Cahaya buram itu bergerak naik turun perlahan dari kejauhan, mengubah garis-garis tipis gerimis menjadi jarum yang dilepaskan dari langit, patah dan lebur ditelan bumi yang basah. Cahaya yang semakin lama semakin mendekat dan membesar, tampaknya milik seorang pelari lain yang segera akan melintas. Sejak malam jatuh tadi, sejak aku berdiri mematung di pinggir jalan ini, aku menghitung sudah ada enam pelari yang berlalu. Dan mereka sama sekali tidak menggubris aku, atau mungkin tidak melihat aku. Namun sekali ini, cahaya dari lampu kepala itu mengarah kepadaku, mungkin pelari yang satu ini melihatku. Aku menurunkan sedikit topi fedora, menegakkan kerah jas panjang hitam, menutup sebisanya wajahku. Memasukkan kedua tangan yang dingin bersarung ke dalam kantong-kantong jas, aku bergegas menyeberang jalan kecil aspal itu. Ketika cahaya itu mendekat dan sekali lagi diarahkan kepadaku, aku telah menghilang, lenyap bersama jarum-jarum yang patah, lebur dalam rumput-rumput pinggir jalan yang basah dan mengkilap…


Mataku terpejam. Dalam gelap yang kosong, hanya terlihat sosok Alda yang berlutut lemah, air mata membentuk aliran sungai dari matanya yang bening dan hijau. Tubuhku terpaku, sementara tanganku terus berusaha meraihnya, namun hanya mampu menggapai-gapai ruang hampa yang seolah terbentang tanpa batas. Aku berteriak, tetapi terhenti di sekat tenggorokan, hanya mampu bergema di antara dinding kepalaku sendiri. Inikah sakratul maut?

Gambar-gambar masa kecilku berkelebat lambat, dalam warna hitam dan putih. Ada Alda, teman kecilku, teman remajaku, di sudut kanan dan kiri, di sisi atas dan bawah, hingga acara pernikahan kami. Alda dalam balutan gaun pengantinnya yang cantik, sedangkan aku mengenakan jas panjang hitam, bertopi fedora. Aku merasakan mataku hangat, dan merasakan air mata mengalir pelan dari ekor mataku yang tertutup.

Ada bayangan ketika pertama kali aku menjejakkan kaki di pantai selatan Maumere, “Cabo de Flores”, setelah berbulan-bulan mengarungi samudera dari tanah kelahiranku di Portugis, perjalanan pertamaku meninggalkan Alda setelah nikah. Wajah-wajah ketakutan penduduk lokal daerah tropis ketika melihat kami yang berkulit putih, berwajah pucat. Wajah seorang bapak tua pencari ikan yang berusaha meyakinkan penduduk bahwa misi kami adalah dalam rangka menyebarkan agama. Wajah ramah Pastor Dominikus, yang memimpin rombongan kami, sementara aku berdiri tegap mendampinginya di belakang.

Bayangan yang terus bergerak ke pepohonan hutan yang liar, di antara keringnya kemarau, ketika kami merambah dan mencari mata air, menggali lubang-lubang sumur, sambil memilah batang pohon pisang mencari air. Bayangan saat tubuhku yang menggigil terbaring lemah, demam akibat gigitan nyamuk, mengigau siang dan malam, hari lepas hari, tanpa mampu banyak bergerak dari ranjang kayu reyot tempat singgah kami. Bayangan yang perlahan-lahan melambat dan akhirnya berhenti.

Ketika aku berusaha membuka mata, samar-samar aku melihat jari-jari Pastor Dominikus bergerak perlahan di antara keningku, melukis sebuah tanda salib. Mataku meredup. Tubuhku ringan. Sosokku melayang. Namun jiwaku memberontak. Dan terus memberontak.

NH

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

2 replies on “NAMAKU NOE

Leave a Reply to Miracle Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.