“A person who won’t read has no advantage over one who can’t read.” ~ Mark Twain

***

Akhir Februari, Jumat pukul 8:45 pagi, saya berjalan kaki dari tempat menginap ke Wyata Guna, Bandung. Menyusuri trotoar yang naik turun, basah sisa hujan semalam, beberapa titik dengan ubin yang tidak rata, pecah, berlubang. Berhati-hati, hingga kadang harus berpindah ke pinggir aspal jalanan yang ramai itu.

Di depan, saya melihat dua sosok, lakilaki dan perempuan yang tengah berjalan, dengan tongkat di tangannya masing-masing. Si lakilaki berjalan di muka, sang perempuan memegangnya dari belakang. Berjalan perlahan melewati mereka, saya mendengar mereka terus bercakapcakap santai. Seolah trotoar buruk itu sama sekali tidak merepotkan mereka, seolah tongkat itu adalah mata yang menuntun mereka, seolah mereka memang tidak buta.

***

Siangnya, disela rekaman “buku bicara” (membacakan buku untuk direkam, yang nantinya dapat didengar oleh para disabilitas netra), saya beristirahat sejenak. Dari ruangan rekaman di lantai dua, saya turun tangga ke lantai satu, perpustakaan. Kebetulan kosong. Saya berpindah dari satu rak ke rak lainnya. Beberapa judul menarik perhatian saya. Ada Chairil Anwar, Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus. Atau Melihat Dunia Tanpa Mata, karya Poppy Diah. Saya ingin membacanya, namun saya kecewa. Ketika lembaran-lembaran itu dibuka, hanya ada halaman-halaman putih, dengan titik-titik timbulnya. Braille. Saya buta.

***

Lalu, siapakah sesungguhnya yang buta? Tidakkah saya buta? Tidakkah kita semua buta? Tidakkah sesungguhnya kita semua juga tidak buta? Hanya dimensi ruang saja yang memilah-milah itu. Di luar sana, saya mungkin berdaya, namun di ruang itu saya hanyalah orang buta. Saya hanyalah orang yang tidak berdaya, yang mencoba meraba-raba huruf demi huruf braille tanpa makna.

(“Ya, hanya di ruang itu juga, kami yang buta, mampu mensejajarkan diri dengan kamu yang bisa membaca tanpa meraba. Kalaulah buku adalah jendela kami melihat dunia, kalaulah buku mengajak kami keliling alam semesta, kalaulah buku adalah wujud angan dalam genggaman tangan kami, kalaulah buku membawa kami hidup ribuan kali, di ruang itulah tempat kami membenamkan diri. Merangkai mimpi.”)

#jelangbukubrailleNH

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.