Jakarta, Sabtu 03:33 AM

Sosok di depan memandangku dengan mata merah.

Ada kegeraman kecil di sorotnya, seolah dia mengatakan, “Apa yang kau lakukan? Apa yang kau cari?” Aku menunduk. “Seharusnya kau bisa tidur lebih lama, bangun lebih nanti, dan menikmati udara pagi di antara langkah riang larimu. Tidak kau bisa menjawab? Pandang aku!” Aku mengangkat kembali wajahku. Sorot mata di depanku masih merah. Bahkan lebih merah sekarang.

***

Siang itu, seorang investor saham, setelah menempuh perjalanan dua jam ke Semarang, berbagi kisahnya denganku.

“Saya sulung dari 5 bersaudara, saya hidup berjuang dari kecil, sekolah pun saya bisa karena pertolongan Tuhan. Saya kerja jadi tukang parkir, jaga warnet, setelah lulus SMA, saya serabutan, pernah kerja sebagai waiters di salah satu rumah makan di Semarang dan akhirnya saya bisa kuliah berkat bantuan beasiswa, sambil bekerja freelance di beberapa perusahaan besar. Pertama saya mengenal BEI di tahun 2012, bahkan saya minta data dari BEI untuk mengerjakan tugas skripsi saya.”

“Walaupun saya mengenal BEI sejak 2012, saya baru terjun ke saham pada 2015 setelah setahun bekerja di salah satu bank besar (dia menyebut nama bank). Ada nasabah yang sangat baik mengajarkan kepada saya tentang bagaimana dunia saham, lalu saya mengikuti kelas-kelas saham dan membaca buku-buku investasi.”

“Mulai dari 2015 sampai sekarang saya bisa melunasi semua hutang-hutang mama saya yang sudah belasan tahun untuk menyekolahkan anak-anaknya, saya bisa mengkuliahkan adik saya yang nomor 4 di salah satu universitas di Jakarta, saya bisa kuliah S2, saya bisa bilang ke mama saya buat berhenti bekerja, dan saya mengganti gaji mama saya cukup untuk kebutuhan tiap bulannya, saya bisa menyumbang yayasan untuk 5 anak asuh agar tetap sekolah tanpa sepengetahuan orang, saya membantu orang seperti satpam, pekerja outsourcing, dan anak-anak muda di kota saya dan sekitarnya untuk belajar saham tanpa memungut biaya.”

“Saya hanya ingin bisa membantu sesama, saya tahu rasanya sekolah disuruh pulang karena belum bayar SPP, saya tahu rasanya kelaparan waktu kecil, saya tahu rasanya rumah tidak punya penerangan karena listrik disegel belum bayar. Paling tidak saya memberi sesuatu yang saya mampu berikan bagi orang lain…”

***

Jakarta, Sabtu 05:46 PM

Aku memandang sosok di depanku, “Kalau kau tidak di sana siang tadi, kau mungkin tidak akan pernah mendengar cerita itu.” Dia menunduk. “Kau mungkin tidak akan pernah menangkap sorot mata terheran-heran seorang doktor ekonomi luar negeri mendengar cerita tentang investasi. Kau mungkin tidak akan pernah mendengar sorak semangat dan tepuk tangan bahagia ratusan anak negeri. (Dan yang kau dan aku tidak pernah tahu; gejolak di dada mereka, pesan yang disimpan rapi, dan mimpi yang dibungkus indah.) Pandang aku!” Aku mengangkat wajah, “Tidak ada yang kaucari. Mereka yang mencarimu.”

Sosok di depan memandangku dengan mata merah.

NH

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.