi koboi. Rasanya aku mengenalinya.

Read More

THE SECRET GARDEN

“Ka…”
 “Ya…”
 “Boleh ya, berhenti mencintaiku?”
 “Wait Sia… darimana kamu tahu?”
 “Aku tahu Ka, dari kata-kata yang kamu pilih, dari nada suara yang kamu ketik, dari setiap kesenjangan dan keheningan, aku tahu.”
 “Ooh… tapi kamu tidak berhak melarang, Sia.”
 “Aku tahu, makanya aku memohon.”
 “Tapi kenapa harus berhenti?”
 “Sebab kamu bikin aku gelisah.”

Read More