Selembar tissue disodorkan. Kesia membuka lipatannya. Tulisan cetak “Dear Coffee” pada kertas tissue cafe itu telah dicoret, menjadi “Dear Kesia”. Sementara tulisan cetak di bawahnya masih sama, “I love you”, dengan tambahan sebuah nama, “Rakka”. Pandangan mereka bertemu. Kesia tersenyum sipu, dan menunduk. Demikianlah Rakka pertama kali menyatakan cintanya.


“She’ll let you in her house
If you come knockin’ late at night
She’ll let you in her mouth
If the words you say are right
If you pay the price
She’ll let you deep inside
But there’s a secret garden she hides”

Kesia merasa cocok saja melantunkan dalam hati lagu Bruce Springsteen itu di The Secret Garden Cafe. Kesia memilih duduk di luar, di bawah sebuah payung warna cream. Suara dari air hujan tipis yang mengetuk-ngetuk payung menemaninya bernyanyi. Angin pagi kota Perth bertiup lembut. Udara nyaman, Kesia memandang AppleWatchnya, delapanbelas derajat celcius. Matanya kembali menangkap tanggal hari itu, 30 Agustus. Duapuluh tahun berlalu dan Kesia terkenang kembali tissue yang disodorkan Rakka di sebuah cafe di Jakarta.

Juga percakapan terakhirnya dengan Rakka, yang saat itu sudah menikah, di cafe yang sama, sebelum Kesia pindah bersama orang tuanya ke Perth akhir sembilan puluhan.

“Ka…”
“Ya…”
“Boleh ya, berhenti mencintaiku?”
“Wait Sia… darimana kamu tahu?”
“Aku tahu Ka, dari kata-kata yang kamu pilih, dari nada suara yang kamu ketik, dari setiap kesenjangan dan keheningan, aku tahu.”
“Ooh… tapi kamu tidak berhak melarang, Sia.”
“Aku tahu, makanya aku memohon.”
“Tapi kenapa harus berhenti?”
“Sebab kamu bikin aku gelisah.”

Sejak menetap di Perth, perlahan Kesia telah melupakan Rakka. Apalagi setelah menikah dengan seorang bule. Pilot sebuah maskapai internasional, yang waktu terbangnya bersaing dengan waktu bertemunya dengan keluarga. Anak tunggalnya , perempuan, sekarang telah berusia tujuhbelas tahun. Cantik, tinggi, yang kalau di tanah kelahiran Kesia pasti sudah menjadi indo yang laris mengisi sampul majalah, atau main sinetron. Namun di sini dia sibuk dengan segala kegiatan sekolah dan komunitas seni pop art.

Sebenarnya Kesia tidak seutuhnya melupakan Rakka. Seperti halnya tanggal hari itu. Percakapan itu. Hanya saja akhir-akhir ini segala sesuatunya bukan lagi soal Rakka. Melainkan tentang seseorang yang lain. Entahlah, dalam keseharian, dalam banyak kesendiriannya, pertanyaan demi pertanyaan muncul dan menari-nari di kepalanya. Dan Kesia mulai menulis. Tidak serius dan kadang tak jelas, tapi cukup untuk menemani tarian-tarian itu.

… she often feels “longing for someone”
yet she doesn’t know anymore who is he that she is longing for (she used to know)
till one day to her astonishment she realized ‘she has never met the one’
and she became deeply sad and heartbroken, for she knew despite all her longing she will never meet him
so she keep singing those love songs dedicated to no one and keep longing for no one…

Apa yang ada di kepalanya, itu yang ditulis. Itupun sekadar di atas kertas tissue cafe. Like a tissue paper, used and thrown, life use us and throw us, people use us and throw us, love use us and throw us.

… and so if it is true that everyone has their own soulmate, isn’t it cruel to know that somehow somewhere she failed to meet hers and then she ended up marrying someone else spending most of her entire adult life knowing that there is always a void in her heart which makes her kept asking herself who is this that she was always longing for and then at the end she gave up and start telling herself: brave out, you indeed alone and yet you will be just fine…

Beberapa tetes hujan dibiarkannya jatuh membasahi lembaran tissue, memudarkan kata demi kata. Kesia berdiri, memasang tutup kepala dari jaket wind breaker warna orangenya, berjalan melintas tong sampah dan membuang tissue tersebut.

… yet so far she hasn’t decided whether or not she believes in the existence of a soulmate…

30 August 2019

NH

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.