“Mau coba daging kuda, Pak?” Sebentar saja kemudian tersaji di meja, dalam bumbu rendang. Rugi juga kalau tidak dicicip. Katanya makanan khas sini, tengah jalan dalam perjalanan dari bandara Silangit ke Danau Toba. Not bad. Lumayan untuk persiapan 50K besok. Samosir Lake Toba Ultra 2018.

Tiba di Hotel Sitio Tio, persis di bibir salah satu sisi Danau Toba, check in, dan mengambil race pack. Lomba besok akan dimulai di pelataran hotel. Aha, enak juga. Lomba dimulai pukul 05.30, bisa bangun 05.25 (asalkan tidur sudah dalam pakaian lari, lengkap dengan sepatu dan topi). Mencoba istirahat sore, nyatanya tak mungkin. Tes speaker untuk acara welcoming carbo loading dinner malam nanti dan pembukaan besok memekakkan telinga, sampai dinding kamar kadang bergetar. Bah! Ya sudah, melanjutkan Saman-nya Ayu Utami saja…

Selesai makan malam, sempat ke Pangururan, mencari mart-mart itu, untuk bekal sarapan besok pagi. Pangururan terletak di Pulau Samosir, jaraknya dekat, sangat dekat, dengan “daratan” Sumatera. Hanya dihubungkan dengan jembatan pendek Tano Ponggol, yang hanya selemparan batu. Jelas sudah tak terbantahkan bahwa dahulu kala Samosir adalah bagian dari Sumatera. Dua roti (hebat euy, ada dia juga di pelosok begini, ada dimana ya pabriknya di sini?). Isi keju untuk ganjal malam ini (makan malam tadi kurang nendang) dan isi pisang coklat untuk besok subuh (katanya pisang bagus untuk pelari). Untuk di perjalanan selama lomba? Snikers aja, satu cukup. Pelit! (Gak kok, beneran cukup. Kalau kurang kan tinggal mampir ke warung mie instan rebus.) Pas bayar di kasir, ada yang menarik. Chupa Chups! Heh, why not? Gula! (Katanya pelari jauh butuh gula juga.) Ambil dua, buat nemenin Snikers.

Malam itu udara di kamar ternyata tidak adem. No AC. Buka jendela, tapi laron di luar banyak banget, duh! Buka sedikit saja. Lebih baik tidur berteman laron daripada tidur tanpamu, ehalah, daripada tidur kepanasan. Sambil cari ngantuk, perlu cari teman. Ayu! Tapi Larung-nya kok seram…

Benar saja, pukul 5 pagi teng – atau 5 teng pagi ya? – MC sudah teriak lagi. (Maafkan, mungkin saya berlebihan, dia hanya berbisik bukan teriak, tapi tahu sendirilah kau, Bang!) Untungnya saya sudah bangun setengah jam sebelumnya, aman, jantungnya buat lari saja, jangan buat ditakut-takuti begitu. Weekkk…

Start sesuai jadwal, meleset sedikit saja. Cakep! Berlari dalam gelap dengan sedikit saja lampu rumah penduduk. Beberapa KM pertama sempat membuntuti dua cewek bule yang ngobroolll teruusss. (Asem! Saya berusaha atur napas ngosngosan, mereka sambil ngobrol.) Pemandangan sisi kiri, Danau Toba baru saja terbangun. Semburat sinar tipis matahari antara merah dan kuning mulai terlihat di timur, di antara gunung bukit. Lampu-lampu tambak-tambak mengapung di pinggir danau mulai dimatikan. Berkali-kali saya menengok ke arah sana, menikmatinya. Indah!

Ini tanahku. Mendadak dapat energi entah dari mana, rasa nasionalisme saya tiba-tiba membludak dong. Ya wis, tak berapa lama, tak salip tuh bule ngobrol. Beres! (Dan saya tak pernah lagi melihat mereka setelah itu, ehem! Mungkin mereka lari 25K, memutar di kanan depan sana. Atau juga ngambeg pundung gak lanjut setelah disalip, gak tau juga…)

Setelah KM 10, saatnya jalan menanjak dan terus menanjak sampai KM 20, Menara Pandang Tele – Samosir, di atas sana. I love tanjakan! Alasan paling valid untuk berjalan. Yeaayyy! Dan di antaranya sempat bertemu 11 anak-anak yang berbaris rapih sedang menari. Sempat ikut menari, berpose nari tepatnya. Love you, Kids!

Seorang pelari muda (saya juga pernah muda), bersama saya berkilo-kilo di jalur itu. Tidak bergandengan, karena dia selalu menjaga untuk terus di depan saya. Jalanmu sudah gak gagah, Nak. Kadang flat kamu jalan, tanjakan malah lari. “Umurmu” tak lama lagi. Coba tengok belakang, ke Oom, konsisten jalan. Hahaha. Power walk!

Menara Pandang Tele, persis 20K, penderitaan tanjakan berakhir. Diarahkan Pak Pulisi belok ke kiri. Turunan! Show time! Delapan kilometer berikutnya adalah surgaku, memangkas banyak “makan waktu” akibat tanjakan tadi. Love you, My Dengkuls!

Selanjutnya, datar, naikturun, rumah penduduk, sawah, kebun, ladang, hutan, bukit. Tentunya pemandangan Danau Toba dan Pulau Samosir sepanjang jalan. Dan anjing. Dan ini yang saya takutkan sejak awal. Hiks! Seekor di antaranya, betina, I know, di depan dari jauh berlari ke arah saya, sambil menggonggong, menghadang. Masalah serius tampaknya ini.

Saya berhenti. Dia berhenti. Dia terus menggonggong. Saya tidak.

Untunglah ada emakemak naik motor menghadang dan mengusirnya.

“Terus saja, jalan!”

“Makasih, Bu!”

Sambil sekali-kali menengok ke belakang. Ke arah anjing tadi. Dan juga ke arah emakemak, Sang Penolong. (Please, jangan pergi dulu, Bu!)

Bertemu kembali anak-anak penari di titik perjalanan berangkat tadi, mereka masih semangat. Tetap tersenyum, manis. Holong rohakku tu ho! Saya juga tersenyum, manis juga, bersemangat, karena turunan lagi, lumayan. Come on, Kuls!

Dan anjing lagi. Duh! Bukan yang tadi, tapi mereka bersaudara. Semua anjing di dunia bersaudara, sama seperti kita. Di antara rumah penduduk yang sepi. Seekor anjing berlari keluar dari semak-semak di seberang jalan aspal. Sambil menggonggong, pastinya. Emaakkk! Mana emakemak tadi? Help! Tidak ada siapapun di sana. Hanya kami berdua, sang anjing dan sang saya.

Apa boleh buat, mari bertarung! Dia menggongong terus, dan saya tetap tidak terpancing mengikutinya menggonggong. Saya lebih suka berteriak. Menatap tajam matanya, “Heeiii…!” Eh, kabur lho si gukguk, kembali ke semak-semak. (Setelah ini saya terpikir untuk masuk dapur rekaman, spesialis pengusir anjing, Heeiii…!”)

Tujuh kilometer terakhir adalah perjalanan paling indah.

#takbisatakberenti #terlaluindahdiabaikan

Berada di ketinggian, menyusuri jalan beraspal, menurun. Sebelah kanan bukit batu dan cemara, sebelah kiri adalah pemandangan lepas, selepas-lepasnya, danau di bawah sana. Danau berwarna biru, yang airnya memantulkan langit di atasnya, biru cerah. Matahari panas nan bersahabat, dengan angin yang kadang bertiup lembut. Sendiri, sesendiri-sendirinya. Is this a heaven? Mereka bilang, ya, A piece of heaven on our planet! (Mungkin begitu ya rasanya, ketika “nanti menuju ke garis finish”, sejuk damai indah. Dan sendirian.)

Saya mengeluarkan Chupa Chups kedua. Manis rasanya…

NH

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

4 replies on “WHAT IS HEAVEN LIKE AND WHERE IS HEAVEN?

Leave a Reply to Nicky Hogan Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.