Aku telah menempuh 81 kilometer, sejak mulai berlari dari Lapangan Berdikari, Mbay-Nagekeo. Aku telah dipanggang 3 matahari Nusa Tenggara Timur, sejak start pukul 3 kemarin sore. Aku bahkan telah “menyerah” di KM3, mengganti lariku dengan kombinasi berjalan dan berlari, sambil mendaki dan terus mendaki ribuan meter elevasi-gain menuju Bajawa. Aku yang tak mampu melawan beratnya kelopak mata, terkapar 20 menit tengah malam, di atas deretan empat kursi, di ruangan SDK Nageoga-Boawae, KM53. Aku yang masih terus melangkah dengan badan terhuyung dan mata tertutup, tidur tanpa mimpi. Aku yang mengarungi malam panjang menuju subuh, memanggil matahari pagi, menantikan sinar ramahnya mengusir gelap dan hangat lembutnya menggantikan dingin. Aku telah berusaha menjaga agar tetap sadar dan awas, menjaga kondisi dan stamina, menjaga mental dan semangat, menjaga kaki dan kepala, menempuh jarak dan menembus waktu, memasuki “the unknown zone” di depan sana dan di dalam sini, di balik tubuh ini.
Read More


