And you can tell everybody this is your song

It may be quite simple but now that it’s done

I hope you don’t mind

I hope you don’t mind

That I put down in words

How wonderful life is while you’re in the world

Menjelang terbenam, matahari bersinar merah menyala, seolah hendak membakar pohon-pohon tarbantin dan maple yang telah lelah seharian meneduhkan taman itu, Green Park. Posisi Fei berdiri tidak di bawah salah satu pohon-pohon tinggi itu, tetapi dari awal dia memilih di hamparan rumput hijau yang lebih terbuka. Tempat beberapa pasangan muda mudi tengah duduk bercengkrama atau rebah tidur-tiduran, tempat anak-anak berlari, bermain dan menjatuhkan diri. Sementara jari-jarinya masih bergerak kian kemari menekan senar-senar gitar akustiknya, Fei menyapu pandangannya. Tiga gadis belia saling merangkul dan bernyanyi bersama di barisan penonton, sesekali sambil menunjuk di antara mereka. Seorang pria setengah baya dalam jaket abu-abu lusuh dan kepala tertutup balaclava yang dinaikkan hingga ke jidat, turut juga bernyanyi, lengkap dengan gerakan tangan dan goyang tubuhnya, sejak lagu pertama tadi. Sepasang kekasih yang mungkin tengah berlibur, berpegangan tangan. Oh, ada beberapa pasang yang lain juga tampaknya. Seorang perempuan dalam balutan sweater hijau tosca, dengan tulisan “Walk On” di sana, berdiri di belakang sendiri, sedikit menunduk memandang lekat. Mata mereka beradu, dan Fei menangkap bola matanya yang hitam dominan. Pengunjung-pengunjung lain menjepretkan kamera dari handphone-nya, ataupun merekam. Ketika Fei mengakhiri lagu keduanya, tepuk tangan terdengar. Seorang pria berjas biru tua tanpa dasi berjalan menghampiri Fei, memegang bahunya, membisikkan sesuatu ke telinganya dan menyelipkan selembar uang kertas ke kantong jaketnya. Beberapa pengunjung melangkah ke depan meletakkan koin-koin di sarung gitarnya yang terbuka.

“Thank you, thank you…”

Fei melirik arloji G-Shock di tangan kanannya, delapan lewat tiga puluh tujuh menit. Udara terasa sejuk. Langit masih terang, menjelang matahari beranjak. Dan mereka masih menunggu Fei. Juga perempuan itu.

“And this is the last song.”

Woman please let me explain

I never meant to cause you sorrow or pain

So let me tell you again and again and again

I love you, yeah, yeah

Now and forever

***

Fei membuka matanya perlahan. Menatap plafon tinggi sekitar tiga meter bergambar langit. Biru dengan beberapa goresan awan putih tebal di sudut kanan. Awan yang membentuk seekor kelinci, sendiri. Ah tidak, ada dua. Dia mencoba mencari-cari kelinci lainnya, tak ada. Barangkali memang tidak pernah ada kelinci ataupun figur lainnya di sana, pelukisnya tidak pernah bermaksud menggambar apapun, kecuali hanya gulungan awan putih. Fei saja yang berimajinasi. Sudut satunya, kumpulan awan lebih tipis. Kembali dia mencoba mencari-cari. Masih.

Suara “beep” dari pintu terdengar, dan daun pintu berayun.

“Pak Fei…”

Fei tidak menengok ke arah suara, hanya menggoyangkan sedikit kepalanya, menurunkan pandangannya ke lengkungan di bawah plafon yang membentuk kubah, menyatu dengan tembok-tembok bercat putih. Empat sudut ruangan tiga meter kali dua meter itu bersih tanpa hiasan sedikitpun.

“Aha, Anda sudah terjaga. Semuanya baik-baik saja?”

Menoleh ke wanita yang menyapanya, Fei mengangguk perlahan dan mencoba tersenyum.

“Sekarang Anda boleh bangun, silakan,” wanita berpakaian putih biru tadi membiarkan Fei bangkit dari rebahnya. Melepaskan elektroda pad di kedua pelipis Fei, memeriksa plester yang tertempel di bagian belakang telinga kanannya, meraba titik darah bekas suntikan yang sudah kering, kemudian melepaskannya.

“Sudah selesai. Semoga pengalaman Anda menyenangkan.”

Ketika langkahnya mencapai pintu terbuka yang tengah dipegang wanita itu, Fei menoleh ruangan itu kembali. Matanya menyipit, masih tidak percaya dengan yang baru saja dialaminya. Matahari senja. Taman. Blowing In The Wind. Petikan gitar. Pandangan mata. Your Song. Tepuk tangan. Lelaki berjas biru tua. Koin-koin. Woman. Perempuan itu.

“Sampai bertemu kembali, Pak Fei,” sebuah senyuman dilemparkan, “Saya percaya Anda akan kembali lagi.”

Fei melangkah keluar gedung seukuran dua kali ruko itu, menuruni lima anak tangga, menyatu dengan trotoar sempit. Gelap telah jatuh, disinari oleh lampu-lampu jalanan yang menyala kuning redup. Sebelum bergegas menyusuri arah menuju ke stasiun MRT di belokan jalan di kanan depan, Fei sempat memandang kembali tulisan di kaca jendela gedung itu.

“They say if you dream a thing more than one, it’s sure to come true. Create your dream, live your dream.”

NH

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.