Mataharimu dan Matahariku

Kalau di satu sore, di tanggal 24 Oktober 2025, terik matahari membakar aspal dan memanggangmu, yang dalam hitungan menit, keringat membasahi kepala dan kaosmu, membebani langkah-langkah awal kakimu, memaksa tersengal nafasmu dan sesak dadamu, sejak mulai berlari dari lapangan di Mbay-Nagekeo, dan kamu membenci matahari…

Ingatlah,

Kalau di setiap sore, di sepanjang tahun, di usia belasanku, matahari memanggangku, saat berjalan kaki di jalan bebatuan, membawa dua jeriken kosong lima liter, berjalan dua kilometer menuju tempat penampungan air hujan, mengisinya penuh, dan dengan lengan-lengan kecilku membawanya pulang, lalu kembali sekali lagi, aku membenci matahari lebih dari padamu.

Read More

CINCIN

Dua jam yang lalu, sekitar pukul 9:40 pagi, Jumat 25 Juli 2025, mobil yang kami tumpangi baru saja pecah ban kiri belakang. Mobil tak terkendali, menghantam tembok pemisah jalan toll di sisi kanan beberapa kali. Lalu menghantam badan truk besar pengangkut mobil di sisi kiri, yang sedang melaju dalam perjalanan dari Jakarta ke Jawa Timur membawa 6 mobil baru.

Read More

KASIH

KASIH

Nyanyian adalah bahasa kasih.

Salwa tertunduk dalam. Bincang-bincang selepas makan malam, “Bagaimana kesannya tadi naik perahu, lalu bermain di pantai dan laut?” Gadis tunanetra usia limabelas tahun itu tidak mampu mengucapkan bahkan untuk sepatah kata pun. Malu, di depan sekitar tiga puluh peserta TunanetraBerwisata, sembilan di antaranya tunanetra, total maupun low vision. Atau mungkin luapan emosi bahagia, setelah tadi sore berenang dan bermain air laut di pantai pasir putih Pulau Semak Daun, Kepulauan Seribu, mengunci rapat-rapat mulutnya.

Tapi tunggu, lihatlah, ketika dia diminta bernyanyi. Salwa spontan berdiri. Dinding keraguan seketika runtuh. Suara adalah sahabat abadinya, dan nyanyian adalah teman terbaiknya. Bernyanyi adalah zona nyamannya, ekspresi eksistensinya, panggung dirinya. Maka pejamkanlah matamu, dengarlah suaranya. Nada-nada bening mengalun, berayun perlahan, tenang bersama riak ombak malam, menembus udara lembab tak berangin, di pinggir laut Pulau Pramuka. Memerdukan telinga, menghujam dada, membasahi mata.

“Mencintaimu
Seumur hidupku
Selamanya
Setia menanti…”

***

Sentuhan adalah jembatan kasih.

Sejak awal, di titik keberangkatan di Marina Ancol, Sabtu pagi 19 Juli 2025, masing-masing tunanetra telah bergandengan dengan pendampingnya, ketika berjalan menaiki kapal. Baru saling mengenal, tetapi sentuhan di tangan, lengan dan bahu pertama telah menyatukan kami semua. Berjalan bergandengan di dermaga dan gang-gang padat pemukiman di pulau, berjalan bergandengan tanpa alas kaki menyusur pantai, berenang dan snorkeling bersama berteman ayunan ombak kecil ke kiri ke kanan, duduk berdampingan di atas pasir halus menikmati debur ombak ramah yang datang dan pergi.

Sentuhan yang sejak awal terus menerus melahirkan kenyamanan dan keceriaan, untuk tunanetra dan pendampingnya. Dua dunia lebur menjadi satu, saling melengkapi dan mengisi. Sentuhan melengkapi tunanetra untuk mampu “melihat” sekelilingnya, dan sebaliknya sentuhan “mengisi” rongga-rongga kosong dalam dada para pendamping. Sentuhan menjelma menjadi jembatan yang menghubungkan dua dunia. Dunia tanpa warna dan dunia penuh warna, dunia kabur dan dunia awas. Hingga akhirnya, besoknya di tempat yang sama, kami semua harus melepaskan gandengan itu, kembali ke dunia kami masing-masing.

***

Alam adalah cerita kasih.

Alam menunjukkan kasihnya. Perjalanan laut diantar kapal dengan gelombang bersahabat. Baik saat menuju Pulau Pramuka, tempat kami bermarkas dan menginap, maupun saat naik kapal kecil, 3 kapal masing-masing sekitar 10 orang per rombongan, menuju Pulau Semak Daun. Matahari siang sama sekali tidak terik dan menyengat ketika kami mulai bermain di pasir, berenang, snorkeling, dan duduk-duduk di pantai, dua jam lebih, hingga sore. Malam cerah berlalu penuh keceriaan, bernyanyi ditemani petikan gitar salah satu peserta tunanetra, Pak Tarub, yang berprofesi sebagai seorang kepala sekolah.

Mendung di Minggu pagi, seperti ramalan cuaca, ternyata tidak sampai hati menumpahkan hujannya. Langit kembali teduh dan cerah. Menemani rombongan menyusuri pulau, melewati rumah-rumah penduduk, menuju taman nasional. Menanam 100 pohon mangrove pada dua lubang di atas pasir gembur berair yang sudah disiapkan. (Berharap 20 tahun lagi 100 pohon itu akan berdiri kokoh.) Mengunjungi bak-bak besar berisi penyu-penyu sisik dewasa yang sedang ditangkar, dan anak-anak penyu yang tengah menunggu waktunya untuk dilepaskan ke lautan. (Berharap 20 tahun lagi penyu-penyu itu -dengan kemampuan navigasinya yang luar biasa, pun setelah menjelajah samudra jauh- akan kembali ke pantai tempat mereka dilahirkan, dan bertelur.) Dan sekali lagi alam menunjukkan kasihnya.

TunanetraBerwisata, 19-20 Juli 2025

Read More

REMEMBERING GEDE

Tiba-tiba aku seolah disusup sosok berbeda. Entah dari mana datangnya. Mungkin sudah dimulai sejak aku menjajakkan kembali kaki di bibir puncak Gunung Gede, setelah mendaki sekitar empat jam dari Taman Cibodas. Pendakian Gede, untuk kesekian kali, ya aku tidak pernah menghitungnya, rasanya sudah puluhan kali. Argh, aku selalu mencintai Gunung Gede. Selalu. Kawah berasap belerang menganga lebar di bawah jurang yang dalam. Dinding tebing kokoh dan sunyi yang mengelilinginya. Panorama Gunung Pangrango yang menjulang cantik di seberang. Dan terutama, argh, lembah Alun-alun Surya Kencana. Padang edelweisnya. Harum rumputnya. Nyanyian kerikilnya. Tabir kabutnya. Pelukan dinginnya. Langit “milky way”-nya.

Read More