Mendengar jatuh berulangnya korban “investasi” bodong, adalah sebuah kenyerian. Dan semakin pedih rasanya ketika para petanilah yang menjadi sasaran para penipu itu; bersiap menyambut panen raya, dan dalam sekejap uang yang dinantikan berbulan-bulan, dihasilkan dari kucuran keringat di terik matahari, terbang dibawa kabur begitu saja.

Itu yang mungkin dirasakan empat sekawan -Wawan, Refa, Rian, Nasir- warga Desa Sidorejo, Lampung Selatan. Derita 85% warga menggerakkan mereka. Perlu berbulan-bulan, malam demi malam (kadang hingga subuh) melakukan sosialisasi investasi saham, menghadapi dan mengobati trauma warga yang sebagian besar adalah petani, termasuk dari rumah ke rumah. Hingga lahirlah Desa Nabung Saham, Mei 2018 (baca “Puisi Adalah Bingkisan Terimakasih”).

Itu kisah dulu dan dua tahun lalu, Rian bercerita saat ini sekitar 700 warga desa sudah menjadi investor, dari total 5.000 warga. Rajin menabung saham berkala, dari hasil panen padi dan palawija, bulanan hingga empat bulanan. Seolah tak peduli dengan yang namanya resesi perang-dagang krisis ini itu atau apapun yang sering diumbar para pengaku pakar itu. Kok bisa tenang begitu, Mas? Menabung, dan perjalanan masih panjang. Menabung, dan itu akar kesederhanaan yang bisa dipahami oleh warga. (Nasir mengamini, menambahkan cerita, dan dengan sumringah memperkenalkan Arimi, istrinya yang bulan Agustus ini dipersunting dengan mahar nikah 2.000 lembar saham BRI Syariah.)


Lihatlah negeri Sidorejo, yang lebih dari 10% warganya -para petani itu- adalah investor saham. Negeri Indonesia? 1%. Plus minuslah. Jangan bicara skala populasi, mari bicara empati. Empat sekawan kita tidak berhitung laba rugi, tidak menerima komisi, tidak mengejar prestasi. Empati (“kemampuan untuk merasakan keadaan emosional orang lain, merasa simpatik dan mencoba menyelesaikan masalah… keinginan untuk menolong sesama, mengalami emosi yang serupa dengan emosi orang lain” ~ Wikipedia).

Saya suka istilah mentor saya, Dr. Tito Sulistio, “Negara harus hadir!” Di setiap provinsi -dalam hal investasi dan pasar modal- OJK dan BEI harus hadir, physically. (Kalau saya kepala daerah yang daerahnya tidak “dihadiri”, saya akan sangat tersinggung, kecuali itu adalah sinyal bahwa daerah saya direlakan merdeka.) Atau kalau masih berhitung angka-angka, otoritas harusnya sadar bahwa kebodohan dan tipu-tipuan itu jauh lebih besar biayanya, dibanding sekadar bayar sewa gedung, bayar listrik, dan gaji beberapa gelintir manusia. Rian dan Nasir baru saja mengajarkan kita bagaimana agar setidaknya 10% penduduk Indonesia menjadi investor pasar modal. Datangilah warga, “rumah demi rumah”. Seperti mereka, berempatilah.

NH

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.