Baris demi baris WA masuk, dari seorang teman di luar kota, setelah dia selesai mengikuti bincang investasi via IG Live, Sabtu malam kemarin. Saya sangat ingin mendengar ceritanya, lanjutan ceritanya, setelah berkisah melalui “Cermin Cermin Sepanjang Hari”.

“Puji Tuhan Pak, banyak hal yang terjadi, sekarang saya baru renovasi rumah Mama saya yang sudah saya tinggali dari tahun ‘98 sampai sekarang. Mungkin saya cerita sejak terakhir bertemu Pak Nicky saja ya, biar tidak terlalu panjang…”

*) Kami berkenalan Agustus tahun lalu, di seminar investasi saham sebuah kampus di Semarang, setelah dua jam dia menempuh perjalanan darat dari tempat tinggal dan kerjanya.

“Setelah pertemuan itu, saya kembali ke rutinitas, tetap mengajarkan banyak orang tentang investasi, bahkan sebagian dari mereka nasabah juga. Mereka tertarik belajar investasi saham dan saya masih tetap membagikan gratis, juga berlaku sama dengan orang-orang dari luar yang tertarik berinvestasi saham.”

*) Apa definisimu untuk sukses? Tatkala tangan tak lagi menengadah untuk meminta dan menerima, melainkan digunakan untuk memberi.

“Banyak godaan juga, Pak, mulai dari tawaran untuk memutarkan uang mereka di saham dan lain-lain, tapi saya tetap menolak. Setiap hari saya mendengar mereka bercerita, ada yang bisa beli sepeda baru harga di atas 100 juta, ada yang bisa beli rumah, bisa menikah dari keuntungan investasi saham di bursa efek, pastinya sebelum pandemi terjadi.”

*) Urutan penulisan sepeda rumah nikah bukan mencerminkan skala prioritas, jangan disalahartikan. Lagi pula tidak berarti hanya mengandalkan keuntungan investasi saham barulah menikah, karena kadang saham bisa lama penantiannya, lebih lama dari keputusan menikah atau dinikah.

“Di kantor banyak yang tidak suka saya dekat dengan banyak nasabah karena saham, ada yg memfitnah sampai melaporkan saya ke serikat pekerja, dan lain-lain, dikatakan saya mencari keuntungan dari nasabah-nasabah, dan lain-lain. Tapi semua itu tidak terbukti, karena memang saya tidak pernah meminta bayaran dari mengajar. Beberapa karyawan di kantor ingin belajar tentang saham, tapi beberapa tetap keukeuh, karena mengubah mindset tentang saham tidak mudah, Pak. Saya terus sharing tentang ilmu analisa, baik fundamental maupun teknikal.”

*) Begitulah hidup. Yang tulus gratis difitnah-fitnah, yang pamrih berbayar disanjung-sanjung. Padahal yang terbukti bisa menikahkan orang, jelas-jelas yang tulus itu. Bukan begitu?

“Alhasil semakin banyak yang tertarik, dan di kantor kebetulan belum berapa lama terjadi pergantian pimpinan, setelah beberapa waktu banyak orang tertarik belajar saham, sampai beberapa waktu yang lalu ada perwakilan dari BEI juga membagikan ilmunya dengan para karyawan kantor via online, dikarenakan pandemi. Tapi tidak menyurutkan keinginan untuk orang mengenal investasi saham.”

*) Baiklah, terdengar indah cerita tentang berinvestasi sebelum pandemi, lalu bagaimana kisah di saat-saat krisis ini? Masih utuhkah sepeda rumah nikahnya?

“Ada yang sabar, Pak, karena juga saya jelaskan tentang fundamental, mereka percaya bahwa perusahaan tempat mereka investasi itu tidak akan kalah dengan pandemi, didorong dengan data laporan keuangan yang menunjukkan laba kuartal pertama.”

*) Saya suka dengan istilah, “tidak akan kalah dengan pandemi”. Kepercayaan akan sebuah kebenaran adalah setengah keberhasilan, sisanya biarkan waktu yang bekerja.

“Karena mereka juga sudah merasakan hasilnya sebelum pandemi, dan selama pandemi kemarin beberapa hari juga banyak yang cuan, Pak, dan bisa membantu keuangan mereka ditengah pandemi.”

*) Jack Ma melintas, menitipkan ini. “Tolong jangan sebut diri kita investor jika menghasilkan uang saat pasar saham terlihat sehat, karena seorang wanita tua di jalan pun bisa melakukannya. Kita hanya benar-benar bisa disebut investor jika mampu membuat keuntungan saat pasar saham sedang bermasalah.” (Izin menambahkan, Jack, “Atau minimal mampu bertahan dengan kepala dan hati tetap tenang, menunggu badai berlalu.”) Si Kutu Buku kembali melintas, “Kita mungkin menderita hari ini dan besok, tapi lusa akan menjadi hari yang baik, jadi jangan menyerah hari ini.” (Izin lagi, Jack, “Atau kita bakal kehilangan hari esok dan lusa kita.”)

“Waktu itu saya hampir sempat melewati hari-hari buruk ketika difitnah dan lain-lain, namun karena antusias dari teman-teman di luar kantor tentang cara analisa yang saya bagikan, dan kebahagiaan mereka ketika bercerita pengalaman terjun ke dunia saham, membuat saya merasa bahwa saya tetap ingin terus melihat banyak orang bahagia, dengan tetap melakukan apa yang saya bisa bagikan…”

*) Investasi saham adalah uang logam bersisi dua. Hidup adalah uang logam bersisi dua. Terlalu sering -dan terlalu suka- kita mendengar cerita buruknya saja, seperti memandang sisi wajah hangus terbakarnya Two Face, padahal sisi wajah lainnya adalah seorang Detective Harvey Dent, yang bahkan memenangkan cintanya Maggie, mengalahkan seorang Bruce Wayne.

NH

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.