“Setiap IHSG turun dalam, saya baca buku-buku Bapak…”

Terimakasih.

“Seberapa serius kita ingin menjadi seorang investor serius?

Ketika harga saham kita sedang naik, seberapa serius kita tidak tergoda untuk tidak menjualnya?

Ketika harga saham kita sedang stagnan, seberapa serius kita menahan kejenuhan dan kebosanan?

Ketika harga saham kita sedang turun, seberapa serius kita bertahan dengan tujuan jangka panjang kita?”

(Investor Serius, hal. 4, buku SSfaSI,SBn!)

Why do we love tragedy? Teman saya akan segera memutar telenovela Korea ketika dia sedang ingin menangis, atau teman saya yang lain akan membuka YouTube, “Try Not To Cry Challenge”. Itu masih mulia dan baik, menikmati sendiri tragedinya. Masalahnya, kala indeks terjun bebas dan saham-saham berguguran, malah muncul banyak orang yang menakut-nakuti kita. “Perang ini perang itu, krisis blablabla krisis blebleble, penahan sana penahan sini, jebol byar jebol byur”. Orang-orang yang mungkin masuk kriteria Sensation Seeking (kalau pelari jarak jauh misalnya, mencari sensasi dari tragedi penderitaannya sendiri, kalau yang ini dari penderitaan orang lain), atau kriteria Social Comparison (yang merasakan kenyamanan dari melihat tragedi yang menimpa orang lain).

Jarang ada yang tampil sebagai orang yang membesarkan hati kita, mengajak kita tetap kalem, mengajak kita tetap “serius sebagai investor”. Bukan membahas dan menjual tragedi, tetapi bercerita dan merangkai mimpi. Berisiko memang. Karena kalau indeks dan saham semakin jatuh, orang-baik-pembesar-hati macam ini tampaknya seolah patut disalahkan. Scape goat, kambing hitam. Padahal, mereka selalu terbukti benar (dan waktu yang akan membuktikannya), seperti salah satu investor besar panutan ini, Warren Buffet.

“Saya tahu apa yang akan dilakukan pasar dalam jangka waktu yang lama: Pasar akan naik. Tetapi dalam hal apa yang akan terjadi dalam sehari atau seminggu atau sebulan atau bahkan setahun, saya tidak pernah merasa bahwa saya mengetahuinya. Dan saya tidak pernah merasa itu penting.” (Cakeup, terimakasih, Eyang!)

Terimakasih juga The Alan Parsons Project, untuk lagu indah ini:

“If it’s getting harder to face every day

Don’t let it show, don’t let it show

Though it’s getting harder to take what they say

Just let it go, just let it go

And if it hurts when they mention my name

Say you don’t know me

And if it helps when they say I’m to blame

Say you don’t own me”

NH

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.