Raung gesekan roda-roda baja dan rel MRT terdengar, semakin mendekat. Tidak banyak pengantri di larut malam begini dan juga tidak banyak penumpang yang bergegas keluar gerbong. Fei meletakkan pantatnya, di sebelah bangku untuk disabilitas yang dibiarkan kosong, memandang beberapa orang yang masih lalu lalang di luar gerbong. Seorang perempuan melintas. Fei mengenalinya, perempuan dengan sepasang bola mata yang hitam dominan.
Read MoreKUNJUNGAN KEDUA (2/5)
Tiba-tiba Fei merasakan dadanya mengetuk-ngetuk. Perempuan itu. Perempuan yang sama ketika bulan lalu dia di ruang yang sama pula. Lokasi kejadian mimpi yang berbeda, peristiwa yang berbeda, orang-orang yang berbeda, tetapi perempuan itu hadir di kedua mimpinya. Perempuan dengan sepasang bola mata yang hitam dominan.
Read MoreFEI, SEBUAH PROLOG (1/5)
Seorang perempuan dalam balutan sweater hijau tosca, dengan tulisan “Walk On” di sana, berdiri di belakang sendiri, sedikit menunduk memandang lekat. Mata mereka beradu, dan Fei menangkap bola matanya yang hitam dominan.
Read More
RINDUKAH KAU, RODRIQUEZ?
Piccadilly Garden. Deretan puluhan air mancur di lingkaran bulat tengahnya yang menyembur naik turun dari lantai, yang sebentar kemudian reda tiarap, memberi waktu kepada seorang anak berlari riang melintas, sebelum air memancur kembali. Kepada seorang remaja di kursi rodanya yang tertawa lepas didorong temannya, dalam sorot mata seorang ibu yang menatap lurus, menggenggam tangan anak remajanya yang down syndrome, yang duduk terpana di sebelahnya. Yang memberikan kesempatan kepada para pengunjungnya untuk saling memperhatikan dan memandang dari seberang ke seberang, sebelum dikaburkan kembali oleh semburan air dan waktu.
Read More