Berapa banyak aku tak kamu Berapa banyak kami tak kita Berapa banyak angkuh tak peduli Berapa banyak senyum tak merekah Berapa banyak tawa tak dilepas Berapa banyak tidur tak gelisah Berapa banyak jaga tak percuma
Read More
KNOW ME BETTER. LIKE ME LESS.
Berapa banyak aku tak kamu Berapa banyak kami tak kita Berapa banyak angkuh tak peduli Berapa banyak senyum tak merekah Berapa banyak tawa tak dilepas Berapa banyak tidur tak gelisah Berapa banyak jaga tak percuma
Read More
Seekor ulat memandang kupukupu yang baru keluar dari kepompong
“Hei, kamu berubah…”
Kupukupu mengamati tubuhnya
Kakikakinya tersisa enam
Kurus, panjang dan pendek
Tidak lagi mampu merayap seperti dulu
Di wajahnya tumbuh semacam belalai Juga antena yang aneh
Di kiri kanan sepanjang dada dan perut
Melekat dua pasang sayap
Dengan banyak warna warni mencolok
Yang tak pernah dilihat sebelumnya
“Kenapa aku menjadi begini?”
Kupukupu memandang ke arah ulat
Mengepakkan sayap-sayap itu
Terbang menjauh bersama tubuh barunya Bersama ketidakmengertiannya
Bersama kesedihannya
Meninggalkan ulat yang berbisik tak terdengar, “Kamu lebih indah sekarang”
Read More
Bagaimana rasanya tidak lari selama itu? Kangen, mudah ditebak. Hari-hari serasa datar, tapi tidak dengan bentuk perut. Sesekali meraba perut, mulai kecubitkah? Takut-takut berdiri di atas timbangan, memicingkan mata mengintip angkanya, cilukbaaa.
Read More
Menyandang status investor, kalah mentereng dibanding menenteng tas kulit biawak keluaran terbaru, kalah mutakhir dibanding menggenggam handphone berkamera tiga, kalah kekinian dibanding menghabiskan waktu berjamjam nongkrong ngopi di cafe happening. Belum lagi dongeng seribu satu malam tiada habis soal risiko, ketidakmenentuan, penantian panjang, dan cerita-cerita tidak sedap lainnya. Salah satunya, cerita rugi. Investasi kok rugi, buat apa.
Read More