Perempuan berambut tebal hitam yang duduk di meja kedua arah pintu masuk ke kanan itu, menggeser sedikit kursinya. Pandangannya ke depan menembus kaca, memperhatikan lalu lalang orang yang bergegas ke kantor pagi itu. Koran The Sydney Morning Herald tergeletak di atas meja, masih terlipat rapih belum dibaca. Perempuan itu tampaknya lebih menikmati orang-orang di luar sana. Kopi lattenya baru dihirup sepertiga, kue macaroonnya pun baru ada satu gigitan. Sudah sekitar setengah jam aku memperhatikannya sejak pertama aku masuk kedai kopi ini. Aku mengambil posisi duduk di pojok kaca sini, tiga meja dari arah masuk kiri pintu. Kedai kopi ini biasanya masih lenggang di pukul setengah sembilan pagi hari. Hanya kami berdua pengunjung di kedai bermeja enam itu. Selebihnya adalah pengunjung yang keluar masuk membeli pesanan takeawaynya.

Ini pagi keempat aku memperhatikan perempuan berambut tebal hitam itu. Dia selalu datang lebih pagi dariku. Duduk di meja yang sama, dengan pesanan latte dan macaroon yang sama, dan koran yang tergeletak tak terbaca. Seperti juga tiga pagi sebelumnya, sekejappun dia tidak pernah menengok ke arahku, mulai dari aku masuk, melangkah ke meja di pojok ini, duduk dan memandanginya. Mungkin pagi ini orang-orang di dunia luar sana memang lebih menarik perhatiannya. Hari Kamis, orang-orang yang tampak lebih bersemangat berjalan menuju kantor, menyisakan satu hari lelah untuk beristirahat di akhir pekan. Namun untuk kembali berlelah payah di minggu berikutnya. Dan begitu seterusnya, sepanjang hidupnya. Inikah dunia yang mereka ciptakan? Inikah hidup yang mereka impikan?

Dari sorot mata sayunya, mungkin itu yang ada di pikiran perempuan itu. Dunia di luar sana, di balik kaca sana, yang sulit dipahami. Dunia yang sudah sembilan belas tahun ditinggalkannya, sejak pertama dia menetap di negeri ini, menikah dan akhirnya mengisi hari hanya dengan mengurus kedua anaknya. Dunia yang berisik dan penuh keburuburuan. Sedangkan di balik kaca sini, dan di dunianya sini, dia begitu menikmati setiap detiknya, lengkap dengan segala kenangan empat puluh delapan tahun hidupnya.

Seperti kemarin, perempuan berambut tebal hitam itu sepanjang pagi, sebelum beranjak pergi, hanya memutar lagu dari gadget, mendengar dengan earphone. Sekitar enam sampai tujuh lagu, selama hirupan habis secangkir latte dan sepotong macaroonnya. Dari pojok sini, aku bisa merasakan lagu-lagunya. Cukup dengan memperhatikan sorot mata dan gerak bibirnya. Aku bisa melihat pantulan matahari pagi dari bola matanya yang kadang membasah. Aku bisa melihat lesung pipitnya yang mencolok ke dalam ketika dia tersenyum sendiri. Bola matanya yang kadang bak bintang dan lesung pipitnya yang sungguh manis. Dan aku jadi iri karenanya. Aku tak memiliki keduanya.

Sedangkan dua hari lalu perempuan berambut tebal hitam itu hanya memainkan smartphonenya. Berkirim pesan dengan teman lamanya di seberang laut sana. Indonesia selalu dirindukannya. Kenangan akan gunung-gunung dan pantai-pantai yang dulu dijelajahinya bersama selalu menyayat hati. Lebih dari itu, teman-temannya jauh lebih dirindukannya. Kenangan nonton bersama pertunjukan teater di Cikini, rutin hampir setiap bulan sehabis gajian. Dilanjutkan dengan nongkrong di atas kursi plastik makan nasi goreng tektek di sekitaran Senayan di tengah malam. Perempuan itu membatin. Waktu seolah telah memperlakukannya dengan jahat. Sesekali kenangan cinta masa selepas kuliahnya masih melintas di jendela kaca kedai itu. Ah, terlalu banyak kenangan yang kadang tidak dia mengerti, dan yang dia tahu hanya akan dibawa mati. Tidak ada satupun orang di negeri ini yang bisa diajak berbagi. Tidak juga suaminya. Tentu saja.

Aku ingat hari pertama aku memperhatikannya, aku tahu bahwa perempuan berambut lebat hitam itu adalah seorang yang ramah. Senyum dan lesung pipitnya selalu menyertai sapaannya ke pegawai kedai kopi ini. Guratan keriput halus di mata Asianya tidak menutup bekas-bekas keceriaan masa mudanya. Dan aku menikmatinya dari meja di pojok sini. Walau seperti kataku tadi, dia tidak pernah sekalipun melirik ke arahku. Aku tak pernah bisa menelan bulat-bulat sorot matanya, menjelajahi seluruh hidupnya, membaca satu per satu ceritanya. Dan mengetahui mengapa keceriaan itu memudar darinya.

Baiklah, rasanya besok aku harus memberanikan diri menyapanya. Aku yakin dia butuh teman cerita. Aku tahu akupun butuh teman. Atau sebenarnya malah aku yang lebih butuh. Dunia perempuan itu dan duniaku tidak seharusnya dibiarkan diam begitu saja, terpisah deretan meja-meja tak seberapa. Membiarkan satu pagi pergi sia-sia, hanya akan menunggu pagi berikut yang tak tentu datangnya. Aku ingin mendengar ceritanya. Dan sebaliknya, akupun ingin bercerita. Atau mungkin malah aku yang lebih ingin bercerita. Entahlah. Setiap pagi setelah dia beranjak dari kursinya, keluar dari kedai ini, aku selalu merasa sendirian. Aku selalu menangis di meja di pojok kedai kopi ini. Minggu ini aku begitu kesepian. Jauh lebih kesepian dari minggu-minggu sebelumnya yang sudah sepi.

*

Pagi itu, Jumat, gerimis tipis awal Desember baru saja turun ketika aku melangkah masuk kedai. Kutengok ke kanan. Kosong. Perempuan berambut tebal hitam itu tidak ada di sana. Tidak ada latte dan macaroon dan koran di atas meja. Dadaku terasa sesak. Aku merasakan sesuatu meleleh di dalam dadaku. Aku sedih dan memalingkan kepalaku ke kiri, mengarah ke mejaku. Ah, ternyata perempuan itu duduk di sana. Di kursi yang kududuki selama ini. Di kursi tempat aku memandanginya sepanjang minggu ini. Di meja di pojok kedai kopi ini. Aku melangkah perlahan ke arah perempuan itu. Sebelum aku mencapainya, pelayan kedai melewatiku, menaruh secangkir latte dan sepotong macaroon di samping koran di atas meja.

“Morning Elly, your coffee.”

“Thanks Anna, how is your day?”

“Great, thank you!”

Sebelum berbalik, Anna sempat berujar,

“Oh ya, aku senang kamu duduk di meja ini. Sudah seminggu meja ini kosong, sejak wanita yang biasa duduk di sini meninggal Jumat lalu, ditemukan bunuh diri di apartmentnya.”

Aku melihat tangan perempuan berambut tebal hitam itu gemetar memegang cangkir kopinya. Sekali ini aku bisa melihat seluruh bola matanya yang basah.

NH

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.