Empat makemak di meja berpayung di sebelah sedang ngobrol.

“Sate Padang enak banget, cuma sayangnya dagingnya kecil-kecil…”
“Ya, beli aja dua porsi…”

Saya tersenyum sendiri. Manis. Dan segar, air kelapa muda yang saya teguk, selepas 10K memutar monumen pagi itu.


Ingatan saya kok mendadak ke percakapan sehari sebelumnya dengan seorang teman.

“Gua cuma receh modalnya, salah gak gua kalau main di trading harian dan di saham-saham uma?”
(uma = unusual market activity, peringatan dari BEI untuk saham-saham yang aktivitasnya tidak normal) (”main”, kamu tahu tidak sukanya saya dengan kata itu)
Terusannya, “Kalau orang yang duitnya banyak, belinya saham apa ya?”
(Lha pinter dia, sebut “beli” bukan “main”, atau orang yang duitnya banyak memang beli, bukan main, saham?)
Akhirnya, “Terus mereka berarti untungnya tipis-tipis ya?”


Katakan saya cukup beruang dan punya 7 (angka Ronaldo) saham ini, berikut naik turunnya selama genap 1 tahun terakhir sampai dengan 14 September 2019:(Disclaimer, Bukan Rekomendasi. Catatan, tulisan ini dibuat sehari setelahnya.)

BBRI 3.070 ke 4.310 naik 40%
ICBP 8.925 ke 11.600 naik 30%
BBCA 23.975 ke 30.150 naik 25%
TLKM 3.590 ke 4.160 naik 16%
UNVR 47.100 ke 46.600 turun 1%
ASII 7.225 ke 6.750 turun 7%
UNTR 32.875 ke 22.775 turun 44%

(Fair kan pilihannya? Hijau kombinasi merah.)

Ratarata naik kirakira 9% per tahun (belum termasuk dividen renyahnya). Tipis? (Jangan bandingkan apel sehat ini dengan bukan apel ya.) Sebenarnya 9% tidak tipis, sama sekali. Baiklah, kalaupun dirasa masih kurang juga, mau untung lebih tebal lagi, ya double-in aja porsi satenya. Persentasenya memang sama, tapi rupiahnya kan beda. (Itukah yang dilakukan oleh orang yang duitnya banyak?)

Tetapi modal saya receh, bagaimana dong?

(Saya naksir tetangga kost sebelah, pengamatan dan penerawangan saya, cocok jadi pasangan hidup saya. Baru naksir, belum bombardir. Lha, masa’ ada cewek gak dikenal lewat depan pagar, dagdag dagdag, terus saya beralih hati? Hina banget gua!)

Kalau uang saya belum cukup untuk beli saham-saham di atas, misalnya, ya saya tunggu sampai cukuplah. Jangan malah mengalihkan perhatian ke yang dagdag dagdag gak jelas tadi dong.

Apakah hanya karena modal kita receh, lalu kita hanya bertransaksi saham receh? Jangan mau merecehkan dan melecehkan diri sendiri atuh.

Berharap kaya dari modal receh? Kenapa tidak? Tetapi berharap kaya dari saham receh? Ayolaahhh.


Astaga, kenapa juga saya jadi menghubungkan daging sate yang kecil-kecil dengan untung saham yang tipis-tipis? Asyem, apa hubungannyaaa?!

NH

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.