Albert Einstein. Peraih Nobel bidang fisika tahun 1921 itu selalu menarik perhatian dan keingintahuan dunia mengenai dirinya. Identik dengan kejeniusannya yang lahir dari rasa keingintahuannya yang luar biasa besar. Setelah meninggal dunia pun banyak eksperimen dilakukan untuk meneliti otaknya dan memang ditemukan adanya struktur jaringan otak Einstein yang berbeda dengan otak manusia pada umumnya. Einstein juga terkenal cerdas karena dia berani menentang pandangan-pandangan kuno fisika, melawan status quo. Dan dia mengajarkan kita kunci menjadi smart, dan smarter, untuk tidak selalu mengikuti dogma-dogma yang telah ada. Rajinlah bertanya. Banyaklah berpetualang.

Kita tentunya telah sering mendengar, atau melihat poster dan gambar Einstein lengkap dengan teori relativitas dan rumus e sama dengan mc kuadratnya yang terkenal itu. Namun saya juga tertarik, kalau tak mau dikatakan lebih tertarik, dengan pernyataannya yang berikut ini. “Compound interest is the eighth wonder of the world.” Tujuh keajaiban dunia boleh saja terus berubah versinya dari waktu ke waktu, namun keajaiban dunia kedelapan akan selalu sama, Bunga Majemuk! Seorang fisikawan sekelas Einstein bicara mengenai bunga majemuk, bukankah itu sesuatu yang luar biasa? Atau dengan kata lain, bukankah rasanya ada sesuatu yang sungguh luar biasa tersembunyi di dalam bunga majemuk ini? Pastinya. Yang bahkan membuat seorang Einstein sampai menyebutnya sebagai keajaiban dunia kedelapan. Astaga, ada apa dengan Bunga?
Pada usia dua puluh satu tahun, katakan anda mulai menabung saham. (Anda juga boleh menggantinya dengan reksadana saham atau ETF/exchange traded fund.) Kenapa saham? Karena untuk ilustrasi kita, terbukti hanya saham yang mampu memberikan tingkat keuntungan yang kita inginkan. Anda menabung saham senilai Rp 5.000.000 setiap tahun secara rutin dan bakal mendapatkan keuntungan 10 persen pertahun. (Sebagai catatan, Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Indonesia dalam 10 tahun terakhir rata-rata naik lebih dari 15 persen pertahunnya.) Keuntungan 10 persen per tahun tersebut tidak dipakai untuk jajan tetapi diinvestasikan kembali bersama pokoknya di tahun berikutnya, demikian seterusnya. Setelah 10 tahun, anda sudah “menyetor” Rp 50.000.000 tetapi nilai tabungan saham anda mencapai Rp 87.655.835. Not bad. Lumayan. (Lihat kotak pertama pada tabel).

Sepuluh tahun berlalu, teman sebaya anda baru mulai menyadarinya. Sedikit kasihan tapi tidak apa-apa, belum terlambat. Dia mulai menabung sahamnya di usia tiga puluh satu tahun, dengan angka dan tingkat keuntungan yang sama, termasuk menginvestasikan kembali keuntungannya, selama sepuluh tahun. Anggap saja anda tidak meneruskan setoran tahunan anda untuk sepuluh tahun ke depan. Anda berbaik hati “menunggu” teman anda. Berapakah tabungan saham anda dan teman anda pada usia empat puluh? Anda telah memiliki kekayaan sebesar Rp 227 juta, sedangkan teman anda Rp 87 juta, hampir sepertiga kekayaan anda, dengan jumlah total setoran yang sama, Rp 50.000.000. Waow! (Lihat kotak kedua pada tabel).

Tentu saja teman kita ini tidak terima dan ingin mengejar ketertinggalannya dari anda. Dia meneruskan membeli saham secara rutin setiap tahun dengan rupiah yang sama dan tingkat keuntungan yang sama pula, termasuk reinvestasi, hingga usia enam puluh tahun. Total telah menyetor dana sejumlah Rp 150.000.000 selama 30 tahun dan akhirnya memperoleh kekayaan Rp 900 juta. Sementara anda yang hanya menyetor Rp 50.000.000 di 10 tahun awal tadi, sekarang telah memiliki tabungan saham senilai Rp 1,5 miliar. (Lihat kotak ketiga pada tabel). Itulah keajaiban bunga majemuk yang dimaksud Einstein! (Anda boleh mengutak-atik tabel sederhana itu dengan menyesuaikan usia anda saat ini, mengubah angka Rp 5.000.000 itu, menambah jumlah nolnya, atau bereksperimen dengan angka yang 10 persen. Termasuk melanjutkan penasaran teman kita kalau dia meneruskannya hingga anda berdua berumur 100 tahun, mampukah kekayaannya lebih besar dari kekayaan anda?)

Warren Buffet mengatakan, “My wealth has come from the combination of living in America, some lucky genes, and compound interest.” Dia mungkin tidak akan pernah sekaya seperti saat ini kalau dia tidak memiliki salah satu di antaranya. Dan suatu hari nanti, mungkin tidak perlu menunggu sekaya Buffet, namun pernyataan yang sama dapat kita ucapkan juga, cukup dengan mengganti kata America dengan Indonesia.

Teori relativitas begitu sederhana dengan rumus yang begitu singkat tetapi membawa pengaruh yang maha dahsyat, hingga membuat Einstein mengutuk bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima pada akhir masa Perang Dunia Kedua. Demikian pula teori bunga majemuk, begitu sederhana, namun siap “meledakkan” kekayaan kita kalau kita pintar dan mau memanfaatkannya. Albert Einstein melanjutkan, “He who understands it, earns it… He who doesn’t… pay it.” Terserah kita.

NH

Note : Article ini telah di publish di Investor Daily 22/01/2018

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.