“Maaf ya Pak, titiknya salah.”

Dari balik kacamata tebalnya, tidak tampak sorot mata kesal ataupun marah sama sekali.

“Gak papa Mas, silakan ini helmnya. Titik tujuan kita sudah benar ya?”

“Ya Pak.”

Motor melaju perlahan melewati jalan-jalan kecil, berbelok menyusuri jalan inspeksi banjir samping kali yang selalu ramai.

“Saya gak pernah cancel order, Mas, walaupun kadang sering juga dicancel pemesan yang gak sabaran. Tapi saya percaya rejeki gak kemana-mana. Ya sehari-hari cukuplah untuk uang dapur dan sekolah anak.”

Aha, kalau bapak sudah mulai bercerita, saya memberanikan bertanya.

“Memangnya dapat berapa sih Pak, ratarata per hari?”

“Antara tigaratus sampai empatratus ribu, kotor, potong uang bensin sekitar tigapuluhlimaribu. Plus uang makan limabelasribuan. Saya sukanya makanan Padang dibanding warteg, Mas. Makannya pakai tangan tuh beda rasanya, walaupun hanya pakai sayur nangka.”

“Setuju Pak, makan pakai tangan memang lebih enak.”

“Setuju!”, kali ini perutku yang menimpali, maklum belum diisi sejak pagi. Hush!

“Memangnya tinggal dimana, Pak?”

“Pulo Gadung.”

Dada saya sontak tersentak. Dari ujung timur Jakarta sana merambah hingga sisi barat sini. Tampaknya uang bensin yang tigapuluhlimaribu memang digunakan untuk berkeliling ratusan kilometer per hari.

“Saya sudah keluar rumah sejak subuh, ya putar terus se-Jakarta. Tetapi selalu usahakan jam 6 sore sudah di rumah. Waktunya untuk keluarga.”

“Anaknya berapa, Pak?”

“Tiga. Yang paling besar sudah kerja di perusahaan ZYX (Dia menyebut nama sebuah perusahaan besar), yang kedua kuliah di XYZ (Dia menyebut nama sebuah kampus di Jakarta Pusat), dan yang kecil masih SMP.”

“Hebat banget, Pak.”

“Yang penting anakanak saya gak seperti bapaknya, tukang ojek, harus lebih baik.”

“Menjadi tukang ojek juga baik, Pak”, saya berbisik.

***

“Milenial di Negara Maju Makin Miskin dari Orang Tuanya, Kenapa?” Judul berita di Kompas.com kemarin langsung menarik perhatian saya. Memang laporan itu menyebut negara maju, mencakup 36 negara perekonomian terbesar di dunia, entah Indonesia termasuk atau tidak. Katakanlah analisa itu juga berlaku untuk kita, kenapa tidak? Milenial lebih miskin dari orang tuanya, dan itu disebabkan oleh stagnasi pendapatan. Pertumbuhan upah rata-rata hanya sebesar 0,3% per tahun pada 2007-2017, sementara pertengahan 1980 hingga 1990, pertumbuhan bisa mencapai 3 kali lipat. Sementara disebutkan, biaya hidup terus meningkat, terutama ongkos perumahan yang telah tumbuh dua kali lebih cepat dari inflasi. (Inflasi, mengingatkan kepada sesuatu?) Generasi yang lebih muda paling terdampak, merasakan tekanan, khususnya yang berusia 18 hingga 29 tahun, akibat kombinasi kenaikan biaya dan upah rendah itu. Faktor-faktor yang dapat mempersulit mereka untuk melunasi utang dan menabung untuk masa depan.

***

Berita itu membawa ingatan saya kembali ke obrolan Sabtu minggu lalu dengan Pak Gunawan, pengemudi ojek kita. Saya membayangkan, alangkah sedihnya Pak Gunawan yang telah bersusah payah setiap hari dalam terik dan hujan merambah jalan-jalan ramai ibukota dengan segala risikonya, berangkat sebelum matahari terbit dan pulang saat matahari baru tenggelam, menitipkan doa setiap malamnya agar anak-anaknya kelak dapat hidup lebih baik, namun kenyataannya tidak. Mungkin mereka tidak akan jadi tukang ojek seperti ayahnya, pastinya, tetapi adakah jaminan bahwa hidup mereka akan lebih baik? Laporan Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) di atas meragukannya.

Tidakkah itu juga berlaku untuk kita? Pak Gunawan adalah potret ayah kita semua, yang bekerja membanting tulang pagi siang malam, untuk melapangkan jalan bagi hidup kita yang lebih baik. Dan ketika kita gagal mewujudkan usaha dan doa ayah ibu kita, karena kenaifan kita, tidakkah kita berdosa terhadap kedua orang tua kita?

(Di antara berita Kompas.com tersebut, terselip sepotong headline: “Milenial Singapura Ingin Investasi dan Beli Asuransi, Tapi Tak Tahu Caranya”. Saya tidak meng-klik tulisan itu, hanya berpikir alangkah beruntungnya kita, milenial kita, di Indonesia. Dalam hal investasi, telah tersedia ratusan perusahaan sekuritas dan manajer investasi, ratusan galeri saham di seluruh Indonesia, ratusan komunitas investor, begitu banyak akses, dan semangat #yuknabungsaham yang terus bergulir. Ya, alangkah beruntungnya kita, kalau saja kita tidak naif.)

NH

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.