ETAPE PERTAMA

Gerimis sedari subuh masih terus mengguyur ketika hitung mundur dilakukan, sekitar pukul enamtigapuluhpagi, Sabtu 27 Oktober 2018. “… Lima empat tiga dua satuuu…” Kami bertujuh, yang diundang untuk berlari ultra marathon, ditemani 10 pelari lokal mulai melangkah menapaki jalan menurun Kelok Sembilan yang berkelokkelok menembus dua bukit yang mengapitnya. Pemandangan awal yang sudah langsung indah. Dari jalan jembatan layang sisi atas memandang ke bawah dan dari jalan sisi bawah memandang kaki-kaki beton kokoh di atas, dikelilingi bukit-bukit menjulang, dalam balutan kabut dan hujan tipis. Etape pertama, ke Lembah Harau, sejauh 20K. Kesepuluh pelari lokal itu, adik-adik berumur belasan tahun, putra putri daerah, ternyata adalah para atlit atletik. Ada yang memang pelari, ada juga pelompat jauh dan pelompat tinggi. Tetapi biasa berlari dan berlari jauh, dan kadang juga mengikuti lomba atletik hingga ke Jakarta. Wah!

Seperti biasa, jalan menurun selalu menyenangkan (“Turunan cakep, kalau tanjakan jelek lagi”). Bisa banyak ngobrol, bisa bernyanyi juga, lagu daerah. Sayangnya sebagian besar kita bertujuh bukan urang awak, jadilah hanya bisa menyanyi satu lagu, dan diulang-ulang pula.

“Kampuang nan jauh di mato
Gunuang sansai bakuliliang
Den takana jo kawan, kawan lamo
Sangkek den basuliang suliang

Takana jo kampuang
Induak ayah adiak sadonyo
Raso mahimbau himbau den pulang
Den takana jo kampuang”

Polisi pengendara sepeda motor gede yang setia di samping kami, mungkin mulai bosan mendengar lagu yang diulang-ulang (plus suara sumbang, mungkin), lalu mengajar kami lagu lain. Lagu pendidikan. Pendidikannya waktu latihan dulu, katanya.

“Tiada gunung terlalu tinggi
Buat kami daki di siang hari
Tiada jurang terlalu dalam
Buat kami susuri di malam gelap…”
(Kirakira begitu deh…)

Tetapi para pelari tidak banyak tertarik mengikuti. Mungkin sulit juga rasanya, harus atur napas, harus atur kaki, masih harus atur otak untuk menghafal. (Izinkan otak kami rileks ya, Pak.) Mari kembali ke kearifan lokal lagi.

“Kampuang nan jauh di mato…”
Tarik, Daaa…

(Oh ya, pengawalan awal ini luar biasa lho. Selain Pak Pulisi dengan moge-nya. Ada juga mobil polisi, yang sedan dan yang jeep. Ada ambulance. Dan yang tak disangka, mobil pemadam kebakaran! Seumur-umur dibarengi pemadam begini. Katanya, protap, prosedur tetap. Entah bagaimana lalulintas di belakang kami macet mengekor, aku tidak berani menengok belakang. Takut dipelototi para pengemudi mobil yang mengantri. Tetapi terimakasih banyak untuk pengertiannya Bapak Ibu, ini untuk kepentingan kita bersama. Ya, lari eksibisi 70K ini merupakan rangkaian acara Minang Geopark Run 2018 dalam rangka promosi wisata Sumatera Barat. Nah, keren lah!)

Gerimis tidak juga berhenti menjelang memasuki akhir etape pertama. Tenaga dari sepotong roti dan sebutir telur rebus (sebutir lagi kumasukkan dalam tas punggungku, untuk bekal) tadi pagi sudah mulai menipis. Namun hamparan sawah hijau, dan terutama lembah yang indah, dikelilingi tebing-tebing granit yang menjulang tinggi dalam berbagai bentuk sungguh menghangatkan. Dari jauh, di sisi kiri tampak air terjun tinggi tumpah megah. Rancak bana! Cantik luar biasa!

Aku mencoba menghibur Tia, pelari muda yang tadi sempat berniat melangkah naik mobil, capek. “Cakep ya? Ayo Tia, sedikit lagi, dua kilometer lagi…”. Kami berlari beriringan, berkumpul kembali dengan rombongan besar di depan, sebelum memasuki finish etape ini bersama-sama. Kurang dari duasetengahjam (termasuk regrouping time setiap 5K).

Anakanak ramai dalam seragam pramukanya, rela berdiri berjejar dalam gerimis menanti kami melintas garis finish. (Sini, peluk satusatu.) Tepat di depan air terjun lainnya, yang airnya meluncur deras bercampur rinai hujan dalam tiupan angin, tampak bagai kain sutra. (Kamu pikir aku lebay berlebihan? Kamu salah!) Priceless.

Dalam kuyup dan dingin, menikmati bubur kacang hijau hangat dengan roti tawar di dalamnya, ditambah teh manis hangat, adakah yang lebih nikmat? Berfoto ramai dengan anak-anak pramuka (dan buibuknya juga), dengan para pelari muda yang telah menyelesaikan tugasnya, dan tentu saja dengan Pak Bupati yang sungguh sangat ramah menyambut.

Hiburan lagu daerah terus berkumandang, sementara sebagian anak-anak pramuka sudah menceburkan diri ke dalam kolam di bawah air terjun. Sepuluh pelari muda baru bersiap menggantikan tugas temannya, menemani kami untuk etape kedua.

Masih dalam guyuran gerimis, “Tiga dua satuuu…” Dan kami meninggalkan keriuhan dan keindahan Lembah Harau…

ETAPE KEDUA

Beberapa anak pramuka menemani ikut berlari kecil, bermain air di sisi kiri jalan yang becek tergenang. Senangnya…

Di antara sepuluh pelari muda, tampak seorang anak paling kecil.
“Siapa namamu?”
“Mikael.”
“Kelas berapa?”
“Enam SD.”
What?! (Kemana aku waktu kelas enam SD dulu? Dan Mikael kecil nantinya berhasil menyelesaikan etape kedua ini. Kemana aku dan kamu?)

Dua puluh kilometer kedua, ke Ngalau Payakumbuh. Kembali melewati dinding-dinding tebing, hamparan sawah, dan ibu-ibu petani yang berdiri di pinggir sawah memperhatikan kami. Serta kerbau-kerbau yang cuek. Gerimis telah reda. Dan gantinya, sang matahari. Glek!

Memasuki kota Payakumbuh. Melintas dan memandang iba ke arah hotel yang tadi malam kami inap. (Iba kepada diri sendiri, membayangkan enaknya selonjoran di kamar, hiks hiks hiks.) Tidak ada lagi surga jalan menurun, yang ada hanya jalan aspal panas menguap, datar dan datar. Dan mulai menanjak di ujung etape. Sudah tidak mampu segagah etape pertama, dan mulai kombinasi jalan di kilometer ketigapuluhlima. But, not bad, waktu masih bersahabat. Sekitar duajamempatpuluhmenit, mencapai finish etape kedua. Dan disambut hangat Pak Walikota Payakumbuh dan jajarannya.

Langsung melahap beberapa potong semangka dan jeruk, supaya mulut tidak hanya hambar berasa air mineral dan isotonik saja. Waktunya makan siang. Tapi tetap saja, mie instant seduhan lebih menggiurkan. Payah, kebutuhan kalah melawan selera.

Bagaimanapun di persinggahan ini menyegarkan. Lapangan luas dan teduh, dan waktu yang lebih rileks. Waktunya mengganti kaos basah, kaos kaki basah, dan sepatu basah. Recharged. Nyaman.

Sebelum melanjutkan etape ketiga, mendapat suguhan tarian Pasambahan Minang dari pemuda dan pemudi, sebagai sambutan selamat datang untuk tamu. Serta daun sirih, simbol penghormatan dan silaturahmi. Setelah sambutan Ketua Panitia dan Pak Wali, kami dilepas. Kembali ditemani sepuluh pelari lokal. Kali ini lelaki semua, dan tidak ada yang sekecil Mikael. Semua sudah remaja dan pemuda, termasuk Neldi yang sudah menikah. Jam tanganku menunjukkan pukul dua siang lewat. Dan 15K di depan hanya ada tanjakan. Dan tanjakan. Tak perlu dibayangin, Nick. Dilariin saja. Atau dijalani saja. Ya, literally, dijalani saja.

ETAPE KETIGA

Ini mungkin etape jalan-jalan. Tanjakan halus namun menyakitkan (“Hilang cakepnya, jelek sepanjang jalan”). Total dua jam untuk 15K. Dan, benar saja, energi dari mie instant seduhan tadi hanya bertahan sebentar saja, instant saja. Rasa lapar mulai memanggil. Rasain kamu! Gak mungkin juga tetiba melipir ke warung meninggalkan rombongan, atau meminta rombongan menunggu. Ada waktu yang harus dikejar.

Untungnya, biar jelek, daya ingat masih kuat. Telor! Ya, ternyata telur rebus yang kubawa sejak awal menyelamatkanku. Di tengah jalan, sambil berjalan, mengupas dan mengunyah telur rebus, yummy. Di tengah jalan pula, kami melihat seekor anjing tergeletak tak bergerak, persis di tengah garis marka pemisah jalur jalan. Mobil-mobil hanya berlalu begitu saja, mengangkanginya, ataupun menghindar untuk melindasnya. Cuek. Kami yang tengah berjalan bertiga berinisiatif meminggirkannya. Aku kebagian menyetop kendaraan. (Entah kenapa biasanya dalam kostum lari dan setelah sekian puluh kilometer berlari, aku merasa tidak takut dengan kendaraan apapun dan merasa punya kekuatan super menghentikan kendaraan, dengan mengangkat tangan ataupun hanya dengan satu jari. Mungkin itu sebabnya disebut ultra kali ya? Seperti UltraMan itu.) Kedua teman ultraku mengangkatnya dan meletakkannya ke pinggir jalan dekat semak. Rest in peace, Guk.

Etape ketiga ini akan berakhir di Kampus IPDN Baso. Dan dua ratus meter sebelum finish, kami kembali regrouping. Wajib, karena kami akan disambut dengan drum band! Yeaayyy, keren.

Dari jalan raya kami berlari belok ke kiri, jalanan menurun dan terpampang kampus besar nan luas. Kiri kanan menuju area finish, berdiri berjejer para mahasiswa mahasiswi. Ratusan, dalam seragam birunya. Cantik dan ganteng. (Biar lelah, mata harus tetap awas, Nak.) Lapangan rumput hijau yang luas. Mesjid megah di sisi kanan. Dengan latar belakang pemandangan lepas gunung-gunung yang sedikit tertutup awan dan kabut. Satu lagi pemandangan indah memanjakan mata dan hati. (Aku mau kuliah lagi.)

Menikmati snack, pisang rebus, ubi rebus, kacang rebus, dan teh hangat manis. Aku melipir, membuka sepatu dan kaus kakiku. Ada yang tidak enak di sana sedari tadi. Blister. Atau gejala akan itu. Untungnya tidak. Sedikit saja yang harus diplester di telapak kaki kiri. Sedangkan telapak kanan cukup dioles pelembab.

Kembali mendapatkan suguhan tarian, dan sambutan pejabat, sebelum dilepas kembali menyelesaikan etape terakhir. Diantar suara drum band yang bertabuh nyaring. Semangat! Limabelas kilometer terakhir. Mari selesaikan tugas ini. Dan sekarang pukul empattigapuluh sore.

ETAPE KEEMPAT

Dalam lelah fisik dan mental, aku bersyukur karena lari jauh eksibisi ini dibagi menjadi 4 etape, dan masing-masing etape dibagi lagi per 5K untuk regrouping dan sekedar istirahat sejenak. Lima kilometer magis yang selalu membuat semangat, melupakan total tujuhpuluh kilometer. Lari jauh memang tidak melulu soal fisik, lari jauh adalah soal isi kepala. Pecah-pecahkan angka besar itu. Aku berpikir, kenapa tidak kita berlakukan juga hal sama dalam keseharian kita, terutama saat-saat di mana kita menghadapi tantangan, menghadapi cobaan, menghadapi masalah. Sebuah masalah besar, kenapa tidak kita coba urai saja hingga menjadi hal-hal kecil. (Selesaikan saja dulu 5K masalah kita, jangan terpaku dengan masalah 70K. Itu terlalu berat, biar Dilan saja.) Selalu bisa kita lakukan. Selalu bisa kita selesaikan. Dan selalu lebih mudah pada akhirnya. Sekalipun kadang butuh bantuan sang waktu untuk melaluinya.

(Aku tidak merasa nyaman menghibur diri, ketika menghadapi masalah, dengan membandingkan hidup kita, masalah kita dengan orang lain. Seperti ujaran, “Aku sedih dengan sepatu bututku, namun kemudian terhibur ketika melihat orang lain tanpa alas kaki atau tanpa kaki”. Perlukah begitu? Hakekat hidup bahagia rasanya tidak seperti itu.)

Pukul enamtigapuluh sore. Senja sudah selesai. Matahari sudah pergi. Malam sudah jatuh. Gelap sudah berkuasa. Dan lampu-lampu sudah dinyalakan. Namun tidak cukup untuk menerangi ngarai yang terkenal itu, Sianok, Bukittinggi, tempat kami menuntaskan 70K ini. Aku berjanji akan kembali besok. Ketika terang telah mengusir malam. Ketika pagi telah datang. Ketika matahari telah kembali. Ketika kabut belum meninggi…

MINGGU, 28 OKTOBER 2018

Soempah Pemoeda. Pembacaan teks diikuti seluruh peserta dan menyanyikan bersama lagu Indonesia Raya, mengawali Minang Geopark Run 2018, sebelum seluruh peserta lomba lari hari ini dilepas di Lapangan Kantin Bukittinggi, untuk 21K, diikuti 10K, dan terakhir 5K.

Peserta 21K dan 10K tentunya paling terkesan dengan rute ketika mendaki Janjang Saribu, kumpulan 300an anak tangga – tidak sampai saribu kok – dan di ujung atas tebing sana mendapatkan hadiah istimewa, Ngarai Sianok. Superb! (Untuk 5K mungkin hadiah istimewanya adalah ketika melintas di lorong Goa Jepang.)

Dalam kondisi kedua kaki masih bonyok jompo penyok sisa kemarin, aku senang bisa berkeliling 21K, menikmati Sianok, Jam Gadang, dan Bukittinggi. Menyapa berbincang dengan beberapa teman lari dan teman jalan. Mensyukuri anak-anak muda di water station yang setia menyodorkan gelas minuman, bahkan ketika kita masih puluhan meter di depannya. Dan akhirnya, sebuah medali finisher cantik warna warni. Run The Nature. Kenangan dari Tanah Minang.

NH

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.