KERETA (d/h KERETA API)

Gak tau sejak kapan gua mencintai kereta.
Karenanya, kalau memungkinkan, sebisa mungkin memungkinkan, gua pilih naik kereta api ini, perjalanan 5 jam 10 menit, dari Stasiun Gambir ke Stasiun Tawang. Atau misalnya, daripada mendarat langsung di airport Berlin, gua lebih memilih mendarat di airport Amsterdam, terus baru naik kereta ke Berlin. Atau lebih memilih naik kereta dari Edinburgh ke London, menikmati 5 jam perjalanan menyusur garis pantai, beserta keindahan landscape dan bangunan-bangunan khas Britania Raya. Atau dari Xining ke Lhasa, kenikmatan pengalaman 24 jam siang-malam-siang di atas badan kereta, dengan “kemewahan” pemandangan yang muncul dan berlalu, berganti-ganti. Entahlah, suka aja.

Read More

Pelari (Trail) Ultra: Penaklukan Surga

In nòreni per ìpe,
in noreni coràh;
tirà mine per ìto,
ne dominà.

”Conquest of Paradise” bergema menembus udara. Lagu yang sejak pukul 4 sore hari sebelumnya sudah terdengar, saat mengantar para pelari 100K Bali Trail Running Ultra 2025 memulai perjalanan maksimal 34 jamnya, masih terus berputar, berulang-ulang. Kolosal, epik, dan megah. Misterius, tanpa makna yang jelas. Keindahan harmoni yang sejatinya mungkin memang tidak butuh kejelasan.

Read More

Surat Terbuka Kepada Bapak Presiden

Bapak Presiden, saham itu bukan judi. Percayakah?

Saham adalah bukti kepemilikan atas sebuah perusahaan. Saat membeli saham, kita menyertakan uang kita untuk digunakan perusahaan (entah saat perusahaan itu baru go-public atau saat sahamnya sudah diperdagangkan dan kita membelinya dari investor lain, sama saja), untuk menggerakkan roda perusahaan, yang pada muaranya turut menggerakkan roda perekonomian negara, seberapa kecil pun peran si perusahaan. Alangkah mulianya para investor saham, tidak peduli seberapa kecilnya dia, mahasiswa-ibu rumah tangga-buruh dan pegawai-pengusaha mikro, telah turut memberikan kontribusi pada semesta perekonomian nasional.

Saham bisa dijudikan? Tentu saja bisa, tidak diragukan lagi. (Seperti banyak hal lainnya di sekitar kita, mudah saja untuk kita judikan; motor di depan kita akan berbelok ke kiri atau ke kanan pun bisa kita judikan). Tetapi layak diyakini, bahwa tidak semuanya atau tidak separuhnya atau bahkan mungkin hanya sebagian kecil saja yang mempertaruhkannya, menjudikannya. Dan yang salah bukan sahamnya (bukan si pengendara motornya), melainkan kita-kita ini yang salah, yang menjadikannya judi. Kita-kita ini yang harus sejak awal diajarkan dan selalu diingatkan, bahwa saham itu bukan judi. Saham adalah harapan kita mendapatkan pembagian keuntungan atau dividen dari modal yang kita tanamkan di perusahaan. Saham adalah harapan kita mendapatkan keuntungan karena nilai perusahaan yang kita miliki dari tahun ke tahun terus meningkat. Saham adalah harapan kita menyiapkan tabungan masa depan dan hari tua agar tidak membebani keluarga, sesama dan negara.

Bapak Presiden, saham itu bukan judi. Percayalah.

Nicky Hogan
CEO emitennews.com
Direktur Bursa Efek Indonesia 2015-2018

Read More

PESIMIS

Saya tuh percaya, setiap saat adalah saat yang terbaik untuk berinvestasi. Kapanpun itu. Mau krisis keuangan kek, mau resesi ekonomi kek, mau pandemi kek, gak peduli. Yakin banget dengan “The best time to invest is when you have money”. Jadinya, saya rajin menimbun saham, menabung saham. Dengan catatan, “have money” tadi. Kalau lagi bokek, ya cari duit -halal- lebih giat dan keras lagi, sambil membayangkan hari tua nan sehat dan bahagia. Begitu selalu, bertahun-tahun.

Tapi itu dulu.
Atau setidaknya sampai sekitar akhir tahun lalu.

Read More