I have just three things to teach: simplicity, patience, compassion. ~ Lao Tzu

Puluhan tahun lalu, para peneliti menemukan bahwa pikiran manusia hanya mampu mengingat antara tiga hingga tujuh hal dalam memory jangka pendeknya. Perhatikan ketika kita menghafalkan nomor handphone seseorang, yang saat ini bisa mencapai 10 angka. Kita tidak mengingatnya sekaligus, melainkan akan memecahnya menjadi beberapa bagian. (Walaupun buat apa juga dihafal, sekarang tinggal save saja selesai ya.) Atau penulisan angka, setiap tiga angka, kita pisahkan dengan tanda titik, bukan? Tiga, sebagai angka terendah, akhirnya menjadi angka favorit. Ingat perintah “Bersedia, siap, go” di aktivitas olah raga? Atau “lights, camera, action” yang sering diteriakkan para sutradara? Penulis-penulis besar pun mengikuti kaidah itu. Masih ingat “The Three Musketeers”? Atau Sam Kok nya Kho Ping Hoo? Atau tiga keponakan kesayangan Donald Bebek, Kwik-Kwek-Kwak?

Kalau kita memiliki “50 Alasan Nabung Saham” atau “21 Alasan Kenapa Kita Harus Investasi”, saya mau belajar menjadi penulis besar juga, mencoba “memeras” begitu banyak alasan itu menjadi tiga. Tiga alasan utama kenapa Anda harus (dan semoga mau) “membeli dagangan” saya selama ini. Mungkin bukan alasan, tetapi lebih tepatnya manfaat apa yang bisa Anda peroleh dari dagangan saya.

Menjadi investor saham, reward apa sih yang didapatkan?

Menjadi Kaya. Dulunya saya tidak terlalu suka memakai istilah kaya, terkesan terlalu kapitalis dan terdengar seperti sesuatu yang jauh dari kita. Saya lebih suka kata sejahtera. Tetapi biarlah kita pakai saja istilah kaya, gamblang (dan pastinya tidak berdosa.) Kalau kita mendengar ada orang yang berinvestasi, tapi tidak kunjung kaya, mungkin karena investasinya masih seumur jagung. (Bersabarlah…) Kalau kita sering mendengar ada orang yang berinvestasi tetapi malah bertambah miskin, cobalah evaluasi, mereka berinvestasi atau berspekulasi. (Beda sekali…) Dan kalau kita mendengar ada orang menjadi kaya dari hasil investasi, bergurulah kepada mereka. (Percayalah, jumlah mereka banyak…)

Menjadi Positif. Selain menjadi kaya, saya sangat suka dengan reward kedua ini. Saya tidak tahu cara lain yang lebih mudah dan efektif, selain menjadi investor, yang dapat mengubah hal yang satu ini. Nilai investasi kita mungkin tidak besar, tetapi manfaat hidup yang didapatkan sungguh luar biasa. Menjadi investor, kita menjadi positif. Menjadi optimis. Menjadi sabar. Menjadi disiplin. Menjadi pintar. Dan masih banyak Menjadi lainnya. Investasi miliaran atau jutaan atau bahkan ratusan ribu mampu mengubah kita menjadi pribadi dengan karakter terbaik.

Dua manfaat sekaligus, lahir dan batin. Yang pertama bisa dinilai, yang kedua tak ternilai. Jauh melampaui dari hanya sekedar angka rupiah investasi kita, atau sekedar keuntungan materi belaka. Dua reward yang memang kita butuhkan sampai akhir hidup, plus mewariskannya ke keluarga dan lingkungan kita.

Sejujurnya, dengan dua manfaat itu saya stuck, kesulitan menemukan esensi manfaat sesungguhnya yang ketiga. Tampaknya sudah lebih dari cukup dan mencakup apa yang kita butuhkan, bukan? (Tidak mudah juga ya belajar menjadi penulis, besar.)

Perlahan saya mengingat figur-figur ini. Mr Warren Buffet yang adalah seorang philanthropy. Pak Lo Keng Hong, investor Indonesia dengan portofolio saham triliunan Rupiah, dan masih bersedia disibukkan terbang sanasini, bicara investasi saham di depan mahasiswa dan masyarakat. (Saya suka membayangkan kalau saya punya harta sebanyak itu, maukah berlelah begitu. Salim hormat, Pak Lo.) Seorang Ibu PNS di timur Indonesia sana yang penuh semangat selalu mengedukasi ibu-ibu lainnya, di kantor dan pasar mama mama. Para petani investor di Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, yang berdiri di panggung dan dengan lantang mengajak warga desanya nabung saham. Anak-anak mahasiswa investor, yang rela kembali ke kampung halamannya, tanpa takut dan tanpa lelah terus bersuara. Investor-investor yang terpanggil membentuk komunitas untuk mengedukasi siapapun tanpa melihat laba rugi. Ya, rasanya inilah manfaat yang ketiga. Tidak lagi untuk diri sendiri. Tetapi untuk sesama kita. Reward terakhir, bahkan mungkin reward tertinggi dan terbesar yang kita peroleh, Menjadi Orang Berguna. (Masih ingatkah kita dengan cita-cita masa kecil kita?)

“Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak manfaatnya untuk orang lain.”

NH

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.