KAWAH RATU

Aku terkesima dengan keindahan di depan mata. Kawah Ratu. Kawah dengan aliran deras sungai air hangat berasap, berhias serakan bebatuan berwarna hitam, putih, dan kuning belerang. Dipagari rangkaian pepohonan di sana-sini, yang cabang-cabang batangnya menjulang tinggi tanpa dedaunan. Beratap kabut tebal dan tipis, yang datang dan pergi silih berganti ditiup angin. Lelahku menguap, bersama hujan yang mendadak berhenti; semesta menghentikan momentum, tengah menyodorkanku hadiah, sepotong lukisan alam.

Read More

“Kepada Semesta, Kami Bercerita”

Kami, BliRudi dan aku. Sesekali waktu kami masih ber-contact, atau bertemu, walaupun untuk yang terakhir itu sangatlah jarang. Juga walaupun sebenarnya aku sering terbang ke Bali, minimal sebulan sekali. Tetapi perjalanan dinas tetaplah perjalanan dinas. Pesawat pagi, mengejar meeting reguler bulanan siang hari di Denpasar sekitar 2 hingga 3 jam, lalu bergegas kembali ke bandara -yang lalu lintasnya horror dan unpredictable- untuk terbang kembali ke Jakarta. Kami tidak sempat untuk bertemu, untuk nongkrong ngopi atau ngebir sejenak, atau duduk menunggu matahari tenggelam.

Tetapi mungkin juga memang sudah tidak banyak lagi tersedia cerita. Di buku itu kami berdua sudah cukup bercerita. BliRudi melalui jepretan kameranya, dan aku melalui rangkaian kata demi kata. Perjalanan panjang dan lelah buku “Hope and Freedom” sudah lebih dari “setengah jalan”. Tersisa hanya beberapa ratus buku, yang tersimpan berdebu dua tahun di sudut rumahku, sementara BliRudi masih sangat rajin “menjajakan” buku tentang ODGJ (orang dengan gangguan jiwa) tersebut, sembari menyuarakan “para terpasung dan terbelenggu” yang tidak terperhatikan dan seolah dianggap tak pernah ada.

“Semesta tahu waktu terbaik untuk segalanya.”

Aku berpikir, barangkali kami -dan buku itu- sedang terseok di tengah jalan. Hanya mampu menunggu tumpukan itu menipis perlahan, satu demi satu buku. Yang hasil penjualannya dipakai untuk merawat dan membantu menghidupi para ODGJ. Ya, ODGJ yang sokongan dananya semakin menipis, yang harapan di-manusiawikan-nya semakin menipis, yang batasan hidup dan ajalnya semakin menipis.

Lalu seorang psikolog datang, membeli sisa ratusan buku itu, sekaligus. Bukan warga Bali atau Indonesia -daerah dan negara asal para ODGJ, daerah dan negara yang konon katanya ramah dan dermawan- melainkan seorang dari negeri nun jauh di sana, Belanda. Sebagai bentuk donasinya, dan terutama perhatiannya, untuk menyebarkan kisah nestapa para ODGJ yang tidak banyak berubah, pun hingga saat ini.

“Semesta akan membawamu ke mana-mana.”

Tumpukan buku menghilang, namun tidak dengan kisah sedih bertahun-tahun para ODGJ beserta keluarganya. Dan cerita tidak lantas berakhir. Lembaran baru dibuka. Photo-book “Hope and Freedom” diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, dan dicetak ribuan eksemplar. Yang akan tersebar ke lebih banyak tempat; tidak Bali, tidak Indonesia, namun Belanda, dan Eropa, dan belahan dunia lainnya. Menggapai lebih banyak orang, membuka lebih banyak mata, menggerakkan lebih banyak hati, mengisi lebih banyak ruang, menguak lebih banyak harapan.

“Karena semesta tercipta dari cerita-cerita.”

Read More

KASIH

KASIH

Nyanyian adalah bahasa kasih.

Salwa tertunduk dalam. Bincang-bincang selepas makan malam, “Bagaimana kesannya tadi naik perahu, lalu bermain di pantai dan laut?” Gadis tunanetra usia limabelas tahun itu tidak mampu mengucapkan bahkan untuk sepatah kata pun. Malu, di depan sekitar tiga puluh peserta TunanetraBerwisata, sembilan di antaranya tunanetra, total maupun low vision. Atau mungkin luapan emosi bahagia, setelah tadi sore berenang dan bermain air laut di pantai pasir putih Pulau Semak Daun, Kepulauan Seribu, mengunci rapat-rapat mulutnya.

Tapi tunggu, lihatlah, ketika dia diminta bernyanyi. Salwa spontan berdiri. Dinding keraguan seketika runtuh. Suara adalah sahabat abadinya, dan nyanyian adalah teman terbaiknya. Bernyanyi adalah zona nyamannya, ekspresi eksistensinya, panggung dirinya. Maka pejamkanlah matamu, dengarlah suaranya. Nada-nada bening mengalun, berayun perlahan, tenang bersama riak ombak malam, menembus udara lembab tak berangin, di pinggir laut Pulau Pramuka. Memerdukan telinga, menghujam dada, membasahi mata.

“Mencintaimu
Seumur hidupku
Selamanya
Setia menanti…”

***

Sentuhan adalah jembatan kasih.

Sejak awal, di titik keberangkatan di Marina Ancol, Sabtu pagi 19 Juli 2025, masing-masing tunanetra telah bergandengan dengan pendampingnya, ketika berjalan menaiki kapal. Baru saling mengenal, tetapi sentuhan di tangan, lengan dan bahu pertama telah menyatukan kami semua. Berjalan bergandengan di dermaga dan gang-gang padat pemukiman di pulau, berjalan bergandengan tanpa alas kaki menyusur pantai, berenang dan snorkeling bersama berteman ayunan ombak kecil ke kiri ke kanan, duduk berdampingan di atas pasir halus menikmati debur ombak ramah yang datang dan pergi.

Sentuhan yang sejak awal terus menerus melahirkan kenyamanan dan keceriaan, untuk tunanetra dan pendampingnya. Dua dunia lebur menjadi satu, saling melengkapi dan mengisi. Sentuhan melengkapi tunanetra untuk mampu “melihat” sekelilingnya, dan sebaliknya sentuhan “mengisi” rongga-rongga kosong dalam dada para pendamping. Sentuhan menjelma menjadi jembatan yang menghubungkan dua dunia. Dunia tanpa warna dan dunia penuh warna, dunia kabur dan dunia awas. Hingga akhirnya, besoknya di tempat yang sama, kami semua harus melepaskan gandengan itu, kembali ke dunia kami masing-masing.

***

Alam adalah cerita kasih.

Alam menunjukkan kasihnya. Perjalanan laut diantar kapal dengan gelombang bersahabat. Baik saat menuju Pulau Pramuka, tempat kami bermarkas dan menginap, maupun saat naik kapal kecil, 3 kapal masing-masing sekitar 10 orang per rombongan, menuju Pulau Semak Daun. Matahari siang sama sekali tidak terik dan menyengat ketika kami mulai bermain di pasir, berenang, snorkeling, dan duduk-duduk di pantai, dua jam lebih, hingga sore. Malam cerah berlalu penuh keceriaan, bernyanyi ditemani petikan gitar salah satu peserta tunanetra, Pak Tarub, yang berprofesi sebagai seorang kepala sekolah.

Mendung di Minggu pagi, seperti ramalan cuaca, ternyata tidak sampai hati menumpahkan hujannya. Langit kembali teduh dan cerah. Menemani rombongan menyusuri pulau, melewati rumah-rumah penduduk, menuju taman nasional. Menanam 100 pohon mangrove pada dua lubang di atas pasir gembur berair yang sudah disiapkan. (Berharap 20 tahun lagi 100 pohon itu akan berdiri kokoh.) Mengunjungi bak-bak besar berisi penyu-penyu sisik dewasa yang sedang ditangkar, dan anak-anak penyu yang tengah menunggu waktunya untuk dilepaskan ke lautan. (Berharap 20 tahun lagi penyu-penyu itu -dengan kemampuan navigasinya yang luar biasa, pun setelah menjelajah samudra jauh- akan kembali ke pantai tempat mereka dilahirkan, dan bertelur.) Dan sekali lagi alam menunjukkan kasihnya.

TunanetraBerwisata, 19-20 Juli 2025

Read More

KERETA (d/h KERETA API)

Gak tau sejak kapan gua mencintai kereta.
Karenanya, kalau memungkinkan, sebisa mungkin memungkinkan, gua pilih naik kereta api ini, perjalanan 5 jam 10 menit, dari Stasiun Gambir ke Stasiun Tawang. Atau misalnya, daripada mendarat langsung di airport Berlin, gua lebih memilih mendarat di airport Amsterdam, terus baru naik kereta ke Berlin. Atau lebih memilih naik kereta dari Edinburgh ke London, menikmati 5 jam perjalanan menyusur garis pantai, beserta keindahan landscape dan bangunan-bangunan khas Britania Raya. Atau dari Xining ke Lhasa, kenikmatan pengalaman 24 jam siang-malam-siang di atas badan kereta, dengan “kemewahan” pemandangan yang muncul dan berlalu, berganti-ganti. Entahlah, suka aja.

Read More