Seekor camar berulang mengepakkan sayap-sayapnya, berusaha sekuat tenaga terbang menembus angin kencang. Posisinya tidak bergerak. Turun ke tanah, sebentar, kemudian berusaha lagi. Tetapi tetap saja di atas sana dia masih belum banyak bergerak. Kembali turun ke tanah, untuk ambil ancang-ancang berusaha lagi.

Ramalan cuaca sehari sebelumnya persis sama; berangin (sesuai julukan kotanya), hujan, dan temperatur 3 derajat Celsius. Danau Michigan pagi itu tidak seperti tiga hari sebelumnya, yang tenang layaknya cermin memantulkan bayangan langit biru cerah dan tiang-tiang dermaga kapal yang kesepian ditinggal penghuninya. Hari itu, Sabtu, danau Michigan berubah menjadi laut Michigan. Riaknya telah menjadi gelombang besar laut lepas. Di beberapa titik bahkan ombak tinggi menghantam keras dinding pembatas hingga melompat ke lintasan pejalan kaki di sepanjang bibir danau. Hembusan kencang angin yang menyulitkan terbang si camar, sama menyulitkannya untuk para pelari yang tengah berjuang. Atau minimal untuk pelari kita ini. Tiupan angin kadang turut mendorongnya sedikit ke samping kiri dan kanan, kadang menahan keras laju larinya yang tidak cepat, kadang mendorongnya sedikit ke depan.

Hujan sudah turun sejak awal lomba, atau bahkan sebelum dia naik Uber dari hotelnya pukul setengah tujuh pagi. Sesekali mereda sebentar, kemudian turun lagi. Tiba sekitar dua puluh lima menit kemudian, tidak ada tanda-tanda gapura lomba bertuliskan START/FINISH, atau deretan umbul-umbul race, lengkap dengan nama para sponsornya. Hanya disambut dan diarahkan seorang wanita setengah baya untuk menuju terowongan, titik kumpul baru agar para peserta terhindar dari hujan dan angin. Beruntung jumlah pesertanya tidak seperti Major Marathon. Kemarin waktu pendaftaran, dia sempat bertanya ke petugasnya, “How many participants?” Pak petugas, sekaligus organizernya itu, sambil tersenyum menunjuk ke arah BIB no dadanya, No. 131.

The show must go on. Dalam cuaca buruk ekstrem sekalipun (very poor for running, tertulis di gadgetnya), lomba tetap dimulai tepat pukul tujuh tigapuluh, berlari sepanjang lintasan gravel dan aspal pinggiran danau. Terbuka dan tanpa banyak pohon. Menuju ke titik check point untuk kembali lagi ke terowongan tadi, sepanjang hampir 17K. Butuh 3 loop untuk mencapai 50K, ultra marathon. Loop pertama, untuknya berjalan lancar dalam guyuran hujan dan tiupan hebat angin. Loop keduapun sebenarnya tidak buruk untuknya, dalam cuaca yang tidak banyak berubah. Hanya saja, berlari tanpa sarung tangan di udara sedingin itu rasanya salah banget. (Bukan rasanya, memang salah banget!) Sambil berlari, sesekali dia sempatkan memperhatikan telapak tangan dan jari-jarinya yang mulai membeku, membirukah? Windbreaker tipis yang dibeli di tempat pendaftaran kemarin ternyata memang hanya windbreaker. Tidak merangkap jas hujan. Satu kaos thermal, satu kaos lari, plus jaket tipis yang dikenakan di balik windbreaker itu basah seluruhnya, setelah berlari sekitar empat jam.

Menyelesaikan loop kedua, begitu masuk ke terowongan, tiba-tiba dia merasakan tubuhnya gemetar kedinginan. Seperti juga seorang pelari wanita di sampingnya yang sedang duduk menggigil hebat, dalam balutan selimut dan dikelilingi beberapa panitia atau temannya. Dia mencoba berjalan sana-sini, terus bergerak, namun tidak banyak membantu. Dia masih tetap menggigil. Seorang panitia, dengan sangat ramah dan simpatik, bertanya, “Tell me anything that I can do for you?”. Dia meminta minuman hangat. Pria kulit putih tadi langsung menyendok semangkok kecil bubur kacang merah yang dicampur dengan nasi. Menerima dengan gemetar, dia terduduk dan mulai menyuap beberapa sendok bubur hangat itu. Tangan dan tubuhnya masih terus menggigil…

Untungnya, dingin tidak membekukan isi kepalanya untuk berpikir. Ya, dia harus mengambil keputusan. Sisa waktu tempuh masih sangat bersahabat, namun tubuhnya telah memberikan sinyal, memberikan tanda. Tubuhnya yang selalu menyayangi dirinya, selama ini, selama puluhan lomba lari jarak jauh. Meneruskan loop terakhir berarti mengambil risiko, terutama risiko atas ketiadaan antisipasi kalau sesuatu terjadi. Dia tidak siap untuk itu. Dia menyukai lari – mencintai lari – tetapi dia tidak mau menantang risiko yang tidak diketahui, risiko yang tidak terlihat, risiko yang tidak terukur.

(“He delights in his running the same way someone takes delight in his lover; Embracing its long distance as his loyal companion he is always grateful for; not as an adversary he must defeats. And he despises to use the word “conquered” for every running event he committed himself in, each journey with its own sacred path leading his footsteps.” ~ NHe)

Sepanjang lintasan panjang itu, di hari berangin dan hujan itu, praktis tidak banyak orang kecuali para pelari gelo itu. Dan, tampaknya, tidak ada yang bisa diminta bantuannya kalau terjadi apa-apa. (Tiba-tiba dia ingat, temannya sekali waktu pernah berkata, kalau panas kita masih bisa berteduh, kalau dingin bagaimana kita berlindung?) Setelah bolak-balik dua loop tadi, dia paham, dia sadar kondisi sepi dan terbuka pinggir danau Michigan.

Cukup sudah 33,5K, cukup sudah 4 jam. Lebih dari cukup malah. Pelari itu, Aku, akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan loop ketiga. Aku memutuskan untuk DNF. Do Not Finish. Keputusan yang sulit. Mungkin. (Atau malah seharusnya keputusan yang mudah. Teramat mudah, ketika Aku tanggalkan yang namanya ego.) Kepada Peter, sang organizer, Aku menunjuk BIBku, dan berkata lirih, “I’m out…” Pria usia enampuluhan tahun itu memandangku. Memberikan tangannya. “You are crazy…” Aku tak tahu persis apa maksud Peter, yang aku tahu, aku sedikit terhibur dengan kalimat itu.

Entahlah. Yang pasti dalam perjalanan pulang, masih basah kuyup kedinginan di dalam taksi, Aku merasa lega dengan keputusan itu. Ada secuil rasa senang. Mungkin karena membayangkan bathtub berisi air hangat yang menanti di kamar hotel…

NH

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.