Anakku,

Mendaki 620 anak tangga menuju kawah Galunggung, di tengah gerimis tipis dan kepungan kabut terasa menyenangkan. Terkadang sekelebat teringat waktu Aku kuliah dulu, mengisi liburan dengan mendaki gunung bersama teman-teman MEGA, klub pecinta alam kami. Kemarin di tengah gerimis Galunggung, aku ingat pernah sekali waktu, dalam hujan, basah kuyup dengan beban ransel besar di pundak, dingin gemetar, berjalan turun gunung. Melewati jalan sekeliling ladang luas, entah berapa jam sudah, menahan lapar dalam guyuran hujan lebat, kami akhirnya menemukan sebuah rumah, jauh dari mana-mana. Kami hanya ingin berteduh sebentar, istirahat sebentar saja, tetapi ternyata penghuni rumah itu – sepasang bapak ibu setengah baya – menyuguhkan kami teh manis hangat! Dan kehangatan pula yang langsung menjalar ke seluruh tubuh mengigil kami ketika tangan keriput dingin kami menggenggam gelas kaca hangat itu. Kamu bisa bayangkan rasa apa yang ada di dalam dada? (Mungkin di antara kami, setelah pamit, melanjutkan langkah dalam hujan, ada yang bersyukur, karena tidak kelihatan sedang menangis.) Surga punya ruangnya sendiri dan malaikat selalu punya wujudnya sendiri.

Oke, menyambung surat sebelumnya, sampai dimana kita? Musuhmu. Ya, musuhmu dalam hal berinvestasi. Nak, masuklah ke kamarmu, berdirilah di depan cermin. Itulah musuhmu! Kamu!

Sosokmu menjadi begitu sentral dalam hal investasi. Sahabat terbaikmu, sang Waktu, bisa jadi tidak berarti apa-apa ketika Kamu tidak mampu mengendalikan dirimu. Ketika kamu ditaklukkan oleh dirimu sendiri. Bingung ya? Sama…

Memulai langkah pertama investasi tanpa memperhatikan dan mengenali perusahaan apa yang akan menjadi tabungan masa depanmu, itu adalah keteledoran. Tidak ada benih buruk yang dapat tumbuh subur, seberapapun baiknya tanah tempat benih itu disemai, bukan? Tidak Nak, Aku tak bermaksud membuatnya menjadi sulit. Tak akan. Cukup sudah selama ini kita terkucilkan, seolah-olah saham itu complicated dan bukan bagian dari kita. Terlalu banyak hal sederhana yang dibuat ribet. (Kenapa sih bukan yang ribet dibuat gampang, kok malah sebaliknya? *sedih)

“Di langit sana tidak pernah ada lambang timur dan barat, manusia menciptakannya dan lalu percaya itu benar. Manusia menandai ini baik dan itu buruk, suka ini dan tidak suka itu, memilah sana sini, terperangkap sendiri, dan akhirnya menciptakan penderitaan.”

Kalau Kamu bisa membaca neraca rugi laba, tentu saja suatu kelebihan. Kalau tidak, lalu bagaimana? Dunia toh tidak akan kiamat dan cinta semesta be there, stay the same. Perhatikan saja seisi rumah atau berjalan-jalanlah setengah jam saja di komplek rumah, sudah lebih dari cukup untuk memberimu ide. Sederhana. (Terlalu sederhana dan orang-orang yang merumit-rumitkan itu memang terlalu…).

Nak, di pasar saham selalu ada yang namanya Mr Panic. Mereka konsisten banget paniknya. Kadang panik beli, kadang panik jual. Inilah species paling banyak di pasar, tetapi peredarannya cepat sekali, punah dan tumbuh kembali. Datang hanya untuk “menyerahkan” uangnya dan kemudian pergi dengan tangan hampa. Kepanikan adalah musuhmu (sebaliknya kepanikan orang lain adalah keuntunganmu, ehh…). Tidak ada kepanikan yang berakibat positif, yang ada selalu merugikan. Demikian juga di kehidupan sehari-hari. Mengalir saja Nak, hidup itu kan seperti layaknya lari marathon (eh, kapan kita akan lari marathon bersama?). Pun urusan investasi, Waktumu masih begitu panjaaang, terus saja berlari atau kalau terpaksa ya berjalan saja, tapi tak perlu berhenti dan keluar dari arena. Rest if you must, but please don’t quit. Kalau pasar sedang jumpalitan, mainkan saja “Misty” di tuts-tuts pianomu, akhiri dengan permainan gitarmu dan nyanyikan “Untuk Perempuan Yang Sedang Di Pelukan”.

Keserakahan. Mungkin makhluk yang namanya manusia diciptakan dengan setengah kepala berisi syaraf-syaraf serakah. Dari jaman nabi hingga jaman kini, semua tragedi terjadi karena itu. Aku mau bicara singkat saja ah soal satu ini, takut kebablasan. Aku mengagumi dan menyukai prinsip syariah dalam transaksi saham, yang hanya mengizinkan seorang investor membeli saham sebesar uang di rekeningnya. Hanya uang. Tidak ada uang, ya tidak bisa belanja. Tidak ada limit transaksi dari timbunan saham si investor, berapapun besarnya itu. Tidak ada pembiayaan. Gak boleh ngutang. Totally ini mencegahmu dari keserakahan, musuh terbesarmu. Monster terbuasmu.

Nasihat orang tua, katanya tidak baik membicarakan musuh, jadi cukup itu saja. Mbak pramugari sudah melirik terus dari tadi. Ehem, memberi kode handphone harus dimatikan karena segera landing. Sebelum lirikan jadi pelototan, Bye Son, simpan suratku.

Love,

Ayah

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.