“Perlukah kunyatakan cinta, bila kehadiranku sendiri adalah wujud sebuah cinta.”

Suara jangkrik, kodok, dan serangga malam lainnya tak berhenti berbunyi di luar sana. Ada juga cekcekan cicak, dan tak ketinggalan suara tokek. Bersahut-sahutan. Aku tak menganggapnya mengganggu. Malah menjadi nyanyian pengantar tidurku. Konser musik alam terbaik dibanding aku harus memutar lagu-lagu yang mulai membosankan dari gadgetku. Aku rindu suara-suara itu. Yang selalu membawaku ke masa-masa kecil di desa. Dan masa-masa muda, masa pendakian. Suara yang sudah tak kudapatkan bertahun-tahun. Di kota. Tentu saja.

Aku berbaring di ranjang putih besar berkelambu tergulung itu, dengan empat tiang tinggi di setiap sudutnya. Memandang langit-langit berumbia dalam remang cahaya yang tembus dari lampu teras lantai dua, tempatku menghabiskan dua batang Marlboro putih tadi. (Teras, di atas bukit kecil, dengan pemandangan sawah menghampar dalam gelap, kelebatan lampu kendaraan malam yang melintas di jalan by pass, dan lampu-lampu yang bersinar lemah di Nusa Penida seberang sana.)

Tengah malam. Sedikit gelisah. Mungkin lelah perjalanan macet menyetir ke bandara tadi sore, atau lelah terbang dalam goncangan-goncangan yang mengganggu khusuk membacaku (“The Incarnations”), dan lelah menyimak pengendara yang tak henti-hentinya bercerita sepanjang perjalanan ke penginapan ini, yang satu dua kali membuatku jatuh tertidur.

Lalu aku melihatmu duduk di kursi kayu yang minimalis itu, menghadap ke meja berkaca di seberang tempat tidurku. Membelakangi lemari kayu berpintu dua di samping ranjang, yang berderit ngilu ketika kubuka tadi. Aku tak tahu kapan kamu masuk dan duduk. Mungkin tadi ketika aku berbaring ke kiri, menghadap ke pintu kaca teras yang tirainya sengaja kubiarkan terbuka. (Aku memutuskan tidak memasang alarm, lebih memilih dibangunkan matahari pagi yang akan terbit persis mengarah ke teras. Beserta, kalau beruntung, kokokan ayam jantan dan siulan burung-burung liar. Argh, aku kembali rindu suara-suara itu.)

Dalam gaun putih malammu, kamu tidak bersuara. Tidak juga bergerak. Hanya duduk menunduk. Sedikit cahaya cukup untukku melihat rambut keriting coklat sepunggungmu, dalam postur tinggi. Memperhatikanmu, aku menutup dan membuka mata kembali. Teringat cerita pengendara tadi. Tentang wanita Uighur yang menghilang tiga bulan terakhir, tak lama setelah pria Balinya meninggal dunia dalam kecelakaan sepeda motor di jalan by pass. Aku memenjamkan mata erat-erat.

Aku sungguh tidak berharap kamu hadir di situ…

Rangkung, Januari 2019

NH

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.