Asli, saya baru mulai mengenalnya sejak Juni 2015. Sebelumnya sering mendengar namanya, kiprahnya, tetapi hanya sebatas mendengar. Dari awal perkenalan sudah menunjukkan diri sebagai sosok dengan tingkat solidaritas tinggi. (Dia terkenal dengan karakter itu, menghargai pertemanan, mungkin terbangun dari aktivitas “panjangnya” sebagai mahasiswa UI dan hobby akut moge-nya; dan memang terbukti beneran ditunjukkan dalam perkataan dan perbuatannya.)

Totalitas, ini karakter lain -dan utama- yang mestinya menjadi nama tengahnya, Tito Totalitas Sulistio, TTS, boleh dan harusnya tambahkan juga gelar Doktor di depannya. Kalau Tito adalah seorang sutradara film, pasti genrenya kolosal mulu. (Bukan aliran horror, walaupun orang sering ngeri dengan kumis tebalnya, lototan matanya, dan gelegar suaranya.)

Tidak akan ada kehebohan dan ingar bingar “Yuk Nabung Saham” yang diresmikan Wakil Presiden RI pada tahun 2015 dan sekarang me-nasional itu, kalau bukan karena totalitas. (Awalnya, YNS itu “hanya” untuk kebutuhan dan kampanye yang sifatnya direktorat, pengembangan.)

Kalau lima tahun terakhir ini (sebelum pandemi) setiap pihak -name it, siapapun- berkesempatan menekan bell penanda pembukaan perdagangan bursa, yang dulunya sakral banget dan jadinya sedikit berkarat tuh bell, siapa coba yang “berani” menabrak tradisi itu? (Jenuh atuh kita tiap hari ada yang tekan bell. “Heh, lha, lu jenuh, yang nekan kan ganti-ganti orang, bayangkan antusiasme mereka dong.”)

Masih ingat tax-amnesty 2016? Bursa Efek Indonesia menjadi salah satu pihak yang paling getol berkampanye, sibuknya gak kalah sama dirjen pajak (*eh), yang kalau dipikir-pikir apa gitu hubungan langsungnya. Totalitas mendukung program strategis Pemerintah, dan anak-anak Bursa itu -semoga- menikmati banget kerja semangat, kerja keras, kerja pintar, kerja lembur, makan tidur mandi di kantor.

Kolosal lainnya, peresmian banteng wulung (paling gak kita-kita investor receh bangga dikit punya ikon gak kalah sama yang di Amrik atau Shanghai, malah wulung kita lebih epik dong, fosil kayu 2,5 juta tahun lalu yang dipahat cakep) tahun 2017 oleh Presiden RI, pas HUT Pasar Modal yang menghadirkan regulator, emiten, sekuritas, asosiasi, komunitas investor seluruh negeri, dan lain-lain dan lain-lain. (Kamu turut hadir membanjiri Jalan Sudirman dan SCBD, waktu itu?)

Eits, jangan salah, ini bukan tulisan drama romantis nostalgic tentang tiga tahun bersamanya di lantai 6 gedung indah itu, ini adalah sebuah tulisan kecil tentang totalitas seorang Tito (hanya menyebut beberapa contoh saja, lengkapnya mungkin bisa kita tunggu otobiografinya), yang sudah berkiprah di pasar modal sejak awal 90’an, dan masih perhatian banget hingga hari-hari ini, di usia 60’annya.

Perhatian, solidaritas, dan totalitas itu, yang membangunkannya Jumat kemarin, pagi belum jam 7 sudah bercontact, mengajak live di medsos (dunia barunya), untuk hari itu juga (disepakati, mengingat indeks 2 hari yang “mencekam”) untuk bincang soal pasar yang tengah bearish, atau froggish istilahnya.

Akhir penutup perbincangan yang indah ketika di ujung sore, Tito berkata, orang mati bisa karena sudah berhenti bernapas, atau mati karena otak berhenti berpikir, atau juga mati ketika orang sudah tidak tahu lagi siapa kita. Berkaryalah, untuk selalu dikenang, untuk kita tidak akan pernah mati.

NH

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.