Oktober 2025

Aku telah menempuh 81 kilometer, sejak mulai berlari dari Lapangan Berdikari, Mbay-Nagekeo. Aku telah dipanggang 3 matahari Nusa Tenggara Timur, sejak start pukul 3 kemarin sore. Aku bahkan telah “menyerah” di KM3, mengganti lariku dengan kombinasi berjalan dan berlari, sambil mendaki dan terus mendaki ribuan meter elevasi-gain menuju Bajawa. Aku yang tak mampu melawan beratnya kelopak mata, terkapar 20 menit tengah malam, di atas deretan empat kursi, di ruangan SDK Nageoga-Boawae, KM53. Aku yang masih terus melangkah dengan badan terhuyung dan mata tertutup, tidur tanpa mimpi. Aku yang mengarungi malam panjang menuju subuh, memanggil matahari pagi, menantikan sinar ramahnya mengusir gelap dan hangat lembutnya menggantikan dingin. Aku telah berusaha menjaga agar tetap sadar dan awas, menjaga kondisi dan stamina, menjaga mental dan semangat, menjaga kaki dan kepala, menempuh jarak dan menembus waktu, memasuki “the unknown zone” di depan sana dan di dalam sini, di balik tubuh ini.

Read More

Ultra (Trail) Man

Baru setengah perjalanan, sekitar kilometer 7, aku berhenti melangkah, berusaha menahan erangan sakit. Otot kedua pahaku menarik kencang, kram. Ingin duduk di tanah, hanya saja single-track tidak menyisakan ruang untuk itu, sementara beberapa peserta lain tidak jauh di belakang, terus bergerak maju. Jadilah berdiri, mematung, sambil -pura-pura- menikmati pemandangan, membiarkan peserta lain melewatiku. Bagusnya tidak ada yang bertanya, jadi tidak perlu berbohong.

Read More

Mataharimu dan Matahariku

Kalau di satu sore, di tanggal 24 Oktober 2025, terik matahari membakar aspal dan memanggangmu, yang dalam hitungan menit, keringat membasahi kepala dan kaosmu, membebani langkah-langkah awal kakimu, memaksa tersengal nafasmu dan sesak dadamu, sejak mulai berlari dari lapangan di Mbay-Nagekeo, dan kamu membenci matahari…

Ingatlah,

Kalau di setiap sore, di sepanjang tahun, di usia belasanku, matahari memanggangku, saat berjalan kaki di jalan bebatuan, membawa dua jeriken kosong lima liter, berjalan dua kilometer menuju tempat penampungan air hujan, mengisinya penuh, dan dengan lengan-lengan kecilku membawanya pulang, lalu kembali sekali lagi, aku membenci matahari lebih dari padamu.

Read More

CINCIN

Dua jam yang lalu, sekitar pukul 9:40 pagi, Jumat 25 Juli 2025, mobil yang kami tumpangi baru saja pecah ban kiri belakang. Mobil tak terkendali, menghantam tembok pemisah jalan toll di sisi kanan beberapa kali. Lalu menghantam badan truk besar pengangkut mobil di sisi kiri, yang sedang melaju dalam perjalanan dari Jakarta ke Jawa Timur membawa 6 mobil baru.

Read More