Namanya perjalanan atau travelling, selalu menyenangkan. Seharusnya. Juga perjalanan dinas kantor. Seharusnya juga. Keluar dari kepenatan dan rutinitas harian di kantor, merambah daerah baru (kalau pas dapat daerah baru), ataupun daerah lama rasa baru. Eksplorasi. Kalau tidak sempat menjelajah lokasi-lokasinya, minimal jelajahi kulinernya. Kalau tidak bisa memanjakan mata, manjakan saja lidah. Sama kok bahagianya. Kalau dapat keduaduanya, itu namanya bonus, rezeki anak sholeh.

A couple of years ago, saya mendapat jadwal perjalanan dinas ke California (semacam keluar dari rutinitas mingguan yang berpindah dari satu kota ke kota lain di tanah air). Workshop penuh seminggu, Senin sampai Jumat, di University of California, Berkeley. Pelatihan kepemimpinan, termasuk di antaranya kunjungan sehari ke Silicon Valley, ke markasnya Google. Anak udik kampung Sekura dari pedalaman Kalimantan yang tidak pernah membayangkan satu saat bisa berkunjung ke nama-nama mentereng gitu. Bersyukur.

Berkunjung dan sekaligus menjelajah Bay Area. Menyempatkan sejenak menatap bebas lomba kayak di Berkeley Marina, menjelajah kota Berkeley berjalan kaki dalam udara sejuk (termasuk rute harian pergipulang hotel ke kampus), juga pastinya San Fransisco, Ocean Beach dan Golden Gate Park-nya. Tidak lupa mampir santap malam di Pier 39 yang hidangan kepitingnya, ah sudahlah.

“If you’re going to San Francisco

Be sure to wear some flowers in your hair

If you come to San Francisco

Summertime will be a love-in there”

Karena selain anak udik kampung Sekura, juga anak lari, saya mencari kemungkinan mengikuti race lari, weekend sebelum workshop. Danatau weekend sesudah workshop. Adrenalin sedang tinggi-tingginya, maklum. Dan celakanya, atau untungnya, ada. Keduaduanya, weekend sebelum dan sesudah. Terimakasih tekhnologi, thank you Google.

Avenue of The Giants Marathon, jadwal hari Minggu sebelum workshop. Berlari di antara pohonpohon raksasa redwood. Membuka website dan melihat gambar-gambarnya saja sudah gemetaran. Masalahnya, atau tantangannya deh, butuh 4 jam berkendaraan pribadi dari Berkeley ke Humboldt Redwoods State Park, area lomba. Bertambah gemetarnya, maklum anak kampung, di negeri asing.

“Magic happens when you don’t give up even when you want to. The universe always falls in love with a stubborn heart.”

Ketika kita butuh pertolongan, jalan keluar terbaik adalah berteriak minta tolong. Rasanya itu saja. (Walaupun kadang sebuah diam bisa juga menyelesaikan masalah. Tapi tidak untuk yang satu ini.) Jauh sebelumnya, di Jakarta saya menghubungi seorang relasi untuk “mengiklankan” rencana lelarian saya dan butuh pertolongan orang yang bersedia mengantar, pergi pulang, empat jam empat jam, plus menunggu marathon saya yang mungkin lima hingga enam jam. Maukah menolong saya?

Sebuah email masuk. Gaby. Bersedia mengantar. Mahasiswi asli kelahiran Indonesia yang tinggal, besar, dan kuliah di Berkeley, yang diboyong orang tuanya migrasi ke Amerika, akhir 90an. Yeaayyy. Selanjutnya saling bercontact melalui WA. Lancar. So far so good.

Sabtu sore 6 Mei, pukul 03:28 PM, Gaby menjemput di depan hotel di Berkeley. Pertemuan yang menyenangkan dan melegakan, buat saya, tentu saja. Bakalan lari di bawah kanopi pohon-pohon tinggi menjulang, uuhh. Dan Gaby ternyata ikut race juga, 10K, menjelang exam-nya minggu depan. Empat jam perjalanan menyusur sepotong kecil sisi barat benua Amerika sama sekali tidak terasa. Seolah dua sahabat lama (beda usia beda generasi) penuh cerita tanpa putus, BMW Gaby mengantar kami ke penginapan di Ferndale, kota kecil bergaya Victorian. Dinner di resto Italian dan sepakat besok pukul 8 pagi menuju lokasi lomba, sekitar 30 menit. Nite Gaby.

Ltcundatun, nama yang diberikan oleh Suku Indian Sinkyone-Lolangkok, merupakan area start dan finish, bagian dari Humboldt Redwoods State Park, dengan pemandangan hutan hijau yang menyejukkan dan air biru hijau sungai yang mengalir pelan di atas sebuah jembatan kecil.

Start, berlari di jalan aspal mulus, 21K pertama adalah jalur bolak balik di satu sisi taman. Dan sesuai brosur, pohon raksasa redwood yang butuh beberapa orang untuk memeluknya penuh, berbaris sepanjang jalan, tinggiii menjulang, menutup rindang aspal lintasan lari yang praktis datar, flat. Kembali ke garis start, untuk menyelesaikan 21K kedua, ke sisi taman lainnya. Lebih terbuka, lebih hilly, tetap melalui jalan aspal, tetap dengan pohon redwood, ditambah kombinasi hutan cemara, dan bonus pemandangan sungai biru hijau. One of the most beautiful courses in the country, menurut Runners World Magazine. Ya, banget.

Menikmati lukisan di atas kanvas raksasa yang tertata sempurna, lebih dari lima jam. Menikmati lari dan segala sensasinya, lebih dari lima jam. Dan ketika beberapa ayunan kaki mendekati garis finish, MC memberikan kejutan, luar biasa. Sebuah seruan, “Nicky Hogan, from Indonesia!”.

Argh, terimakasih Indonesia, terimakasih Lari, terimakasih Avenue of The Giants Marathon, terimakasih Gaby.

Next week, Sabtu, masih ada satu race, lagi? Heh, workshop dulu saja. Dan jangan move on dulu dari keindahan barusan…

NH

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.