Arta Sasmita mengagumi pasar modal, mempercayainya akan mampu mengubah mindset konsumtif seseorang dan menjadi salah satu pilihan masyarakat Lombok Tengah untuk tidak mencangkul sampai mati. Pemuda pintar dan baik hati ini ikhlas bolak balik dari kampusnya di Jakarta pulang kampung saban minggu dan bulan, mengetuk pintu-pintu kantor dinas – yang tidak pernah dibukakan untuknya, plus dilecehkan bahkan diusir. Beruntung, pintu kantor kepala dinas HL Dipta Samad terbuka untuknya. Bahkan dilapangkan sang mantan guru itu hingga ke akses pintu Pak Bupati, untuk dapat merambah ke 11 kecamatan, 10 desa, ribuan masyarakat. Dan 7 Desember 2017, lahirlah Masyarakat Nabung Saham Kabupaten Lombok Tengah. (Catatan mengenai Lombok Tengah; kalau selama ini kita akrab dengan Senggigi dan gili-gilian di Lombok sisi barat, jadwalkan saja satu saat nanti berbaring di atas pasir merica Kuta menunggu sunset, sebelum besoknya menonton balap MotoGP dunia di sirkuit Mandalika.) Namun, seperti api unggun, atau apapun di dunia ini, yang ada kalanya meredup, semangat awal berinvestasi di kabupaten itupun perlahan mengalaminya. Mungkin akibat banyak prioritas lain, ketiadaan sosok, kehilangan semangat.
Read More


