Dahulu kala, berlarilah seorang kurir Yunani, dari kota Marathon hingga Athena sejauh 40 kilometer (sekitar 25 miles) untuk menyampaikan berita kemenangan Yunani atas invasi gagal tentara Persia. “Victory!” teriaknya begitu sampai di Athena (mungkin dengan tangan terkepal ke atas), kolaps, lantas meninggal dunia di tempat. Inilah inspirasi untuk mulai diperlombakannya lari marathon di Olimpiade Athena 1896. Inspirasi untuk berlari jauhnya dan hanya sampai teriakan “Victory!”, tak perlu ikutan kolaps dan meninggal dunianya.

Lalu kenapa 42,195K atau 26,2 miles? Dimulai pada Olimpiade London 1908. Gegara Ratu Alexandra, katanya. Sang Ratu ingin startnya di halaman rumput Benteng Windsor, supaya anak-anaknya dapat menyaksikan dari kamar tidurnya (masih dalam pakaian piyama tentunya), dan finishnya persis di depan royal box VVIP di stadiun olimpic. Jadilah jarak aneh itu. Nah, kita tahu sekarang, siapa yang harus disalahkan ketika kita menjalani 2 kilometer terakhir lari marathon dalam kondisi menderita.

***

Filosofi – atau apa ya namanya? – lari jarak jauh semacam half marathon, marathon, atau ultra marathon, sebenarnya sangat bisa kita terapkan dalam banyak hal di kehidupan kita. Salah satunya soal investasi. (Tulisan ini terinspirasi materi awal tahun lalu, yang pernah dibawakan kepada teman-teman pelari yang ingin menjadi investor, ingin lari terus, ingin ikut race sana sini dalam luar negeri, tanpa bikin kantong jadi bolong. Berharap salah satu sumber pemasukan devisanya adalah dari hasil investasi. Mungkinkah? Ehem, menjawab pasti bisa panjang urusannya. Tapi mari kita cari bersama benang merahnya.)

Kita akan mengawali dengan pernyataan – sekali lagi – investasi adalah jangka panjang, sebuah lari jarak jauh. Berpikir investasi adalah jangka pendek, sama dengan berpikir marathon itu sprint. Teettt, salah! Lalu, berapa panjang? Ya, sepanjang-panjangnya, lifetime. Coba bayangkan, memangnya waktu kita mendirikan sebuah perusahaan, kita lalu menentukan cukup 1 tahun, 3 tahun, 5 tahun saja, kemudian tutup? Going concern, perusahaan harus terus dan tetap ada dan kita terus menjadi pemiliknya, sampai tua, bahkan – kalau bisa – sampai kita wariskan ke anak cucu. Kenapa tidak? Bahwa dalam perjalanan waktu, perusahaan kita bernilai tinggi, lalu kita mau jual, menikmati keuntungannya, ya monggo toh, sahsah saja, anytime. (Bingung? Sini peluk. Sesederhana gitu? Yup! Siapa sih yang selama ini bikin rumit, ggrrr…) Ketika kita telah menentukan di awal, kita akan lari marathon, kita persiapkan, kita latihan, kita tahu kita harus menuntaskannya, sampai selesai, finish. Pun demikian dengan investasi kita.

Pada saat latihan, mulailah perlahan. Demikian juga saat hari H. (Eh ya, bagian lari dari tulisan ini mungkin tidak cocok untuk para professional dan para podiumer, yang wuuzzz, startnya sudah kencang. Boleh abaikan.) Ketika tubuh mulai terbiasa dengan latihan awal tadi, boleh kita naikkan pace, menambah kilometer, memperoleh endurance. Sama juga ketika berinvestasi, mulailah perlahan. Kita bisa mulai dengan produk obligasi (yang keuntungannya pasti, bunga atau imbal hasil) atau reksadana. (Banyak banget pilihannya ini, hubungi agen Anda.) Yang pasti jangan cemplungkan habis dana kita di awal investasi, sisihkan sedikit demi sedikit, sambil belajar dapatkan “pace” nyaman. (Bukan “uang belajar atau uang sekolah” ya, yang mengatakan seolah-olah di awal investasi selalu merugi. Ndak ada itu.) Kemudian mulailah berinvestasi langsung ke saham. (Percayalah, ini jauh lebih keren, menjadi pemilik perusahaan gitu lho. Beserta seabreg keuntungan dan manfaatnya. Risiko? Ya ada dong. Bayangkan saja risiko seorang pengusaha. That’s it.) Mirip kan, memulai lari perlahan, memulai investasi perlahan. Belanda masih jauh, perjalanan masih panjang. Ketika mulai khatam, bolehlah menambah kilometer dan pace, menambah besaran dana dan produk investasi. Cakep!

Latihan di jalan datar pun mulai bisa kita selingi dengan track naik turun, karena itu yang akan kita hadapi pada saat lomba, selalu ada medan yang seperti itu. Terkadang bahkan kita temui tanjakan dan turunan ekstrem. Demikian juga dengan naik turunnya kehidupan, Kawan. Eh, maksudnya naik turunnya investasi. Tak ada harga saham yang naik terus menerus ataupun turun terus menerus (Ini berlaku untuk saham perusahaan baik, perusahaan bonafide, perusahaan bermanajemen baik, saham blue chips, bukan saham abal-abal.) Ketika menghadapi tanjakan ataupun turunan, kita tak lantas berhenti keluar dari lomba, kan? Ingat, finish line masih jauh di ujung sana. Untuk pelari jarak jauh, ultra runner, bahkan disarankan walk the uphills. So, kalaulah investasi kita naik turun, santai saja. Selalu saja akan ada berita-berita negatif yang membuat pasar saham turun, bukannya itu malah peluang mendapatkan saham harga murah? Perusahaan baik akan selalu bergerak ke arah yang lebih baik dan lebih baik lagi, walaupun ada gejolak di antara titik-titik itu. (Hari-hari ini sedang galaukah karena harga saham turun-turun terus? Sini, peluk lagi.) Seperti track naik turun tadi, kalau tidak bisa dilariin, jalanin saja. Investasi, seperti juga lari jarak jauh, when tackling an ultra, remember one word: patience.

Pause:

Mainkan Patience, by Guns N’ Roses

Said woman take it slow, and it’ll work itself out fine

All we need is just a little patience

Said sugar make it slow and we’ll come together fine

All we need is just a little patience

Mm, yeah

Menjaga pace yang tepat dan pace yang konstan tentu akan memberikan hasil maksimal. Menaikkan pace secara tiba-tiba dan berlari kencang tentu saja berisiko, bahkan risiko do not finish (DNF), tidak mencapai garis finish. Menjaga suasana hati dan pikiran tetap tenang, berinvestasi secara rutin (Yuk Nabung Saham!) adalah kunci untuk mendapatkan hasil maksimal pula. Endurance, seperti halnya di lari jauh, juga mutlak kita butuhkan di dunia investasi, tidak hanya endurance dana kita yang peruntukkannya untuk jangka panjang, juga stamina mental untuk tidak menyerah sebelum tujuan kita tercapai. Tidak tiba-tiba galau lalu panik menjual investasi, tidak bernafsu menjadi greedy pinjam uang sana sini untuk borong saham. Masa’ di dunia investasi juga pakai istilah DNF, tragis atuh.

Ketika kita melintasi garis finish, selalu dianjurkan untuk stretching, cooling down, dan tentunya istirahat. Ketika investasi kita mulai menghasilkan, walaupun di awal tadi dikatakan lifetime, mari kita nikmati. Paling tidak ada dividen pembagian keuntungan perusahaan kita yang tiap tahun masuk ke kocek, lumayan untuk nambah-nambah ikut race. (Cek 20 saham perusahaan pembayar dividen terbaik di Indeks High Dividend-nya BEI.) Atau ada saham yang sudah naik dan ingin kita jual sebagian untuk biaya ikut Major Marathon, atau lelarian di kutub dan gurun, atau lari 7 marathon di 7 benua dalam 7 hari, kenapa tidak, ndak dosa kok.

Kawan, ingat selalu 3 kutipan bijak ini. Invest your lineal income, so you can earn the exponential income. Satu lagi, never depend on single income, make investment to create a second resource. Terakhir, if you don’t find a way to make money while you sleep, you will work until you die. Dan sedikit saja ikut race. Tuh!

Baik sebagai pelari, maupun sebagai investor, tentunya kita tidak mau nasibnya seperti Pheidippides, si kurir pembawa pesan kemenangan itu. Di finish line, sebagai pelari, kita bermimpi berteriak “Victory!” kemudian mendapatkan mahkota daun zaitun. Sebagai investor, di finish line, mari bermimpi berteriak “Victory!”, sambil mandi berendam minyak zaitun. Sama-sama kita, para pelari dan para investor, tidak ingin kolaps, tumbang, lantas meninggal dunia.

NH

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

4 replies on “RUNNER, JADILAH INVESTOR (INVESTOR, JADILAH RUNNER)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.