11 AGUSTUS

“Diri kita yang mengalami, jiwa kita yang mengalami, apa yang lebih luar biasa dari itu? Tidakkah itu jauh lebih penting dari sekadar ingatan kita, sisi diri kita yang selalu mengingat? Mengalami jauh lebih penting daripada mengingat, bukan? Apa yang kita ingat saat ini, mungkin akan terlupakan sepuluh tahun lagi, tetapi apa yang kita alami, akan tetap selalu ada. Selamanya.”

Read More

MATAHARI TERBENAM TERAKHIR DALAM HIDUPKU

Matahari yang nyaris terbenam di ujung garis laut sana terlalu indah untuk diusik. Kami memilih menikmatinya masing-masing, dalam diam. Kalian tahu? Kami berdua adalah pecinta lari di atas pasir, pecinta matahari senja. Kami pecinta gunung, pecinta alam. Kami pecinta keindahan, pecinta keheningan. Sekalipun pantai Kuta masih riuh menjelang sunset seperti ini, seperti biasanya. Tapi buatku, sore itu Kuta begitu hening, begitu sepi. Suara-suara manusia di sekeliling tidak mengusikku sama sekali, tidak lebih keras dari suara debur ombak dan suara alam magis yang tiba-tiba hadir. Ya, hanya ada suara-suara itu. Dan dia yang hadir, berjalan di sisi kiriku. Aku mau menikmati senikmat-nikmatnya sore ini, mengenangnya untuk jangka waktu yang panjang, dimanapun aku berada. Besok mungkin masih akan ada matahari terbenam yang lain, tetapi aku? Aku pastilah bukanlah aku yang sekarang. Dan dia juga mungkin tidak akan bersamaku lagi. Tidak berdua seperti ini. Besok siang kami akan kembali ke Jakarta, kembali ke rutinitas sehari-hari kami. Kembali ke sorotan kamera dan sekat-sekat news-room. Kembali ke kumpulan teman-teman kami. Teman-teman kami berdua.

Read More

DEWANDARU

Raungan ambulance terdengar sayup ketika mobil kami mulai bergerak keluar dari area parkir. Berbelok kiri ke jalan raya, kendaraan kami merambat. Suara sirine telah hilang, tampak kerumunan di depan, dan sebuah mobil Innova ringsek yang terbalik. Aku merendahkan kaca, “Kecelakaan, Mas?” Seorang di atas motor berboncengan mengiyakan, “Kecelakaan tunggal, Mas, ngebut nabrak pohon, korban meninggal di tempat.” Aku menaikkan kembali jendela, memperhatikan pecahan kaca yang berkeping-keping, darah segar yang masih berceceran di aspal, dan sebuah topi yang tergeletak. Topi koboi. Rasanya aku mengenalinya.

Read More