Anakku,

Aku berduka, hari Minggu lalu temanku meninggal dunia. Almarhum sedang mengikuti lomba lari 10K di event Surabaya Marathon, kamu mungkin sudah baca beritanya. Teman sependidikanku dulu di kampus ketika samasama masuk organisasi pecinta alam, nomor keanggotaan kami hanya berselisih satu angka, menghabiskan waktu berbulan-bulan belajar teori dan berlatih praktek di kampus, hingga akhirnya digembleng seminggu penuh di Gunung Salak yang angker dan rawan itu. Seorang berbadan besar, seorang resimen, legenda judo, namun sangat ramah dan penuh senyum tawa. (So long, Brother, Rest In Peace.)

Selalu ada yang mengganggu setiap kali mendapatkan berita duka, kematian. Gelap dan kelam. Khususnya akibat olah raga, terutama olah raga lari. Selalu langsung instropeksi diri. Sambil menanti pesan-pesan yang bakal segera masuk, kalimat-kalimat mengingatkan kembali. Dan benar adanya. “Hatihati, sudah tua, sudah tidak muda, jangan kurang tidur, perbanyak istirahat dan minum, jangan jauh-jauh, jangan maksain, take care ya, RTC kemarin ok?”. Begitulah, Nak.

Sambil berduka mengenang Almarhum, sambil mengucapkan terimakasih untuk pengingat-pengingat tadi, serta tanpa bermaksud mencari pembenaran dan excuse, aku mencoba berpikir sederhana.

Anakku,

Begitu banyak lomba lari saat ini, di sini di Indonesia, juga tentunya lebih banyak lagi di luar negeri sana, di setiap negara di seantero planet, setiap minggunya. Bervariasi, dari yang kelas fun run 5K sampai yang ekstrem ratusan kilometer dengan medan tidak kirakira. Bicara jumlah korban dari setiap event dan seluruh event, rasanya kita setuju, kalaupun ada, sangatlah kecil. Bukan sebuah angka statistik, bolehkah aku memakai istilah “case by case” saja?

Seperti halnya penerbangan pesawat udara yang setiap harinya mencapai ribuan, itu hanya di Indonesia saja. Bayangkan berapa banyak penerbangan di seluruh dunia hanya dalam sehari, ratusan ribu. Dan kita tidak mendengar peristiwa kecelakaan pesawat udara setiap hari. Karenanya tidak mengurangi minat manusia untuk tetap bepergian dengan sarana transportasi itu. Pun kalau ada kejadian sebelum-sebelumnya.

Sekali lagi Nak, kematian memang gelap dan kelam. Misterius. Rahasia semesta. Bisa terjadi kapan saja dimana saja siapa saja. Ayahmu ini -yang beberapa pesan masuk tadi mengingatkan sudah tidak muda lagi- tampaknya masih akan tetap terus berlari. Seperti pernah kukutip di sebuah tulisanku: “I know only two things. One, I will be dead someday; two, I am not dead now. The only question is what I shall do between those points.” I will keep on running. Aku akan terus berlari. Sebisaku. Semampuku. Sesukaku.

Ah ya, kita masih punya janji untuk lari bersama di marathon pertamamu. Kamu pasti sudah tidak sabar. Akupun, Nak.

Selamat berlatih,

Ayah

Note: Photo by @cnugroho

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.