FINE SHORT STORIES

“Satu empatpuluhempat ribu, ini dua, sama minuman kaleng ini, jadi semuanya sembilan puluh lima ribu, Bu.” Aku membantu si ibu menghitung belanjaanku, satu pagi, selesai berlari 5K mengitari lapangan tanah liat itu. Kedai kecil si ibu, di seberang lapangan, tersembunyi di samping “toko-mart” yang mencolok. Dua sosok tertidur di lantai, si ibu menunjuk, “Mereka jaga semalam, warung ini buka terus-terusan, malam-malam ada aja yang butuh rokok, kopi, sabun shampo.” Ada kulkas berisi aneka minuman aneka merk di samping kanan luar kedai, sachet-sachet aneka minuman aneka merk tergantung, lemari kaca dengan aneka rokok aneka merk, dua keranjang plastik berisi roti di atas lemari kaca, “yang ini titipan, yang ini beli.” Sorot mata keibuannya, suara lembutnya mengalir perlahan, “Terima kasih…” Ya Bu. “Terima kasih sudah belanja.” Ketulusan. Kesungguhan hati. Bukan sekadar basa-basi. Aku tersenyum, “Terima kasih Bu”, melangkah pergi. Bahagia.

Read More

Ama55ing

“Yang penting, prinsipnya, tidak ngoyo dan tidak neko-neko. Jalani yang harus dan yang diperintahkan untuk dijalani, dan tidak melanggar yang dilarang. Tetangga punya apa, orang lain punya apa, tidak membuat kita terganggu. Ya itu, tidak usah neko-neko, dan tidak usah ngoyo. Nikmati saja.”

Read More

INSOMNIA (3)

Terkadang aku rindu menulis, ada hasrat untuk selalu menulis, “harus” menulis, kebutuhan akan outlet; hanya saja bingung untuk memulai dari mana, dan terutama, apa yang tepatnya hendak ditulis. Kehilangan, tersesat, ruang kosong. Dunia menulis adalah dunia dengan alamnya sendiri. Ide-ide dan kata-kata mengapung dan beterbangan, tersedia dan siap dipetik setiap saat. Easily. Apapun yang ditangkap indera bisa menjadi tulisan, dengan kalimat dan gaya bahasa yang secara mudah -dan mengasikkan- bisa dirangkai dan dijungkirbalikkan, indah. Yang bahkan setelahnya membuat kita -aku sih tepatnya- terheran-heran, “kok bisa ya nulis kayak gitu?”, kadang macam menulis dalam kondisi kesambet, in trance, dan tidak percaya bakal bisa mengulanginya serupa. Sebuah buku berjudul simpel, “First You Write a Sentence.”, menarik perhatianku. Baiklah, aku akan menulis kalimat pertamaku, lantas berharap, “Alakazam, buka pintu!”

Read More