SURAT UNTUK ANAKKU (15)

Hidup adalah soal urutan. Aku terlahir di urutan kelima dalam keluargaku, bukan anak pertama ketiga atau ketujuh. Urutan yang membawaku ke diriku sekarang ini, bukan seseorang yang lain. Aku seolah “diurutkan” untuk menjabat direktur bursa pada periode 2015-2018, bukan pada dua periode sebelumnya, dimana Aku gagal pada saat pemilihan. Bayangkan kalau terjadi “salah urutan” di dua hal itu saja, tidak akan pernah ada nama “Nicky”, tidak di lingkungan yang membesarkanku, tidak menangani pengembangan bursa, tidak pernah ada tulisan ini, dan tulisan-tulisan lainnya. (Aku bahkan tengah membayangkan urutan penciptaan, kalau saja Eva hadir terlebih dahulu -dan kitalah, lelaki, tulang rusuknya- entah bagaimana nasib Adam, dan nasib kita saat ini.)

Read More

KEPADA PEREMPUAN BERAMBUT KEPANG

Naila, Kamu masih ingat surat-suratmu dulu? Apa saja ya isinya? Aku sudah berusaha mengingatingatnya, tapi tetap saja tak mampu. Mungkin Kamu bisa bantu Aku. Sebut saja satu, sudah cukup untuk membuka sumbat di kepalaku. Naila, yang Aku ingat, Aku sejenak melayang ketika sore itu memegang surat pertamamu. (Dan surat-surat kedua ketiga kesepuluh dan kesekian puluh.)…

Read More