Sebuah teriakan orang dewasa, “Kuno…”, meruntuhkan seluruh kebanggaan, dan kebahagiaan kekanakanku. Airmataku mengalir, padahal lagu yang kusukai dan sedang kunyanyikan, “Di sini senang, di sana senang, di manamana…” belum selesai. Aku turun panggung. Sebuah panggung sore, jadi-jadian, main-mainan bocah-bocah dekil sebuah kampung miskin di pinggiran Sungai Sambas. Kebahagiaan masa kecil yang terenggut, kebanggaan masa kecil yang tercampakkan, trauma masa kecil yang entah terbawa atau tidak.

Aku tahu suaraku tidaklah sumbang, mampu mengikuti not nada secara tepat. Beberapa tahun kemudian, masih sekolah dasar, di perantauan di Jakarta, guruku membentuk sebuah vocal group, dan menempelkan namaku sebagai nama group musik kecil itu. Di sekolah menengah pertama, memandang teman yang bisa memegang gitar, awalnya membuatku iri, kapan aku. “All I have to do is Dream.” Tidak butuh waktu lama nyatanya, dan persis sama, itulah judul lagu pertama yang bisa kumainkan. Mendengar sebuah lagu, lalu mencari-cari “kunci”-nya pada senar-senar gitar menjadi pengisi waktu, dan kegemaran. (Masa tidak senyaman sekarang yang bisa didapatkan mudah via internet.) Menjadi “satria bergitar” di sekolah menengah atas, pemain otodidak yang dengan mudah memainkan lagu-lagu tahun 80an yang membanjir. (“Just For You”-nya Richard Cocciante mungkin menjadi trade mark angkatan kami, yang kami nyanyikan bersama saat malam perpisahan di lapangan sekolah.)

Bagusnya, kuliah benar dan lulus, tidak jadi musisi. (Atau sayangnya? Kadang berpikir juga andai dulunya jadi penulis lagu, macam Lennon atau Ebiet.) Beberapa tahun awal bekerja, menata sistem prosedur sanasini, mengutakatik angka-angka, hingga akhirnya terjun ke pasar modal. Menemukan kembali “panggung” masa kecil yang terenggut, tidak untuk bernyanyi, hanya sebagai pendongeng. Di atas panggung, juga di antara “panggung kata-kata” ini. Dan di antara rak-rak buku.

Kebahagiaan kekanakan, kebanggaan tampil, mendendangkan kesenangan, dari seorang bocah kampung pinggiran Sungai Sambas. Bola dunia yang tengah berputar terbalik, memberiku banyak kesempatan untuk mengisi kembali masa kecilku, hari-hari ini.

(Catatan akhir tahun 2019, dari peluncuran buku kedua, “Simple Stories for a Simple Investor”)


Hampir dua puluh tahun lalu, ruang kerjaku telah berhias televisi ukuran besar. Hanya saja, walaupun ingin, aku nyaris tidak pernah menyalakannya, ada perasaan tidak nyaman, seolah tidak fair dengan teman-teman di luar ruang yang tengah bekerja. Aku akan merasa kikuk kalau ada yang masuk ruangan, sementara layar itu menyala, sekalipun mataku tidak sedang tertuju ke sana. Televisi di ruang kerja, buatku adalah sebuah kemewahan. Dan duduk menontonnya di antara jam kerja, merupakan kemewahan plusplus.

Sekarang di ruang kerjaku, terpasang tiga layar televisi, menempel rapih di dinding, persis di depan kursiku, mataku. Bukan lagi sebagai hiasan, seperti dulu, tetapi menyala sepanjang hari. Setiap waktu, kalau bisa, pandanganku akan tertuju ke sana, tidak ada lagi perasaan kikuk, tidak ada perasaan tidak nyaman, tidak tidak fair. Karena itulah yang kukerjakan sekarang, dunia media, televisi-cetak-digital. Dunia yang harus kuperhatikan, dunia yang tidak hanya untuk menghibur, namun juga untuk mendidik, mencerdaskan.

Dunia baru, mungkin juga dunia terakhir, untuk dapat dan masih bisa melakukan sesuatu, mengandalkan puluhan tahun pengalaman, dari belakang meja hingga bertemu punggawa, dari angka-angka hingga rencana-rencana, dari merendah hingga memerintah.

Tidakkah dunia tengah berputar terbalik, sebuah napak tilas, sekaligus sodoran kembali kemewahan yang kulewatkan dahulu?

(Catatan akhir tahun 2019, “BeritaSatu Media Holdings, Rimba yang Menyenangkan”)


Aku bukan seorang atlit. Dahulu, sekarang, juga nanti. Tidak menjadi anggota inti atau anggota bayangan untuk team volley, basket, sepakbola sekolah. Hanya mengandalkan passing bawah di volley, hanya bisa lelarian bolakbalik di lapangan basket, hanya jadi penikmat nonton sepakbola. Ngeri dengan lompat harimau, kaku saat melakukan gerakan kayang, menderita ketika diajak menari. Tetap horror setiap kali arung jeram, kelompok medioker untuk panjat dinding dan tebing. Lega kalau sekadar trekking naik gunung, yang hanya perlu mengandalkan kaki-kaki dan paru-paru.

Aku bukan seorang atlit. Tidak pernah terpikir dan tidak juga menyayangkannya. Sebenarnya, cuma ingin masuk team inti sekolah, untuk membawa fanatisme kelasku atau sekolahku. Itu saja sudah cukup. Namun, ya tadi, tidak pernah terjadi. Harus puas hanya duduk di bangku penonton, dan melampiaskannya lewat suara dukungan teriakan monster.

Baiknya, aku sehat. Teramat sehat. Tidak pernah kecelakaan fatal, tidak pernah sakit keras, dan tidak pernah berurusan dengan rumah sakit. Nyaris tidak pernah absen atau membolos dengan alasan persakitan, sekolah dan kerja. Sehat yang terus dibawa hingga saat ini, limapuluh lebih, dan memberiku -sekali lagi- kesempatan lain untuk mengisi kembali masa kekanakanku yang lemah.

Di saat temanteman seusia kerap mengingatkan, aku merasa, justru merasa, tidak pernah sesehat dan sekuat ini sebelumnya. Lari. Ya, apalagi. Bukan “team inti” brand ambassador tertentu, bukan podiumer, hanya seorang pelari biasa. Pelari solitaire. Memulai dua tiga kilometer di lari-lari awalku, nekad mengikuti lomba 5K, tidur di mobil menunggu start 10K, mendaftar dengan waswas 21K, didoakan di hari ulang tahun mampu marathon, dan -akhirnya- masuk ke dunia ultra.

Masa bermain kanak-kanak yang banyak terenggut, karena horror, kaku dan malu, hanya menjadi penonton (plus berbagi waktu sebagai kewajiban seorang anak membantu di home industry kecil keluarga), kini hadir kembali, terbentang di antara keindahan laut dalam hingga pesona puncak tertinggi. Dan di antaranya, tentu saja, jelajah jengkal-jengkal pelosok daerah.

Dunia tengah berputar terbalik, menyediakanku waktu untuk melaluinya secara sempurna, satu per satu.

(Catatan akhir tahun 2019, “Antara Papua dan Aceh, dan Everest di Antaranya”)

NH

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.