KYA (5)

Perempuan itu terhenti langkahnya seketika, menatap ragu dan tak percaya ke arah Fei. Ada rasa ngeri menyelimuti perempuan itu. Juga ada rasa rindu luar biasa di sana. Dadanya terasa sesak, matanya terasa panas. Sebaliknya Fei tidak terlihat canggung, seolah sudah tahu tiga huruf itu akan menghentikan langkah perempuan itu.

Read More

DIAMOND IN THE SKY (4)

Fei menengok ke belakang, ke dalam tenda. Perempuan itu masih lelap dalam sleeping bag. Matanya yang terpejam menyembunyikan bola matanya yang hitam dominan. Damai wajahnya membuat Fei tidak mampu membedakan mana yang lebih indah, di luar sana atau di dalam sini. Fei merasa begitu beruntung dikelilingi keindahan pagi itu. Dia percaya, selalu percaya, surga itu letaknya di bumi. Paling tidak di lembah Surya Kencana ini. Saat ini.

Read More

PEREMPUAN DENGAN SEPASANG BOLA MATA YANG HITAM DOMINAN (3)

Raung gesekan roda-roda baja dan rel MRT terdengar, semakin mendekat. Tidak banyak pengantri di larut malam begini dan juga tidak banyak penumpang yang bergegas keluar gerbong. Fei meletakkan pantatnya, di sebelah bangku untuk disabilitas yang dibiarkan kosong, memandang beberapa orang yang masih lalu lalang di luar gerbong. Seorang perempuan melintas. Fei mengenalinya, perempuan dengan sepasang bola mata yang hitam dominan.

Read More

KUNJUNGAN KEDUA (2)

Tiba-tiba Fei merasakan dadanya mengetuk-ngetuk. Perempuan itu. Perempuan yang sama ketika bulan lalu dia di ruang yang sama pula. Lokasi kejadian mimpi yang berbeda, peristiwa yang berbeda, orang-orang yang berbeda, tetapi perempuan itu hadir di kedua mimpinya. Perempuan dengan sepasang bola mata yang hitam dominan.

Read More