Layaknya bumi yang diciptakan dengan dua kutub, utara dan selatan, manusia pada dasarnya diciptakan dengan dua kutub, dua pilihan. Menjadi baik atau jahat. Namun karena manusia adalah makhluk paling sempurna, pilihannya – yang diciptakan oleh manusia itu sendiri – menjadi lebih bervariasi. Kadang bisa baik, tiba-tiba menjadi jahat. Kadang bisa jahat, lalu berubah menjadi baik. Kadang pura-pura jahat, padahal baik. Kadang pura-pura baik, padahal jahat. Yang terakhir ini, parah. Manusia beruntung mendapat kebebasan memilih dan bersikap seperti itu. Atau sebenarnya malah itu suatu ketidakberuntungan?

Fidelity Investments, salah satu lembaga keuangan terbesar di Amerika Serikat dan dunia, pernah melakukan sebuah survei. Lembaga yang mengelola dana total tidak kurang dari duapuluhribu trilyun rupiah ini (bandingkan dengan kapitalisasi bursa efek kita yang seluruh sahamnya bernilai sekitar tujuhribu trilyun rupiah), ingin mengetahui nasabah-nasabahnya yang manakah yang mencatatkan keuntungan terbesar dalam duapuluh tahun terakhir. Hasilnya? Ternyata nasabah-nasabah dengan untung terbanyak adalah nasabah-nasabahnya yang lupa bahwa mereka punya rekening di perusahaan tersebut.

Layaknya pilihan hidup, sebenarnya menjadi pelaku pasar modal, kita juga diberikan dua pilihan. Menjadi investor tulen atau menjadi trader tulen. Dua-duanya memakai tambahan kata tulen. Hasil survei Fidelity memang, secara tidak sengaja, menunjukkan bahwa investor tulen ternyata adalah yang paling beruntung. (Masih banyak contoh dan hal lain yang menunjukkan itu. Tanyalah Lo Keng Hong atau Warren Buffet. Atau lihatlah saham-saham kita yang kalau kita simpan duapuluh tahun, sudah berapa puluh atau ratus kali kenaikannya.) Tetapi tidak bisa dipungkiri juga bahwa banyak trader tulen yang membukukan keuntungan tidak lebih sedikit dibandingkan dengan para investor. Saya kenal beberapa, satu dua tiga, yang menjadi milyader dari saham. Dan saya salute sekali dengan mereka. Memang tidak banyak. Anda juga mungkin kenal beberapa, bahkan mungkin jauh lebih banyak. Trader tulen yang saya kenal adalah trader yang betul-betul sehari-hari di depan layar monitor saham, tidak bisa tidak. Tanpa monitor, mereka akan mogok. Bertransaksi secara cepat, cermat dan – terutama – disiplin. Tidak peduli, bahkan kalau perlu dalam hitungan detik, mereka bisa menjual kembali saham yang baru dibeli barusan, entah menang entah kalah. Perlu keahlian luarbiasa, kejelian luarbiasa, kedisiplinan (lagi!) luar biasa, dan (mungkin) keberuntungan luar biasa pula.

Kembali ke pilihan kita. Kadang kita tidak memilih dua jalur tadi untuk menjadi kaya melalui saham. Kita lebih banyak bermain di antaranya. Lebih banyak dari kita bermain di antaranya. Dan itulah yang membuat kita tidak menjadi bertambah kaya, layaknya investor tulen atau trader tulen itu. Mungkin tidak sampai jatuh miskin, tetapi yang pasti kekayaannya berkurang. Kita tidak menjadi investor, dan juga tidak menjadi trader. Entah apa istilahnya.

Kita membeli saham dengan dana jangka pendek (uang darurat, uang dapur, uang cicilan kredit, uang kuliah, uang sekolah anak, dan lain-lain) dan karenanya berharap mendapatkan keuntungan dalam jangka pendek pula, sependek jangka waktu dana yang kita miliki. Lalu kita berharap waktu yang pendek akan berpihak kepada kita, gitu? Waktu adalah sesuatu yang pasti, dan tampaknya dia tidak suka dispekulasikan, dipertaruhkan. Membeli saham hanya karena “katanya”, tidak memantau terus menerus (detik per detik), tidak “bersikap ketika salah posisi”. (Ingat yang harus dilakukan oleh seorang trader tulen di atas?) Dan pada saatnya harus menjual, karena kebutuhan dana tersebut, kita umumnya pada posisi merugi. Meradang, sakit hati, dan menyalahkan siapapun yang ada hubungannya dengan saham kita, kecuali diri kita sendiri. Kadang kucing tetangga yang lewat depan rumahpun jadi sasaran, padahal gak ada hubungan.

Kalaupun kita tidak harus menjualnya, (lumayan, karena ada uang kaget atau uang bonus untuk menutup kebutuhan kita) yang awalnya kita beli dengan tujuan untuk trading singkat – bukan investasi jangka panjang – namun karena merugi dan tidak “tega” menjualnya, akhirnya menyimpannya, menjadi investor kagetan, “investor kecelakaan”. Padahal saham yang kita beli untuk tujuan trading harian (yang kita beli karena berita ini dan itu, rumor ini dan itu, analisa ini dan itu), belum tentu tepat untuk investasi jangka panjang kita. Malah mungkin tidak tepat sama sekali. Turun terus dan terus dan terus, hiks. Dan jadilah harta karun. Atau kadang setelah kita tidak kuat lagi, tutup mata sambil tega-tegain jual “cut loss” barulah dia mulai naik. Menyebalkan tetapi begitulah saham tradingan.

Dalam kasus yang lebih advance, para “trader nanggung” ini, pada saat harga sahamnya turun, bukannya disiplin jual “cut loss” segera layaknya seorang trader profesional, tetapi malah membeli lagi! Turun lagi, beli lagi! Lagi, lagi! Katanya sih “average down”. Istilahnya memang keren, tapi tipis banget bedanya dengan yang namanya “emosional”. Tipis. Banget. Turun lagi dan beli lagi, sampai dananya habis, atau sampai keberaniannya habis. Dan yang tersisa hanya pasrah saja.

Di sisi lain, hal yang serupa tapi tak sama menimpa para “investor nanggung”. Awalnya untuk investasi jangka panjang, katanya. Cakep! Ketika harga sahamnya naik, dunia begitu indah, suka senyum-senyum sendiri, sebentar-bentar melirik genit ke kucing tetangga yang lewat, eforia begitu tinggi. Saking tingginya hingga tak sanggup untuk tidak segera menjualnya, merealisasikan keuntungannya. Seolah besok langit akan runtuh, menimbun untung yang sudah di depan mata. Padahal dalam banyak kasus, kenaikan harga saham belum tentu sudah mencapai harga terbaiknya dan masih mungkin saja naik lagi. (Meminjam istilah LKH, sahamnya “salah harga”, masih kemurahan, kenapa tidak biarkan saja dia terus bergerak, naik.) Anda pernah dengar istilah “Berani Kalah Takut Menang” atau “Berani Rugi Takut Untung”? Nah. Alhasil, lihatlah deretan portofolionya, seluruhnya hanya berisi saham rugi. Ya iyalah, yang untung (sedikit) saja sudah buru-buru dijual.

Beberapa di antaranya berpikir idealis, kenapa tidak dijual dulu? Nanti turun kan bisa beli lagi di harga bawah. Kalau naik terus, bagaimana? Ya wis, rejeki saya hanya segitu (dengan nada suara tak rela). Plus, kadang-kadang bawa-bawa nama Yang Maha Kuasa. (See, toh akhirnya kita sendirilah yang melimit rejeki kita.) Baiklah, mari berandai-andai secara fair dan jujur. Kalau ternyata benar turun, artinya tebakan (atau harapan) anda tepat. Selamat! What next? Berapa banyak dari kita “berani” membeli kembali? Berapa banyak dari kita punya mental baja Superman seperti itu? Di harga berapa harus membeli kembali? Beli sekarang gak takut turun lagi? (Oh ya, saya tidak tahu apakah pola seperti ini masih tepat disebut pola investasi, pola seorang investor.) Don’t get me wrong, saya tidak bermaksud mengatakan anda tidak boleh “take profit”, but please really think really about really it. Karena pekerjaan terbesar dan terberatnya justru setelah penjualan itu, bukan? Entah apakah mantan saham kita naik ataupun turun. Ingat, gak mudah lho kembali ke mantan.

Tampaknya dunia saham, sama juga dengan dunia kita sehari-hari. Kita harus memilih, antara menjadi orang baik atau menjadi jahat saja sekalian (ups, semoga kita tidak pilih yang terakhir ini). Berdiri di antara baik dan jahat, atau hidup penuh kepurapuraan tadi, akan sangat membingungkan. Membingungkan diri kita sendiri, membingungkan orang-orang sekitar kita, dan membingungkan malaikat yang mencatat raport plus minus hidup kita. Pun untuk urusan saham. Menjadi investor tulen jangka panjang (yang tidak pusing dengan gonjang-ganjing harian), atau menjadi trader harian tulen sekalian (yang butuh keahlian dan kemampuan khusus luarbiasa). Berdiri di antaranya, itulah umumnya para loser, pecundang yang hanya menyerahkan uangnya untuk kalah dan rugi, memandang nanar yang namanya saham. Lalu bicara buruk mengenainya. Padahal siapa yang salah coba? (Kucing tetangga lewat lagi…)

NH

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.